MELANGGAR: Gedung eks pabrik rokok British American Tobacco (BAT) di Jalan Pengapon Semarang yang mulai dibongkar. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MELANGGAR: Gedung eks pabrik rokok British American Tobacco (BAT) di Jalan Pengapon Semarang yang mulai dibongkar. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Aset bangunan kuno yang diduga merupakan Bangunan Cagar Budaya (BCB) di Kota Semarang minim perhatian dari Pemkot Semarang. Hingga kini masih banyak bangunan kuno terbengkalai. Bahkan kondisinya rusak dan memprihatinkan. Salah satunya adalah gedung eks pabrik rokok British American Tobacco (BAT) di Jalan Pengapon Nomor 47 Semarang.  Hal yang memprihatinkan lagi, gedung BAT yang diduga merupakan Bangunan Cagar Budaya tersebut saat ini dibongkar oleh pemilik tanpa sepengetahuan Pemkot Semarang.

Kabid Penataan dan Pemanfaatan Gedung, Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Semarang, Beta Marhendriyanto, mengaku telah menerima informasi mengenai pembongkaran gedung eks pabrik rokok tersebut. Ia tak menampik bahwa pembongkaran gedung kuno itu tidak seizin Pemkot Semarang. “Kami telah mengirim petugas ke lokasi untuk memberikan SP1 (Surat Peringatan 1) untuk menghentikan pekerjaan (pembongkaran),” kata Beta saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (13/5).

Dikatakan, sejauh ini pihaknya belum menerima perizinan dari pihak pemilik gedung. Namun belakangan ini diketahui adanya pembongkaran gedung. “Pembongkaran itu memunculkan SP1 ini. Artinya, dia harus menghentikan pekerjaan dulu,” ujarnya.

Menurut Beta, status gedung tersebut masih proses pengkajian. Sehingga gedung itu belum ditetapkan oleh Wali Kota Semarang sebagai Bangunan Cagar Budaya. “Statusnya masih diduga merupakan Bangunan Cagar Budaya. Prosesnya memang menunggu hasil kajian bersama tim ahli cagar budaya. Tapi saat ini patut diduga sebagai Bangunan Cagar Budaya,” katanya.

Mengenai kepemilikan gedung, Beta juga mengaku tidak tahu gedung tersebut milik siapa. “Yang jelas gedung itu ada yang memiliki. Kalau mau melakukan pembangunan apapun kan harus melakukan perizinan. Kalau ada perizinan, nantinya diketahui bangunan itu digunakan untuk apa? Sejauh ini kami belum tahu,” ujarnya.

Seorang sumber di Kawasan Kota Lama yang enggan disebut namanya mengatakan, gedung tersebut saat ini milik Bentoel Group. Sejak 2005 silam, saham mayoritas PT HM Sampoerna Tbk diakuisisi oleh PT Philip Morris Indonesia senilai USD 5,2 miliar, maka seluruh aset telah berpindah tangan. Salah satunya adalah  eks pabrik rokok British American Tobacco tersebut.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di lokasi, dua backhoe menghancurkan satu demi satu tiang bangunan gedung tersebut. Dua tiang di tengah hancur, lantai tiga bangunan ini pun roboh. Sementara di tengah rumput alang-alang, belasan pekerja sibuk memisahkan kerangka besi dari sisa beton yang hancur. Sejumlah pekerja terlihat memanggul besi-besi tersebut untuk dikumpulkan di satu tempat. Sayangnya, para pekerja tidak memperbolehkan siapapun memasuki kawasan ini.

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Semarang, Tjahjono Rahardjo, menegaskan, Pemkot Semarang memang telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) yang menyatakan bangunan tersebut sebagai cagar budaya. Pembongkaran bangunan itu, dikatakan dia, tentu melanggar ketentuan. Sebab, dilakukan tanpa seizin Pemkot Semarang, dalam hal ini Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Semarang.

”Jika hendak melakukan sesuatu terhadap BCB, harus melalui izin terlebih dahulu. Ini mereka malah melakukan pembongkaran dan mengatakan bangunan ini bukan cagar budaya dengan alasan bangunan ini berada di luar Kota lama. Itu komentar yang sangat tidak tepat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, bangunan ini memenuhi sejumlah kriteria untuk disebut sebagai Bangunan Cagar Budaya. Di antaranya, umur bangunan ini yang sudah mencapai 50 tahun. Bangunan eks pabrik BAT ini juga memiliki nilai sejarah dan nilai arsitektur, sesuai syarat untuk menetapkan bangunan sebagai Bangunan Cagar Budaya. ”Memang untuk kriteria memiliki nilai perjuangan bangsa masih bisa dipertanyakan, namun untuk tiga kriteria itu sudah memenuhi bangunan ini untuk disebut sebagai cagar budaya,” jelasnya.

Untuk menghentikan proses pembongkaran, ia menyebut pemerintah kota, khususnya Dinas Tata Ruang-lah yang memiliki  wewenang. Distaru memiliki tanggung jawab untuk menegur hingga menghentikan pembongkaran bangunan ini sebagai tindak lanjut diterbitkannya SK wali kota tentang bangunan ini. ”Termasuk dalam hal pengawasan dan pemanfaatannya. Itu kan harus izin Dinas Tata Ruang. Bukan hanya bagunan cagar budaya saja, aturannya kita punya rumah biasa ketika ingin mengganti pagar saja harus izin. Apalagi ini bangunan cagar budaya,” jelasnya mencontohkan.

Tjahjono menginginkan agar bangunan eks pabrik BAT ini dapat diselamatkan. Tidak menjadi persoalan ketika nantinya bangunan ini dialihfungsikan seperti yang dilakukan terhadap sejumlah bangunan cagar budaya di Kota Lama. ”Jadi bukan semata-mata membongkar, karena membangun baru tentu bahan-bahan yang digunakan akan lebih banyak daripada bahan yang digunakan kalau merombak,” ujarnya. (amu/sga/aro)