Rohis Sebagai Wadah Pengembangan Sikap

275
Oleh: Nurjati, S.Ag., M.Pd.I
Oleh: Nurjati, S.Ag., M.Pd.I

RADARSEMARANG.COM – KEBERADAAN Rohis, Rohani Islam, di sekolah kurang mendapat perhatian, baik dari sekolah maupun guru sebagai agen of change yang mengantarkan peserta didik-siswi menuju implementasi pengamalan agama yang sempurna.

Rohis sebagai wadah dan organisasi peserta didik di sekolah, memberikan ruang untuk pengembangan pengetahuan agama Islam di sekolah. Sebagai organisasi di sekolah, Rohis sudah selayaknya mendapatkan perhatian dan dorongan untuk dikembangkan, mengingat jumlah jam pelajaran yang relatif sedikit, hanya 3 jam per minggu. Peserta didik lebih terfokus pada pengembangan kemampuan kognitif dan minim dalam pembentukan sikap (afektif), pembiasaan dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan (psikomotor).

Padahal, sesuai tuntutan kurikulum pada Kompetensi Inti yang pertama (KI 1) adalah menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Peserta didik tidak hanya mampu menghapal tentang syarat dan rukun dalam hal ibadah agama. Tetapi juga mampu mengimplementasikan serta mengamalkan ibadah. Agama tidak hanya diserap sebagai ilmu pengetahuan. Tetapi juga harus diaplikasikan.

Karena itu, untuk mengembangkan nilai-nilai keagamaan, perlu wadah yang dapat mengembangkan nilai-nilai religius di luar jam pelajaran, sekaligus untuk memupuk pengembangan pengalaman dan pengamalan agama Islam. Maka, wadah yang tepat adalah Rohis yang dikoordinasi oleh OSIS, di bawah naungan Waka Kesiswaan dan dibina oleh guru PAI.

Adapun alternatif kegiatan yang laksanakan adalah pertama, Latihan Dasar Kepemimpinan ( LDK) . Kedua, pesantren kilat pada bulan Ramadhan. Pelaksanaan pesantren kilat dilaksanakan sesuai jadwal per program studi dan per kelas. Tujuannya, agar memudahkan dalam absensi peserta didik. Pematerinya guru PAI selaku pembina Rohis. Sedangkan pemateri dari luar, di antaranya, bekerja sama dengan pondok pesantren atau lembaga pendidikan keagamaan lainnya. Harapan pelaksanaan pesantren kilat, adanya penanaman nilai moral, keimanan, ketakwaan, serta akhlakul karimah.

Penerapan disiplin kebersamaan dan mengembangkan kreativitas, diarahkan pada kemandirian peserta didik. Juga mengembangkan solidaritas sosial dan kesetiakawanan sosial. Ketiga, pengajian rutin yang dilakukan dalam bentuk mingguan, bulanan, dan pengajian umum. Keempat, Baca Tulis Alquran (BTA).

Banyak sekali alternatif kegiatan Rohis yang dapat dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah. Terpenting, selalu dilakukan pembinaan dan pendampingan oleh pembina atau guru yang berkompeten di bidang pembelajaran agama Islam di sekolah. Sebab, peran pembina sangat urgen dalam rangka mengantarkan siswa-siswinya untuk meningkatkan sikap kebersamaan.

Peranan pembina akan terwujud jika dapat mengintegrasikan dan menyerasikan semua aktivitas peserta didik di sekolah dengan cara meningkatkan nilai-nilai ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Juga meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara, cinta tanah air, serta meningkatkan kepribadian dan budi pekerti luhur.

Karena itu, pembina Rohis hendaknya merupakan pribadi-pribadi yang memiliki kedalaman wawasan, ilmu, dihiasi dengan tingkah laku akhlak mulia yang patut menjadi panutan. Kepada pemangku kepentingan pendidikan, diminta untuk selalu memperhatikan dan memberikan ruang guna proses pengembangan kegiatan keagamaan di sekolah sesuai dengan tujuan pendidikan. Yaitu: menciptakan pribadi yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. (*/isk)

Guru PAI SMKN Bansari Temanggung