Tak Punya Basic Menari, Kreatif Padukan Ragam Tari

SMAN 14 Kombinasikan Tari Tradisional dan Modern

206
KOMBINASI : Siswa-siswi SMAN 14 Semarang mengombinasikan tari tradisional dan modern untuk mengenalkan budaya pada generasi milenial. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOMBINASI : Siswa-siswi SMAN 14 Semarang mengombinasikan tari tradisional dan modern untuk mengenalkan budaya pada generasi milenial. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Perkembangan teknologi tidak dapat dihindari. Di sisi lain, kebudayaan tradisional penting untuk dilestarikan. Hal tersebut mendorong siswa-siswi SMAN 14 Semarang mengombinasikan keduanya dalam satu pertunjukan. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

LENGKAP berpakaian tradisional, mereka memasuki lokasi pertunjukan diiringi gamelan tradisional. Siapa sangka, di tengah penampilan muncul hentakan musik elektronik. Gerakan mereka pun menyesuaikan alunan musik tersebut.

Tidak ada penonton yang melongo. Mereka justru menikmati pertunjukan yang disajikan perwakilan kelas 11 SMAN 14 Semarang dalam rangka peringatan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).

Memang, tidak ada satu tarian tradisional khusus yang mereka tarikan. Satu dari sejumlah perwakilan kelas menampilkan gerakan tarian saman/ratoh jaroe, namun penarinya justru gabungan laki-laki dan perempuan.

Perwakilan lainnya, ada yang mengambil sedikit gerakan tarian gambyong. Namun, yang hampir sama, rata-rata mereka menyelipkan musik modern di tengah penampilannya. Bahkan ada yang menambahkan sedikit drama/cerita.

Mereka memang sengaja membuat pertunjukan dengan kombinasi kebudayaan tradisional dan modern agar lebih mudah diterima generasi yang disebut-sebut sebagai generasi milenial.

“Kami ingin melestarikan budaya, tapi juga dengan tetap menyesuaikan perkembangan yang ada. Jadi inilah hasilnya yang muncul,” jelas Belina Mahardika, ketua panitia peringatan Hari Kartini dan Hardiknas di SMA N 14 beberapa waktu lalu.

Tepuk tangan riuh pun diberikan siswa-siswi yang juga mengenakan pakaian tradisional di setiap akhir penampilan. Bahkan, panasnya terik siang seakan tak melunturkan semangat siswa-siswi SMAN 14 Semarang menyaksikan teman-temannya tampil membawakan sejumlah tarian kombinasi.

Diakui Belina, tidak semua dari para penari ini memiliki basic menari. Malah, bisa dibilang adalah penari dadakan. Betapa tidak, mereka hanya berlatih dalam waktu yang tidak lama. Beberapa Minggu saja. Tak ayal jika beberapa dari mereka masih menampakkan raut wajah malu dan canggung dalam tiap gerakannya.

Meski demikian, tari kreasi ini mendapat apresiasi positif dari para siswa. Ni Putu Ayu Rila, siswa SMA N 14 Semarang angkat topi kepada panitia atas ide yang dinilainya sangat bagus. Ia mengaku justru terbantu untuk bisa mengenal banyak tarian nusantara lewat pertunjukan ini.

“Ada banyak jenis tarian yang saya tahu dari lomba ini. Ide seperti ini menurut saya sangat bagus, karena bisa mengenalkan budaya tradisional dengan cara yang tidak membosankan,” ujarnya.

Sulastri, Kepala SMAN 14 Semarang mengatakan, peringatan dengan pertunjukan ini bertujuan memunculkan kreativitas siswa. Dirinya akan terus mendorong kegiatan seperti ini demi melestarikan budaya tradisional.

“Karena menurut saya, kegiatan ini bisa memunculkan bakat anak-anak. Ternyata, terlihat dari tiap kelas, mereka punya bakat dan kreativitas,” ujarnya. (*/ida)