“Kasusnya murni penipuan, tapi jumlah korban dan kerugiannya luar biasa, dari 14 korban saja kerugian mencapai Rp 4,9 miliar, makanya ini pasti melibatkan orang lebih banyak lagi.”

Kombes Pos Abioso Seno Adjie – Kapolretabes Semarang

RADARSEMARANG.COMSEMARANG – Berkas perkara tiga tersangka kasus dugaan penipuan dengan modus korban dijadikan pegawai negeri sipil (PNS) segera dilimpahkan oleh Penuntut Umum Kejari Kota Semarang ke Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Berkas kasus tersebut baru diterima PU Kejari Kota Semarang dari penyidik Polrestabes Semarang, Selasa (8/5) kemarin.

Tiga tersangka tersebut adalah  Maria Sri Endang Tridadi, 59, warga Sendangmulyo, Tembalang, sebagai tersangka utama.  Selanjutnya, R Herry Sucipto ,59, yang mengaku sebagai pensiunan Polda Jateng, warga Sukabumi, Jabar, dan terakhir  alumnus program studi Matematika Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Windu Purbowo bin Purwadi,30.

“Baru tahap 2 (penyerahan tersangka dan barang bukti) Selasa (8/5) kemarin, tapi akan segera kami limpahkan ke Pengadilan Negeri Semarang. Untuk tersangka Maria dijerat pasal 378 jo 65 KUHP tentang penipuan. Sedangkan Herry dan Windu dijerat pasal 378 jo 65 jo 56,”jelas Kasi Tipidum Kejari Kota Semarang, Bambang Rudi Hartoko, saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (9/5).

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji, meyakini jumlah kaki tangan yang terlibat lebih dari tiga orang. Dikatakannya, kepada penyidik, Maria memang mengaku dikendalikan oleh anaknya yang bernama Wisuda alias Wiwis. Atas kasus itu, pihaknya berharap korban lain segera melapor. Sebab, keterangan dari korban lain akan bermanfaat untuk mengembangkan penyidikan.

Dikatakannya, saat ini baru 14 korban yang melapor dari total 110 korban yang disebut tersangka Maria. “Kasusnya murni penipuan, tapi jumlah korban dan kerugiannya luar biasa, dari 14 korban saja kerugian mencapai Rp 4,9 miliar, makanya ini pasti melibatkan orang lebih banyak lagi,” kata Abioso.

Kuasa hukum Windu, Hermansyah Bakri, mengatakan, penetapan tersangka kepada kliennya kurang tepat, karena kliennya merupakan korban bukan pelaku.

Dijelaskannya, dalam kasus itu, keluarga besar Windu dijanjikan oleh pelaku utama Maria Sri Endang Tridadi bisa masuk dalam CPNS. Totalnya, sebanyak 4 orang. Adapun yang menghubungkan oknum pensiunan Polda Jateng bernama Herry Sucipto.

Diceritakannya, dari keempat korban itu, Endang menyetorkan uang sebesar Rp 1,3 miliar, yang masing-masing setiap orang sekitar Rp 350 juta. Dikatakannya, karena dikenalkan oknum polisi, maka ibunda Windu bernama Yuli Heriyani merasa yakin dan nekat menjual rumah untuk memenuhi uang tersebut.

“Setelah dibayar,  Maria memberikan sebuah Surat Keputusan (SK) kepada Windu, yang menyatakan sudah diterima sebagai CPNS di Kementerian Keuangan, kemudian klien kami kembali diminta Maria untuk menambah uang masing-masing Rp 30 juta, agar bisa ditempatkan didalam kota,”jelasnya.

Kemudian, lanjut Hermansyah, setelah ditunggu-tunggu oleh keluarga kliennya tidak kunjung ada kabarnya, akhirnya keluarga menanyakan ke Maria. Oleh Maria dikatakan, karena sudah menerima SK maka tinggal menunggu penempatan, akhirnya keluarga meminta kembali uangnya, dan Maria hanya memberikan Rp 100 juta. Kemudian dengan dalih menunggu uang sisanya, Maria menawarkan ke Yuli Heriyani (ibu Windu), agar Windu dipekerjakan ditempatnya sembari menunggu penempatan.

“Saat Windu bekerja dirumah Maria,  Windu hanya bertugas sebagai sopir dan mengantarkan antarkan SK CPNS kepada korban-korban lain, yang sudah dijanjikan Maria sendiri. Lambat laun baru terungkap ternyata SK itu bodong,”tandasnya.

Dalam berkas Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di penyidik, Windu mengaku mengenal Maria sejak 2014, yang lebih dahulu dikenalkan Herry Sucipto. Herry sendiri merupakan orangtua murid di SMP Negeri 34 Semarang, di mana ibunya Yuli Heriani bekerja sebagai guru di sekolah tersebut. Ia sendiri mengenal Maria karena Herry menawarkan ke ibunya, bahwa yang bersangkutan bisa memasukkan seseorang sebagai CPNS melalui jalur khusus (tanpa tes) dengan syarat membayar sejumlah uang.

“Saat itu, Herry Sucipto mengaku bekerja sebagai anggota Polda Jateng berpangkat Kompol. Tapi menurut keterangan Maria, Herry sudah pensiun dan tidak tahu setelah pensiun bekerja di mana,”jelasnya.(*/aro)