Sistem Evakuasi Warga Lereng Merapi Dievaluasi

7 Objek Wisata Ditutup Sementara

Must Read

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau...

RADARSEMARANG.COM, BOYOLALI – Letusan freatik Gunung Merapi, Jumat (11/5) tak berpengaruh signifikan terhadap warga, khususnya di Kecamatan Selo. Namun, untuk menghindari hal tak diinginkan, aktivitas pendakian dan sejumlah objek wisata di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) ditutup.

Penutupan itu berdasarkan surat edaran dari Balai Taman Nasional Gunung Merapi nomor: SE.250/BTNGM/TU/Ren/05/2018. Objek wisata di dalam kawasan TNGM yakni, Tlogo Muncar dan Tlogo Nirmolo, Kaliurang-Pakem, Panguk-Pluyun, Kalikuning-Cangkringan, Sapuangin – Deles, Kemalang Klaten; Jurang Jero, Srumbung, Magelang serta pendakian dari Sapuangin maupun Selo.

Surat yang ditandatangani Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Ammy Nurwati itu tak menyebutkan batas waktu penutupan objek wisata tersebut. “Kami mendapat surat edaran itu kemarin (Jumat 11/5)),” kata Relawan Jaring Merapi, Mujiyanto, kemarin (12/5).

Menanggapi penutupan tersebut, Akfi Manurung, 22, anggota komunitas pendaki Setapak Canden, Kecamatan Sambi tak kecewa. Sebab, keputusan tersebut dinilai demi keselamatan pendaki.“Saya sebenarnya Sabtu sore (kemarin, Red) mau naik (mendaki Gunung Merapi), tapi, karena masih belum aman, saya putuskan naik Gunung Merbabu,” jelasnya.

Sementara itu, letusan freatik Gunung Merapi sempat menimbulkan kepanikan warga yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) I, yakni Desa Balerante, Desa Tegalmulyo dan Desa Sidorejo. Proses evakuasi dilakukan cukup cepat. Namun, tetap ada evaluasi.

Hasilnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten menilai, sistem evakuasimasih perlu dimatangkan. “Kepanikan warga berhasil sedikit kami redam karena kesiapsiagaan BPBD dan pemerintah desa,” jelas Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten Nur Tjahjono.

Menurutnya, sistem koordinasi masih perlu ditingkatkan. Kesiapsiagaan jadi poin utama yang harus dimiliki warga, relawan dan pemkab. Nah, letusan freatik Gunung Merapi menjadi media pembelajaran bagi seluruh pihak dalam menghadapi bencana yang datangnya tidak bisa diprediksi. Mengingat, sudah delapan tahun Gunung Merapi tidak meletus.

Namun, Nur tetap mengapresiasi sistem evakuasi warga. Terutama konsep Desa Paseduluran dalam upaya penanganan kebencanaan. Desa Paseduluran yakni persaudaraan yang terdiri dari desa yang memiliki ancaman tingkat tinggi letusan Gunung Merapi dengan desa yang dinilai aman. Desa yang dinilai aman inilah lantas disebut sebagai Desa Penyangga.

Untuk diketahui, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kepala BPBD Klaten Nomor 26 Tahun 2015 tentang Desa Paseduluran terdapat 13 Desa Asal serta 20 Desa Penyangga. Seluruh Desa Asal merupakan desa di Kecamatan Kemalang yang termasuk KRB III.

“Seperti contohnya yang terjadi kemarin (Jumat (11/5), warga lereng Merapi dari Desa Sidorejo yang terdiri dari dua balita, enam dewasa dan satu manula langsung ke selter Menden, Desa Menden, Kecamatan Kebonarum. Warga Desa Menden pun langsung ke selter untuk menyiapkan segala keperluannya (pengungsi, Red),” jelasnya.

Dirinya berharap, upaya penanganan dari letusan Gunung Merapi dengan konsep Desa Paseduluran bisa diintensifkan lagi. Sebab, bisa menjadi garda terdepan dalam upaya penyelamatan sebelum relawan dan tim BPBD Klaten tiba di lokasi penanganan.

Sementara itu, Camat Kemalang Kusdiyono menginformasikan jika situasi di seluruh wilayah Kecamatan Kemalang berangsur-angsur normal sejak Jumat siang (11/5). Meski begitu, pihaknya telah membentuk tim tingkat kecamatan jika sewaktu-waktu Gunung Merapi kembali meletus.

“Sudah kami bagi dalam bentuk tim untuk melakukan koordinasi di desa yang masuk KRB I seperti Desa Balerante, Sidorejo dan Tegalmulyo. Termasuk persiapan armada yang akan digunakan untuk mengevakuasi warga juga telah kita koordinasikan,” ucapnya.

Ditambahkan Kusdiyono, konsep Desa Paseduluran menjadi penanganan darurat yang efektif. Karena desa penerima pengungsi dapat mempersiapkan fasilitas umum guna menampung pengungsi dari Kecamatan Kemalang. (wid/ren/wa/bas)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest News

Virus Bersih

Semua operator cruise tahu: musuh utama bisnis mereka adalah virus atau bakteri. Karena itu aturan kebersihan di sebuah perjalanan cruise luar biasa ketatnya. Bagi yang...

Kenalkan A31 di Indonesia, Bawa Keunggulan Macro Lens Triple Camera dan Layar Waterdrop 6.5 Inci

RADARSEMARANG.COM, JAKARTA – Kemarin (13/2), OPPO akan mulai menjual perangkat barunya, A31. Perangkat terbaru pada lini seri A ini hadir dengan keunggulan internal memori...

Mengejar SARS

Yang sembuh dan yang meninggal terus bertambah. Berkejaran. Orang pun mulai membanding-bandingkan: mengerikan mana. Virus Wuhan sekarang ini atau SARS 18 tahun lalu. SARS: yang...

Wajah Baru Warnai Ofisial Tim PSIS

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – PSIS Semarang resmi memperkenalkan ofisial tim musim depan. Terdapat beberapa nama baru yang akan bahu-membahu membantu pelatih Dragan Djukanovic mengarsiteki Mahesa Jenar...

Lomba Cepat

Berita buruknya: korban virus Wuhan bertambah terus. Sampai kemarin sudah 106 yang meninggal. Hampir semuanya di Kota Wuhan --ibu kota Provinsi Hubei.Berita baiknya: yang...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -