Pantau Perkembangan Bayi dalam Inkubator Lewat Smartphone

Mahasiswa Stikes Widya Husada Ciptakan Apilkasi Smart Inkubator Baby

106
INOVATIF : Tiga mahasiswa Stikes Widya Husada DIII Jurusan Elektro Medik, yakni Diah Oetari, Ido Christian Aghaprana, dan Farkhan Tony Saputra, bersama Basuki Rahmat selaku dosen pembimbing, meraih juara favorit dalam kompetisi elektromedik. (Ist)
INOVATIF : Tiga mahasiswa Stikes Widya Husada DIII Jurusan Elektro Medik, yakni Diah Oetari, Ido Christian Aghaprana, dan Farkhan Tony Saputra, bersama Basuki Rahmat selaku dosen pembimbing, meraih juara favorit dalam kompetisi elektromedik. (Ist)

RADARSEMARANG.COM – Tiga mahasiswa dari sekolah tinggi ilmu kesehatan (Stikes) Widya Husada (WH) Semarang, berhasil menciptakan sebuah alat yang bisa memantau keadaan bayi dalam inkubator secara jarak jauh dan real time hanya dengan menggunakan smartphone dan aplikasi Smart Inkubator Baby. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih dimanfaatkan tiga mahasiswa Stikes Widya Husada untuk memantau perkembangan bayi. Bila sebelumnya inkubator bayi harus diawasi selama 24 jam, di tangan tiga mahasiswa Stikes Widya Husada yakni Diah Oetari, Ido Christian Aghaprana, dan Farkhan Tony Saputra, pengawasan dan pemantauan bisa dilakukan dari jauh,  melalui aplikasi Smart Inkubator Baby yang mereka ciptakan.

Aplikasi buatan mahasiswa DIII Jurusan Elektro Medik, ini memudahkan dokter atau tenaga medis untuk mengetahui perkembangan bayi dalam inkubator di mana pun dan kapan pun.

“Aplikasi ini bisa diunduh dan di instal melalui android. Selain itu ada alat berupa sinyal dan sistem kontrol yang harus masuk ke jaringan internet. Rangkaiannya menggunakan micro controller yang dipasang dalam inkubator, sehingga bisa lansung terkoneksi dengan smartphone,” kata Diah Oetari.

Ia mengaku, alat tersebut kali pertama dipamerkan dalam kompetisi elektromedik tingkat nasional yang diselenggarakan Politeknik Kemenkes Surabaya dengan tema On Invasive Technology Medical Equipment atau teknologi yang tidak dimasukkan dalam tubuh, belum lama ini. Ajang tersebut tingkat nasional yang diikuti 75 perguruan tinggi di Indonesia.

“Tujuan kami membuat alat ini untuk memudahkan tenaga medis mengetahui keadaan bayi dalam inkubator secara real time dan mudah. Apalagi di lapangan sering terjadi kesulitan komunikasi antara perawat dan dokter,” ucapnya.

Dalam aplikasi tersebut, akan menampilkan kadar oksigen dalam inkubator, suhu, kelembaban dan sebagainya. Sementara ini aplikasi tersebut masih berbasis web yang harus di install. Namun aplikasi ini hanya diperbolehkan digunakan untuk tenaga medis. Bukan orang umum. “Saat ini masih kami upload di situs kampus. Memang fokusnya adalah pada pengembangan dan inovas. Ini belum diproduksi secara masal,” paparnya.

Untuk membuat aplikasi tersebut, dibutuhkan waktu selama 3 bulan. Ketiganya sempat mengalami kendala dan harus melalui tahapan trial and error. Salah satunya adalah membuat software khusus untuk mensingkronkan dan menyalurkan segala jenis informasi dalam inkubator agar bisa diakses melalui smartphone. “Kendala lainnya adalah jika jaringan internetnya nggak bagus. Akan sulit atau lemot. Namun kami akan terus memperbaiki aplikasi ini agar lebih sempurna lagi,” tambah Farkhan Tony Saputra.

Sementara itu, Basuki Rahmat selaku dosen pembimbing mejelaskan jika temuan yang dikembangkan oleh mahaisiswanya tersebut berhasil menyabet penghargaan juara favorit di ajang tersebut.

Kriteria penilainnya adalah dari segi inovasi dan segi kemanfaatan untuk dunia kesehatan. “Ribetnya adalah alat inkubator yang ada di Rumah Sakit dan kampus masih berukuran besar, di sini penyingkronannya susah jadi harus sabar karena harus memasang software dalam inkubator tersebut,” terangnya.

Pihak kampus sendiri mendukung agar alat tersebut bisa dikembangkan, disempurnakan dan harus dipatenkan sebelum dibuat secara masal. Kekurangan dari alat ini saat ini adalah belum semua informasi yang ada bisa termuat atau diakses dari android. “Kami juga ingin membuat inkubator ini sebagai alat untuk terapi bayi dan lebih mobile, sehingga bisa dibawa kemana-mana,” pungkasnya. (*/zal)