Hilangkan Adegan Kekerasan, Bikin Nangis Atikoh 3 Kali

Film ‘Anak Negeri,’ Kisahkan Masa Kecil Ganjar Pranowo

300
NONTON BARENG: Calon Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan istri saat ngobrol dengan salah satu penonton film Anak Negeri, kemarin. (kanan)  Produser film, Andika Prabhangkara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NONTON BARENG: Calon Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan istri saat ngobrol dengan salah satu penonton film Anak Negeri, kemarin. (kanan)  Produser film, Andika Prabhangkara. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Kisah masa kecil calon Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dirangkum dalam film berdurasi 70 menit. Meski tidak bisa 100 persen mirip dengan kisah aslinya, setidaknya Andika Prabhangkara, sang produser fim berjudul ‘Anak Negeri’ itu bisa membuat istri Ganjar, Siti Atikoh menangis sampai tiga kali saat menontonnya. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

ANDIKA Prabhangkara mengakui, memang tidak gampang meringkas perjalanan hidup bertahun-tahun, menjadi film dibatasi hitungan jam. Dia pun harus berpikir ekstra keras untuk merangkumnya lewat adegan-adegan. Beberapa adegan pun terpaksa tidak digambarkan layaknya semestinya, karena harus disesuaikan dengan kebutuhan film dan memperhatikan penonton.

Contohnya pada adegan sang ayah memarahi Ganjar kecil karena pulang larut malam gara-gara keasyikan nyari jangkrik bareng teman sekolahnya. Dalam film itu digambarkan, ayahnya hanya menghukum Ganjar dengan tidak mendapatkan uang saku selama seminggu. Ganjar juga harus menyemir sepatu dan membersihkan koper kerja ayahnya.

“Pak Ganjar bilang ayahnya kalau sudah menghajar itu ganas. Tapi tidak mungkin saya gambarkan keganasan yang sesungguhnya. Kesannya bisa kekerasan,” ungkap Direktur MIX Production (MIXPRO) Jogja ini.

Meski banyak yang harus disunting,  pria asli Jogja ini tetap apik menggambarkan perjuangan Ganjar Pranowo. Dia juga memepertahankan ketekunan, pengorbanan dan kedisiplinan. “Prinsipnya, orang tidak punya (miskin) bisa sukses. Kami buat film itu untuk membentuk pendidikan karakter anak bangsa,” katanya.

Dijelaskan alumnus SMA Muhammadiyah 2 Jogja ini, film tersebut tercipta terinspirasi buku novel biografi Anak Negeri yang ditulis Gatotkoco Suroso. “Saya dan Mas Gatot ketemu usai launching buku ‘Anak Negeri’. Lalu kami berdiskusi, akhirnya ada gagasan membuat film itu,” imbuh alumnus AMP YKPN Jogja ini.

Pembuatan film Anak Negeri, lanjut dia, memerlukan waktu 2,5 bulan. Kondisi produksi, diakui Andika, belum maksimal. “Film itu kami buat di Jogja. Kala itu mbarengi 3 film sekaligus di Jogja. Jadi ya belum maksimal,” bebernya.

Penulis buku ‘Anak Negeri’, Gatotkoco Suroso mengaku sangat puas melihat antusias penonton pemutaran film perdana itu. Dia pun berharap buku Anak Negeri menjadi best seller nasional, seperti buku ‘Jokowi si Tukang Kayu’, miliknya.

“Klimaks pada film itu sama seperti dalam buku. Titik saat Mbak Ika meninggal menjadi puncak. Almarhumah merupakan tokoh yang ngopeni Pak Ganjar. Tapi terpaksa tidak bisa melihat kesuksesan sang adik ipar,” jelasnya.

Istri Ganjar, Siti Atikoh yang ikut menonton pemutaran film perdana ‘Anak Negeri’ di E-Plaza Semarang, Rabu (9/5) kemarin, mengaku sempat menangis tiga kali. Atikoh duduk di sebelah Ganjar di dalam Plaza 1. Berulang kali ia nampak mengusap air mata dengan tisu. Mafhum, karakter Atikoh juga turut diperankan dalam film yang diproduksi relawan tersebut.

“Saya kan orangnya cengeng ya gembeng, jadi tadi minimal tiga kali saya nangis,” kata Atikoh, usai menonton.

Atikoh memang sudah menjalin asmara dengan Ganjar sejak kuliah. Praktis, dia menjadi saksi lika-liku hidup Ganjar ketika kuliah yang menjadi aktivis yang suka demo, dan masa awal menjadi kader PDI Perjuangan.

“Ketika adegan pindah dari rumah lama ke rumah baru, kondisinya memang dadakan dan sangat darurat jadi psikologis keluarga Mas Ganjar seperti itu apa benar-benar membuat saya menangis,” ujarnya.

Atikoh kembali haru ketika adegan orang tua Ganjar menggadaikan sertifikat rumah untuk biaya kuliah Ganjar. Utang itu baru bisa lunas ketika Ganjar sudah bekerja. Atikoh juga yang mendampingi Ganjar ketika kakak iparnya yang membiayai sekolahnya meninggal karena sakit kanker.

“Ketika Mbak Ika, kakak Mas Ganjar meninggal, saya seperti diingatkan lagi rasa harunya, teringat ketika lagi kesakitan dan butuh bimbingan dari kita,” kenangnya.

Pelajaran dari film itu, lanjutnya, lebih kepada nilai-nilai dari keluarga Ganjar dalam menghadapi kerasnya hidup. “Keluarga Mas Ganjar itu karena background ekonominya itu kekurangan, maka harus kompak bekerjasama dan bekerja keras agar jadi mandiri. Sejak kecil memang sudah diajari bertanggung jawab, Mas Ganjar nyemir, yang lain nyeterika jadi otomatis keluarga Mas Ganjar anak-anaknya bisa masak, bisa nyeterika dan lain-lain,” paparnya.

Film ‘Anak Negeri’ ini ternyata banyak diminati masyarakat. Terbukti, lebih dari 400 orang rela mengantre untuk menonton film itu. Saking banyaknya penonton, tiga teater di E-Plaza harus dibuka untuk menampung penonton yang penasaran dengan kisah masa kecil Ganjar. (*/aro)