Oleh : Tinwati Fathimah, S.Pd.
Oleh : Tinwati Fathimah, S.Pd.

RADARSEMARANG.COM – Belum banyak orang Indonesia yang gemar membaca. Jangankan suka membaca, minat saja masih sangat rendah. Menurut data statistik dari Unesco, Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara. Artinya tingkat literasi Indonesia sangat rendah.

Para peserta didik rajin datang ke perpustakaan tetapi mereka tidak membaca. Mereka hanya sibuk dengan HP android mereka. Mereka tidak tertarik dengan bermacam-macam buku yang ada di perpustakaan. Untuk membudidayakan membaca perlu sebuah gerakan seperti gerakan literasi sekolah yang dipelopori oleh perpustakaan sekolah. Hal ini sesuai dengan Permendikbub Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Salah satu kegiatan wajib yang tertera dalam regulasi itu adalah membaca selama 15 menit buku nonpelajaran setiap hari.

Untuk mengubah kebiasaan peserta didik dari mengoperasikan HP android atau internet di perpustakaan menjadi kegiatan literasi, perpustakaan harus berperan penting dalam menggerakkan kebiasaan peserta didik membaca dan menulis di perpustakaan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Seperti membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai dengan membaca buku nonpelajaran. Perpustakaan dapat menyediakan novel-novel terbaru dan bacaan lain nonsastra sesuai minat dan keinginan peserta didik. Kegiatan ini diharapkan akan menyenangkan peserta didik sehingga mereka akan terbiasa membaca.

Kegiatan lain yang dapat dilakukan  seperti lomba cipta puisi dan poster. Lomba dengan tema ajakan untuk mengunjungi perpustakaan dan membaca buku. Lomba ini dapat diadakan pada bulan Oktober yang diikuti oleh perwakilan dari setiap kelas dalam rangka bulan bahasa. Hasil karya terbaik dapat ditampilkan di etalase perpustakaan dan diberi hadiah.

Selanjutnya perpustakaan mengadakan kuis. Setiap peserta mengambil undian soal dari stoples. Setiap paket soal terdiri dari lima nomor soal. Materi soal diambil dari buku referensi yang ada di perpustakaan. Peserta didik menjawab dengan cara mencari dan membaca buku referensi. Bagi yang dapat menjawab dengan benar akan mendapatkan pin. Pada akhir semester, sejumlah pin dapat ditukarkan dengan hadiah yang lebih besar seperti kaos atau buku novel terbaru.

Di samping itu perpustakaan dapat juga merangking siapa pengunjung yang paling aktif membaca dan meminjam buku terutama buku-buku selain buku pelajaran kemudian diberi hadiah dan gelar pengujung paling aktif. Perpustakaan mewajibkan setiap kelas untuk mengunjungi perpustakaan dengan membuat jadwal kunjungan. Setiap peserta didik wajib meminjam buku kemudian menyusun resume di jurnal buku literasi yang disediakan.

Kegiatan ini jika diulang-ulang akan menghasilkan kebiasaan membaca. Kebiasaan membaca ini akan menjadi landasan dari pengembangan koleksi. Faktor utama untuk menumbuhkan minat baca peserta didik adalah koleksi. Dengan kata lain peserta didik akan memutuskan apakah mereka akan membaca atau tidak setelah merasa nyaman dan puas dengan apa yang ditawarkan perpustakaan.

Dengan demikian, betapa besarnya manfaat perpustakaan sekolah dalam proses belajar mengajar, sekaligus mempersiapkan peserta didik agar memiliki literasi informasi, sehingga perpustakaan sekolah harus menjadi pusat perhatian. (*/ton)

Guru SMKN 1 Salam Magelang