Pendidikan Keluarga Sebagai Mitra Sekolah

269
Oleh : Desy Hariyani, M.Pd
Oleh : Desy Hariyani, M.Pd

RADARSEMARANG.COM – MENDEKATI akhir tahun pelajaran, peserta didik pada jenjang SLTA, SLTP, SD—bahkan PAUD—akan mengikuti serangkaian kegiatan evaluasi dan penilaian akhir semester. Setelah itu, diakhiri dengan pembagian hasil belajar peserta didik kepada orang tua. Momen ini ditunggu–tunggu oleh seluruh orang tua. Sebab, mereka segera tahu laporan hasil belajar serta perkembangan kondisi perilaku anak selama proses belajar mengajar di sekolah.

Tidak semua orang tua mendapatkan berita yang menyenangkan tentang hasil belajar anak mereka. Sebagian orang tua justru merasa kecewa, karena laporan hasil belajar anak tidak sesuai harapan. Orang tua akan bertambah kecewa, jika wali kelas menambahi laporan lain, terkait kenakalan atau penyimpangan perilaku anak selama di sekolah. Padahal, hasil raport yang kurang baik dan penyimpangan perilaku yang terjadi di lingkungan kelas maupun sekolah, dipengaruhi oleh banyak faktor.

Ini perlu menjadi evaluasi, pihak sekolah dan orang tua peserta didik guna mendapatkan solusi dan hasil yang lebih baik. Salah satu upaya mengatasi masalah tersebut, diperlukan kemitraan yang kuat antara orang tua atau keluarga dan satuan pendidikan. Juga antara keluarga dengan masyarakat, dan antara masyarakat dengan satuan pendidikan. Agar ketiga pusat pendidikan itu (keluarga, masyarakat dan satuan pendidikan) bisa menjadi lingkungan pendidikan yang kondusif bagi ruang belajar anak, maka pada 2015 Kemendikbud membentuk Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD dan Dikmas).

Tujuannya, melaksanakan program pendidikan keluarga. Tepatnya, sebagai wadah pelibatan orang tua dan pihak sekolah untuk bekerja sama dalam mencari solusi permasalahan–permasalahan yang terjadi pada peserta didik. Tidak saatnya lagi, orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak–anak ke sekolah. Sebaliknya, pihak sekolah juga diharapkan dapat memberdayakan orang tua dan keluarga untuk membangun kemitraan dalam rangka menumbuhkan budi pekerti dan membangun budaya prestasi anak.

Bentuk pelibatan keluarga dilakukan secara langsung maupun tidak langsung untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan. Antara lain, pertama, bentuk pelibatan keluarga pada satuan pendidikan, yaitu, menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh sekolah. Pihak sekolah menyosialisasikan program – programnya. Minimal dua kali dalam satu semester. Harapannya, orang tua tahu rencana kegiatan sekolah.

Berikutnya, orang tua mengikuti kelas orang tua /wali. Harapannya, mereka dapat membentuk paguyuban kelas. Paguyuban merupakan wadah para orang tua untuk saling bertemu dalam kurun waktu yang telah disepakati bersama.

Mereka bisa saling berbagi informasi atau pengalaman. Sehingga dapat menjadi fasilitas belajar bersama. Orang tua juga dapat belajar dari pengalaman orang tua lainnya dalam mendidik anak-anaknya.

Komunikasi antara wali kelas dengan orang tua dan antar-orang tua, tidak hanya pada kelas paguyuban. Tapi melalui medsos, WA, dan sebagainya.

Berikutnya, berpartisipasi aktif dalam kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler,dan kegiatan lain untuk pengembangan diri anak. Juga berperan aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Semisal, aktif pada kegiatan pentas akhir tahun, pencegahan pornografi, pornoaksi dan penyalahgunaan narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Berikutnya, memfasilitasi dan atau berperan dalam kegiatan penguatan pendidikan karakter anak di satuan pendidikan.

Kedua, bentuk pelibatan keluarga pada lingkungan keluarga meliputi: A. Menumbukan nilai – nilai karakter anak di lingkungan keluarga, contohnya menanamkan ketaatan dalam beribadah dan menanamkan sikap sopan santun baik dalam tutur kata maupun perbuatan. B. Memotivasi semangat belajar anak. C. Mendorong budaya literasi atau gemar membaca. D. Memfasilitasi kebutuhan belajar anak.

Yang ketiga, bentuk pelibatan keluarga dalam masyarakat yaitu, mencegah peserta didik dari perbuatan yang melanggar peraturan satuan pendidikan atau mengganggu ketertiban umum, dan mencegah terjadinya tindak anarkis atau perkelahian yang melibatkan pelajar. Berikutnya, mencegah terjadinya perbuatan pornografi pornoaksi dan penyalahgunaan nartkotika, psikoterapi dan zat adiktif lainnya yang melibatkan peserta didik.

Dengan adanya pelibatan orang tua dan masyarakat dengan satuan pendidikan, maka diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan orang tua— khususnya yang masih memiliki anak usia sekolah— terhadap peran dan fungsi orang tua (keluarga) dalam mendidik dan mengasuh anak. Sehingga dapat meminimalisasi atau mengurangi penyimpangan – penyimpangan dan kenakalan yang terjadi pada anak – anak mereka. (*/isk)

Guru SMPN 1 Sapuran, Wonosobo.