SELALU MENDUKUNG: Hersteyo Pramono mendukung istrinya, Septiana Willyanti untuk mengabdikan dirinya menjadi dokter kaum dhuafa. (ISTIMEWA)
SELALU MENDUKUNG: Hersteyo Pramono mendukung istrinya, Septiana Willyanti untuk mengabdikan dirinya menjadi dokter kaum dhuafa. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – MEMILIKI istri seorang dokter spesialis rehabilitasi medik, bagi Hersteyo Pramono adalah anugerah. Apalagi istrinya, Septiana Willyanti bukan dokter sembarangan. Jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya 1991 ini, lebih suka mengabdikan dirinya menjadi dokter kaum dhuafa yang tak mengharap bayaran.

Perempuan yang dia nikahi tahun 1998 ini, menolak menjadi dokter di perusahaan ternama dan menolak jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tapi lebih memilih menjadi dokter di Klinik Dhuafa di wilayah pinggiran di Jakarta, demi melayani masyarakat bawah di Kampung Sawah Bekasi Selatan ini. Bayarnya hanya Rp 5.000 untuk pengganti biaya obat saja. “Istri tetap kerja, hanya karena ingin mengamalkan ilmu saja. Waktu selebihnya, digunakan untuk mengurus anak dan keluarga,” tuturnya.

Sang istri tak merasa takut miskin. Ada konsep yang terpatri, Tementonemu (kala kita bersungguh-sungguh, akan ada saja rejeki). Atau dalam bahsa Arab,  man jada wa jada. “Rejeki dari Yang Maha Kuasa, akan selalu ada,” tandasnya. (idanorlayla)