Inspirasi dari Wastafel Mampet, Klaim Lebih Efisien

Tiga Siswi SMKN 2 Semarang Ciptakan Kompor Berbahan Bakar Air

379
INOVATIF: Niah Inka Safitri (tengah) bersama Adelia Noviani dan Sinar Setya menunjukkan prototype kompor berbahan bakar air. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Niah Inka Safitri (tengah) bersama Adelia Noviani dan Sinar Setya menunjukkan prototype kompor berbahan bakar air. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Tak sengaja melihat orang membersihkan wastafel, Niah Inka Safitri dan timnya dari SMK Negeri 2 Semarang justru menemukan ide menciptakan kompor berbahan bakar air. Tidak tanggung-tanggung hasil karyanya sudah beberapa kali menjuarai kompetisi. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

IDE awalnya muncul ketika percikan api rokok dari orang yang membersihkan wastafel menimbulkan letupan api. Ia kemudian mencari tahu bahan apa yang digunakan untuk membersihkan wastafel tersebut. “Saya tanya ke orang yang membersihkan wastafel itu. Dia pakai soda api,” jelas Niah didampingi kedua rekannya, Adelia Noviani dan Sinar Setya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Niah dan kedua temannya lantas membuat serangkaian percobaan. Hasilnya, ia menemukan bahwa campuran air, soda api, dan aluminium bisa menghasilkan gas hidrogen. Gas inilah yang kemudian diaplikasikan untuk membuat kompor.

Tiga siswi SMKN 2 Semarang ini kemudian berburu perlengkapan untuk menciptakan prototype kompor. Ya, baru prototype, karena kompor buatan mereka masih perlu dikembangkan lebih lanjut. “Kami berburunya di pasar loak. Di Kokrosono. Kami memanfaatkan filter isi ulang air galon untuk tempat mencampur air, sampah alumunium, dan soda api,” ujar siswi jurusan rekayasa perangkat lunak ini sembari mengatakan kompor pertamanya dibuat dengan budget Rp 200 ribu.

“Lewat tawar-menawar juga. Karena kami masih siswa kan tentu ingin dapat harga yang murah,” ujarnya terkekeh.

Ia mengklaim kompor buatannya lebih efisien dibanding penggunaan gas elpiji melon. Sebab, menggunakan air. Satu botol air mineral air ukuran 600 ml, dicampur dua kaleng aluminium (kaleng minuman seperti Fanta dan Sprite) dan 500 gram soda api sudah bisa digunakan untuk menyalakan kompor.

“Dengan dana lebih murah bisa digunakan lebih lama. Apinya tergantung dengan campurannya. Semakin banyak, tekanannya semakin besar, dan apinya juga lebih besar,” jelasnya saat mengikuti kompetisi di kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), belum lama ini.

Kompor buatannya ini, bahkan sempat menjuarai beberapa perlombaan. Sempat ia menjadi juara pertama di kompetisi yang diadakan Udinus Semarang, yakni Crenovation tahun lalu. “Pernah juara pertama di Phapros, kemudian tingkat Kota Semarang juara 3. Ini sedang menunggu pengumuman yang tingkat Jateng,” tandasnya.

Ia berharap, hasil karyanya bersama kedua temannya ini bisa mempermudah ibu rumah tangga, terutama dalam mendapatkan gas alternatif, mengingat bahan bakar gas selama ini terkadang mengalami kelangkaan. “Ini akan terus kami kembangkan. Utamanya kami ingin mengubah desain agar lebih praktis untuk dipasarkan. Kemudian dari keselamatan juga akan kami sempurnakan lagi,” tandasnya.

Mereka senang, karena dalam kompetisi yang diikuti di Udinus itu, hasil karyanya sempat mencuri perhatian putra bungsu Presiden RI, Kaesang Pangarep. Karyanya dinilai bisa membantu pelaku usaha kecil dalam menjalankan bisnisnya. “Cocok untuk bisnis pisang saya juga,” ujarnya. (*/aro)