Menikmati Sunset di Pulau Blekok

347
ASRI: Warga Pulau Blekok Fauzan melintasi jalan berlorong yang membelah pulau tersebut. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ASRI: Warga Pulau Blekok Fauzan melintasi jalan berlorong yang membelah pulau tersebut. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – BERWISATA ke Pulau Blekok, Desa Morosari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak cukup menarik. Pulau ini terletak sekitar 4 kilometer arah utara dari jalur Pantura Sayung, Demak. Pulau seluas sekitar 1,5 hektare ini posisinya tepat di sebelah timur Pantai Morosari.

Dikatakan sebagai Pulau Blekok lantaran di pulau  tersebut banyak burung blekok atau kuntul. Bahkan, pulau yang dulunya adalah perkampungan warga tersebut kini merupakan markas besar burung blekok. Di pulau itu pula, burung-burung berwarna putih dengan leher panjang yang memiliki nama latin (Ardeola speciosa) itu beranak pinak.

Kini, populasi burung sawah yang gemar bermigrasi ini tercatat ada sekitar 100 ribu ekor lebih. Mereka hidup di pepohonan bakau yang tumbuh  menghijau. Di pohon yang memiliki akar kuat dan biasa tumbuh di tepi pantai itulah, burung blekok membangun kerajaannya.

Untuk menuju ke Pulau Blekok ini, pengunjung bisa memilih dua jalur alternatif. Pertama melalui jalur laut dengan cara naik perahu nelayan dari Pantai Morosari. Atau, menggunakan sepeda motor melalui Desa Bedono.

Setelah itu, berjalan sekitar 1 kilometer menapaki jalan setapak bebatuan yang sebagiannya telah rusak dihantam abrasi. Dengan berjalan kaki itu, pengunjung dapat merasakan nikmatnya plesiran di daerah pantai yang ditumbuhi hutan bakau.

Dalam sejarahnya, Pulau Blekok dulunya adalah masuk Dusun Tambaksari, Desa Bedono. Wisatawan tak hanya menikmati pesona hutan mangrove yang kini banyak dihuni burung blekok tersebut. Namun, pengunjung juga bisa menikmati pesona matahari tenggelam (sunset) di kawasan Pantai Morosari.

Saat malam tiba, anda juga dapat menikmati indahnya gemerlap lampu dari sudut-sudut lampu mercusuar Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, lampu nelayan yang sedang melaut dan lampu malam Kota Semarang.  Dua tempat wisata yang berbeda yakni Pulau Blekok dan Morosari  itu memang dipisahkan lautan.

Habib, salah seorang warga menuturkan, burung blekok mulai muncul di Dusun Tambaksari sejak 2000 lalu. Tepatnya setelah pohon mbrayu (bakau) tumbuh lebat. Tidak diketahui secara pasti migrasi darimana asal burung-burung blekok itu. “Pada 2008 lalu ada penelitian dari seorang ilmuwan. Yang bersangkutan dalam jangka 1,5 jam mencoba mencatat burung-burung yang beterbangan itu. Saat itu, yang sempat dicatat ada sekitar 30 ribuan ekor. Sebab, dalam satu rombongan burung yang terbang diatas bakau tercatat ada sekitar 200 ekor lebih,”katanya.

Selain tidak boleh ditembak, burung-burung itu tidak boleh diganggu habitatnya. Misalnya saja, tidak boleh dicuri telur-telurnya serta tidak boleh merusak sarang-sarang burung yang banyak terdapat di atas pohon bakau tersebut. Bagi pengunjung yang nekat menembak atau mencuri lalu ketahuan, maka pelaku akan didenda. Dendanya cukup besar minimal Rp 100 ribu per ekor.

Di Pulau Blekok juga terdapat satu tempat ibadah, yakni Masjid Al Izzah. Masjid ini dulunya dibuat dari bahan kayu yang didirikan Waliyullah Abdullah Mudzakir. Pengunjung juga bisa sekaligus  berziarah di Makam Syech Abdullah Mudzakir. Makam keramat ini terletak hanya sekitar 20 meter arah utara Pulau Blekok.

Untuk menuju makam ini, para peziarah dapat melalui jembatan kecil dari anyaman bambu dan kayu yang membentang dan dihubungkan langsung dengan Pulau Blekok.   Lantas, disiapakah Syech Mudzakir yang berjuluk Waliyullah itu? Berdasarkan cerita rakyat setempat, Syech Abdullah Mudzakir adalah seorang pejuang kemerdekaan dizamannya. Ia hidup antara 1.900 hingga 1960-an. Ia berasal dari Kampung Wringinjajar, Kecamatan Mranggen kemudian menetap dan menumbuhkan ajaran Islam di pesisir Pantai Sayung itu.

“Dulu, ceritanya, Syech Mudzakir pernah dikejar-kejar Belanda. Ia sulit ditemukan lantaran dipercaya memiliki kemampuan berlebih (menghilang). Kalau mau ditembak pun, pistol Belanda tak bisa menyalak atau meletus,” ujar  Na’aim Anwar, warga setempat.

Na’im yang sejak kecil tinggal di Morosari Sayung itu menuturkan, kemampuan serupa juga dimiliki Kiai Tohir, teman sejawat Syech Mudzakir. “Saat ada orang Belanda minta minum air kelapa, pohon kelapa itu langsung merunduk. Orang Belanda pun terkejut dengan kemampuan beliau. Saat itulah, orang Belanda itu ketakutan,” ujarnya.

Seperti diketahui, makam dengan luas 250 meter persegi itu kini dikepung air laut. Sebelumnya bangunan makam masih menyatu dengan Pulau Blekok, Dusun Tambaksari. Namun, akibat abrasi yang berlangsung bertahun-tahun, bangunana makam terpisahkan dengan pulau tersebut. (hib/bas)