Mengembangkan Kesadaran Karir Siswa SMK

439
OLEH : Hindun Sri Rahmawati SPd
OLEH : Hindun Sri Rahmawati SPd

RADARSEMARANG.COM – KESADARAN karir, atau apa yang diketahui tentang dunia kerja dan jenis-jenis pekerjaan yang mungkin ingin mereka lakukan, adalah dasar untuk eksplorasi karir. Pengetahuan awal tersebut menjadi batu loncatan dalam persiapan karir, pilihan karir, dan pencapaian karir seseorang. Para pakar dalam teori perkembangan karir seperti Ginsburg, Axlrad Ginzberg, dan Herma (1950) mengemukakan bahwa kesadaran karir awal anak-anak berada pada tahap fantasi. Anak-anak memasuki tahap tentatif pada usia 11 tahun, dan ketika mereka mulai menyadari dirinya dalam kaitannya dengan dunia kerja pada usia kurang lebih 18 tahun mereka memasuki tahap realistis pada masa remaja, di mana minat dan pilihannya menjadi semakin mengkristal. Pada usia tersebut pada umumnya mereka telah menyelesaikan pendidikan tingkat atas, seperti SMA,SMK, MA.

Setelah menyelesaikan masa studinya mereka dihadapkan pada persoalan baru dalam fase kehidupannya. Mereka diharapkan dapat menentukan pilihan apa yang akan dilakukan setelah lulus, apakah bekerja atau melanjutkan studi. Pada umumnya lulusan SMA dan MA banyak yang memilih untuk melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, sementara lulusan SMK lebih banyak yang memilih untuk memasuki dunia kerja berbekal ijazah dan keterampilan yang dimiliki. Namun demikian dari tahun ke tahun, minat lulusan SMK untuk melanjutkan pendidikan nampaknya semakin meningkat. Terlebih dengan semakin dibukanya kesempatan mendaftar di berbagai perguruan tinggi melalui berbagai jalur seleksi.

Persoalan terkait dengan pemilihan studi lanjut oleh siswa SMK, muncul manakala sebelumnya mereka tidak memiliki rencana bekerja di mana, atau melanjutkan studi dengan program apa. Adanya keinginan untuk kuliah tanpa persiapan dan tanpa perencanaan cenderung menjadikan mereka asal-asalan memilih perguruan tinggi, atau mengikuti program studi yang dipilih temannya. Belum lagi jika keinginan kuliah tersebut muncul pada waktu menjelang berakhirnya masa pendaftaran dengan alasan baru diperbolehkan orang tua. Persoalan lain muncul dan menjadi dilema manakala siswa mencoba memasuki perguruan tinggi yang berbeda dan, diterima. Pada akhirnya mereka diharuskan kembali untuk menentukan pilihan. Kegalauan dan  kebimbangan kembali muncul manakala mereka dihadapkan pada adanya sanksi yang mungkin diterima secara pribadi atau secara kelembagaan. Belum lagi dengan adanya stigma yang mungkin mereka terima, bahwa anak SMK melanjutkan kuliah dianggap tidak sesuai “fitrah”. Idealnya, lulusan SMK seharusnya bekerja, sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Bisa dipahami bila lulusan SMK merasa di ambang gamang di antara pilihan, bekerja atau kuliah. Walaupun bekerja menjadi pilihan yang lebih dekat dengan mereka, perjalanan waktu dan proses belajar juga berperan dalam dinamika pilihan karirnya. Dalam masa belajar di SMK mereka mengikuti program Prakerin dengan dunia usaha dan dunia industri. Selain menambah wawasan dan keterampilan, kegiatan tersebut juga dapat memberikan pengalaman yang dimaknai secara subjektif bagi masing-masing siswa. Pengalaman subjektif yang dimaksud adalah, vicarious learning yang mereka dapatkan selama proses prakerin sangat mungkin menguatkan tekad sebagian siswa untuk segera bekerja setelah lulus sekolah, atau justru sebaliknya. Jika dari pengalaman yang diperoleh selama proses magang, mereka melihat dan mengamati, para karyawan, pekerja atau teknisi yang bekerja di DU/DI yang hanya lulusan SMK maka pekerjaan mereka cenderung terbatas, berbeda dengan karyawan yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi posisi dan jabatan kerja dan penghasilan lebih menjanjikan. Persepsi inilah yang sangat mungkin merubah arah pilih karir mereka.

Mencermati dinamika pilihan karir tersebut, kiranya perlu dilakukan upaya pengembangan kesadaran karir bagi siswa SMK, khususnya. Diawali dengan pemahaman bahwa awal pendirian SMK pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi jumlah pengangguran dengan meningkatkan keterserapan lulusan di DU/DI,yang artinya studi lanjut bukan sebagai pilihan prioritas. Program pendidikan dan model pembelajaran di sekolah diharapkan dapat berlangsung secara sinkron dan bersinergi dengan kebutuhan dunia industri. Revitalisasi SMK yang tengah digalakkan merupakan salah satu upaya pemerintah untuk memperbesar peluang kerja siswa SMK.

Beberapa cara untuk menciptakan kesadaran karir kaum muda adalah dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang ada di sekitarnya, seperti orang tua dan saudara (keluarga), staf sekolah (guru dan konselor), dan teman-teman. Semestinya mereka tidak perlu ragu untuk masuk ke dunia kerja, mengingat mereka telah dibekali dengan berbagai keterampilan yang diperlukan. Meningkatkan peluang kesuksesan dengan mengembangkan karir positif yang sesuai dengan harapan dan efikasi diri menjadi penting, hal ini mengurangi resiko kejenuhan dalam bekerja. Membentuk identitas kejuruan dengan melibatkan diri dalam berbagai eksplorasi karir. Menyusun perencanaan, menentukan pilihan karir /cita-cita dan berkomitmen untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

Pilihan studi untuk lulusan SMK relatif terbatas pada program studi yang serumpun /linier, hal ini justru akan menguatkan identitas kejuruan yang dimiliki sebelumnya. Hal ini justru menjadi nilai tambah bila ternyata lulusan SMK, dengan skills atau keterampilan yang dimiliki dapat menjadi teknisi yang handal dan diterima di dunia kerja dapat pula berkompetisi secara akademik di perguruan tinggi. Ketika lulusan SMK memilih untuk kuliah bukan berarti mereka salah, dengan harapan pilihan studinya sesuai dengan program keahliannya. Perlu dipahami bahwa ini merupakan proses dalam perjalanan karir mereka, sebagaimana dikatakan seorang oleh ahli di bidang karir bahwa proses perkembangan karir berlangsung sepanjang hayat. (tj3/2/zal)

GURU BK SMK Negeri 7 Semarang