Merapi Erupsi, Siswa Dipulangkan

447
LETUSAN FREATIK: Suasana Gunung Merapi saat Mengeluarkan Asap, Jumat (11/5) pagi. (AHSAN FAUZI/RADAR KEDU)
LETUSAN FREATIK: Suasana Gunung Merapi saat Mengeluarkan Asap, Jumat (11/5) pagi. (AHSAN FAUZI/RADAR KEDU)

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Warga Dusun Babadan Desa Paten Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang yang berada di lereng Gunung Merapi berteriak histeris, berlari dan kumpul di satu titik ketika mendengar suara gemuruh erupsi Gunung Merapi, Jumat (11/5) pagi sekitar pukul 7.40. Mereka was-was, panik dan khawatir, tragedi Gunung Merapi meletus tahun 2010 terulang kembali.

“Tiba-tiba ada suara jeder, gludug-gludug dan asap dari gunung tampak mengepul persis seperti tragedi tahun 2010 silam. Saya sedang beraktivitas di ladang bersama teman-teman langsung lari pulang ke rumah dan berkumpul di halaman, warga yang sedang di dalam rumah juga keluar rumah semua, kita berkumpul di satu titik,” ucap Nur Yami, 60, warga Dusun Badan, Desa Paten Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang.

Nur Yami menuturkan, ratusan warga berkumpul, berjaga-jaga, jika kondisi membahayakan langsung turun atau mengungsi ke daerah bawah yang jauh dari Gunung Merapi. “Setelah kita menunggu sekitar 1 jam, asap mulai reda (menghilang) dan tidak ada tanda-tanda yang membahayakan, warga langsung kembali beraktivitas seperti sedia kala,” ucapnya.

Pelaksana Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Chandra Wahyu, mengatakan, letusan freatik Gunung Merapi terjadi pagi tadi sekitar pukul 07.40. “Pada pukul 07.30, aktifitas Gunung Merapi masih normal, namun pada pukul 07.40 terjadi peningkatan dan terdengar suara gemuruh yang diikuti oleh letusan, jeda waktunya hanya sekitar 20 menit,” ucap Chandra di Pos Pengamatan Gunung Merapi Bababdan, kemarin.

Chandra menjelaskan, berdasarkan pengamatan Pos Babadan sendiri, kepulan asap di perkirakan mencapai 3500 meter secara vertikal. Namun demikian, bisa saja dari pos pengamatan yang lainnya kepulan asap lebih tinggi, sedangkan rilis dari kantor pusat (Balai Penyelidikan Dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta) menunjukan kepulan asap setinggi 5000 Meter.

“Fenomena ini, bukanlah aktivitas Magmatic melainkan keluarnya gas dari dalam, yang sering disebut dengan letusan freatik.  Jadi, yang keluar bukan berupa magma, namun hanya berupa gas dan sekali terus selesai,”  terang Chandra.

“Apabila Gunung Merapi akan meletus, maka pasti dapat terlihat tanda-tandanya, salah satunya yang paling gampang kami amati adalah Gunung Merapi tersebut ukurannya akan membesar dan pucuknya pun agak sedikit miring, hal itu dikarenakan adanya dorongan magma yang berasal dari dalam” sambungnya.

Akibat peristiwa tersebut, aktivitas kegiatan belajar mengajar sekolah di wilayah Dukun, Srumbung dan Salam sementara dihentikan. “Begitu ada kejadian tadi, siswa PAUD, SD, SMP dan SMA di Wilayah Dukun dan sekitranya kita pulangkan,” ucap Kabid Dikdas Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kabupaten Magelang, Muslih

Ketua PGRI Kabupaten Magelang itu menambahkan, langkah itu ditempuh pihaknya, sebagai antisipasi jika terjadi ada apa-apa pada siswa. “Belajar mengajar kan tidak hanya hari ini saja, nanti bisa diganti dihari lain atau tambahan les. Jika tetap kita lanjutkan aktivitas belajar mengajar, namun ada sesuatu, kita (penyelenggara pendidikan, red) yang disalahkan,” pungkasnya.

Sementara meski sedang nonaktif karena cuti kampanye pilkada, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tetap memantau dan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng terkait situasi terkini Gunung Merapi.  Ganjar meminta BPBD di sekitar Merapi untuk siaga dan melakukan tindakan awal penanggulangan bencana.

“Saya sempat komunikasi ke BPBD dan Sekda (Jateng), kami minta harus siaga penuh. Agar kalau terjadi hal tidak kita inginkan, warga sudah aman. Kita yang di Jateng standby, mudah-mudahan arah angin ke atas saja,” katanya, Jumat (11/5)

Ia juga mendapat informasi bahwa sejumlah warga sudah dievakuasi. Ganjar berharap situasi tidak memburuk. “Warga radius 5 kilometer sudah di evakuasi tapi itu yang di Sleman ya, kita yang di Jateng sudah standby mudah-mudahan arah angin ke atas sehingga tidak menyebar kemana mana,” katanya.

Ganjar meminta para pendaki yang masih ada di sekitar Merapi khususnya Pasar Bubrah segera dijemput. Biasanya, kata Ganjar, para pendaki sudah mendapat briefing dari pos pendakian sehingga tahu harus segera turun bila mengetahui kondisi gunung mendadak berbahaya. “Apalagi kalau dia (pendaki) berada di Pasar Bubrah, ini kan kondisinya berarti ke arah selatan timur ya, ke arah Jogja. Semoga bisa segera turun ke arah Selo,” imbuhnya. (san/amh/bas)