JEMPUT BOLA: Warga Banyumanik memanfaatkan program jemput bola yang dilakukan Bapenda dengan membayar PBB di halaman kantor Kecamatan Banyumanik Semarang, Minggu (6/5). (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)
JEMPUT BOLA: Warga Banyumanik memanfaatkan program jemput bola yang dilakukan Bapenda dengan membayar PBB di halaman kantor Kecamatan Banyumanik Semarang, Minggu (6/5). (Sigit Andrianto/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Semarang terus berinovasi untuk mengoptimalkan pembayaran PBB 2018. Salah satu yang dilakukan adalah jemput bola dengan mobil pelayanan keliling pembayaran PBB untuk mempermudah masyarakat.  ”Tujuannya tentu untuk mencapai target penerimaan PBB pada 2018, yaitu Rp 364,5 miliar,” jelas Kabid Pembukuan dan Pelayanan Bapenda Kota Semarang S Srini Poerwati di kantor Kecamatan Banyumanik, kemarin (6/5).

Program jemput bola itu dinilai efektif karena berlangsung mulai pukul 07.00 hingga 12.00. Uang pembayaran PBB yang disetor di titik tersebut mencapai Rp 75 juta. ”Selain di sini, hari ini (kemarin, Red) kami juga buka di Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Candisari,” terang dia.

Selain melalui program jemput bola, Bapenda Kota Semarang melakukan sosialisasi kepada jajaran kelurahan hingga tingkat RW dan RT untuk membantu menginformasikan dan mengajak masyarakat segera membayar pajak. ”Batas akhir pembayaran 30 September mendatang. Kami minta masyarakat tidak terlambat. Kalau terlambat, selain kena denda, juga tidak mendapat kesempatan dapat undian,” jelasnya kepada peserta sosialisasi.

Gunadi, warga Perum Korpri, Pudak Payung, RT 4, RW 13, Banyumanik, menilai upaya jemput bola Bapenda itu mempermudah masyarakat untuk membayar pajak. Terlebih, program tersebut dilakukan pada Minggu. ”Membayar di mobil keliling lebih enak karena bisa tanya-tanya ke petugas ketika ada yang kurang jelas.”

Camat Banyumanik, Sigit Suroso, meminta agar masyarakat memanfaatkan program yang dilakukan Bapenda ini. Ia juga meminta agar masyarakat tidak membayar pajak pada injury time, sebab akan terjadi penumpukan dan krodit.   ”Masih banyak masyrakat yang memilih membayar di akhir. Ini para tokoh masyarakat diundang dalam acara sosialisasi agar dapat menggerakkan masyarakat untuk segera membayar pajak,” ujarnya. (sga/aro)