Sistem Ozon, Cabai Bisa Tahan 28  Hari

408

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Sebanyak 40 petani dari 12 gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Desa Sugihmas Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang mengikuti workshop teknologi penekanan kehilangan pascapanen cabai di aula Balai Desa setempat, Selasa (8/5). Workshop tersebut merupakan rangkaian akhir kegiatan Pilot ASEAN Cooperation Project; Reduction of Postharvest Losses for Agricultural Produces and Products (ASEAN PHL-R) di Indonesia oleh Balai Litbang Pertanian (Balitbangtan) RI bersama PT Agro Indo Mandiri (AIM).

Peneliti Utama Balitbangtan S Joni Munarso menuturkan, beberapa kegiatan yang dilakukan di antaranya survey dan penelitian lapangan, eksplorasi teknologi dan implementasi teknologi. “Dari implementasi teknologi yang kita praktikkan dengan Gapoktan di Desa Sugihmas, hasil yang didapat sungguh menggembirakan, karena terbukti bisa menekan atau menurunkan kehilangan pascapanen secara signifikan,” ujar dia, Selasa (8/5).

Teknologi yang diterapkan di antaranya penggunaan bagan warna cabai sebagai panduan panen oleh petani, penggunaan krat sebagai wadah cabai dalam pengankutan ke pengepul atau pengepak, sistem ozon sebagai antimikroba, pengemasan kardus berperforasi dan penggunaan transportasi berpendingin untuk distribusi jarah jauh.

Pada prinsipnya teknologi yang dilakukan ini untuk meningkatkan produktifitas dan hasil panen cabai yang berkualitas. Selain itu, untuk menekan penurunan kehilangan hasil panen. Adapun sistem ozonisasi, supaya cabai lebih segar dan awet. “Sistem ozonisasi kombinasi dengan pendingin bisa bertahan sampai 28 hari hingga tiga bulan, adapun tanpa pendingin bisa tahan sampai dua minggu,” terangnya. (san/ton)