RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pasca dilakukan pembongkaran Pasar Yaik Baru, ternyata lahan tersebut digunakan sebagai wahana permainan pasar malam. Namun keberadaan wahana tersebut mendapatkan pertentangan dari Takmir Masjid Agung Semarang dan Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, sejumlah wahana sudah berdiri khas pasar malam. Sebut saja wahana tong setan, kincir angin, komedi putar, bianglala dan masih banyak lagi. Dikhawatirkan wahana permainan itu akan mengganggu kenyamanan aktivitas kegiatan peribadatan di Masjid Kauman.

“Kami tidak tahu jika eks Pasar Yaik Baru digunakan wahana permainan. Keberadaannya dikhawatirkan mengganggu kegiatan ibadah di masjid dan menyakit para pedagang yang sebelumnya direlokasi,” kata Sekretaris Takmir Masjid Agung Semarang (MAS), Muhaimin.

Ia meminta agar keberadaan pasar malam dan wahana permainan di dekat masjid untuk ditinjau ulang. Pasalnya, wahana permainan yang besar pasti dilengkapi dengan pengeras suara yang akan mengganggu kegiatan di masjid. “Kami tegaskan keberadaan wahana permainan di lokasi itu harus ditinjau ulang,” desaknya.

Tradisi pasar tiban jelang Ramadan, lanjut dia, memang harus dilaksanakan di area sekitar MAS, karena sudah menjadi tradisi dan budaya. Namun ia menekankan, wahana yang ada di bekas Pasar Yaik Baru bukan dari pihak MAS yang melaksanakan. “Setiap tahun selain di bekas Yaik Baru kami yang menyelenggarakan, tapi permainanya terbatas dan tidak menempati Yaik Baru, istilahnya mini dugderan,” imbuhnya.

Selain meminta untuk ditinjau ulang, menurut dia, wahana permainan yang besar harus ditempatkan di satu lokasi, yakni di lokasi area Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Selain lahan lebih luas, di lokasi itu juga bisa menghidupkan area relokasi pedagang eks Pasar Johar yang berjualan. “Kalau di Masjid Agung Semarang, kami mempertahankan budaya  dan tradisi,” ucapnya.

Ketua DPRD Kota Semarang, Surpriyadi, mengaku sangat prihatin dengan adanya wahana permainan yang berdiri di bekas Pasar Yaik Baru yang notabene masih dilakukan renovasi. Ia pun menilai jika kegiatan tersebut tidak pas ditempatkan di lokasi tersebut. “Saya rasa tidak pas, akan mengganggu kekusyukkan ibadah. Bahkan tidak relevan dan representatif, dulu memang ada alun-alun. Tapi kalau dipakai sekarang, sekali lagi tidak pas,” katanya. (den/aro)