Inovasi Penggunaan Drone Untuk Kepentingan Positif

474
CARI ANGLE : Ketua Semarang Drone Community, Widhi Cahyadi, saat bermain drone di kawasan Candi Borobudur. (ISTIMEWA)
CARI ANGLE : Ketua Semarang Drone Community, Widhi Cahyadi, saat bermain drone di kawasan Candi Borobudur. (ISTIMEWA)

“Perlu juga dipahami bahwa menerbangkan drone juga ada aturan mainnya, yakni mengacu ke Permenhub nomor180 tahun 2015, diantaranya  batas ketinggian maksimal 150 meter diluar jalur take off dan landing pesawat” Ketua Semarang Drone Community, Widhi Cahyadi.

RADARSEMARANG.COM – TEKNOLOGI drone saat ini sangatlah maju. Dari segi fisik ada yang berbentuk pesawat terbang hingga berbentuk multirotor atau berbaling-baling banyak. Sisi fiture juga sudah berkembang. Ada yang dilengkapi fitur Global Positioning System (GPS), sensor altitude, sensor obstacle, dan sebagainya.

“Sekarang makin mudah untuk memiliki drone karena hargaya relatif terjangkau, drone juga sudah semakin trend baik untuk hobi, rekreasi, maupun untuk mendukung pekerjaan,” kata Ketua Semarang Drone Community, Widhi Cahyadi, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (4/5).

Micro drone
Micro drone

Pria kelahiran Kebumen, 30 Mei 1975, ini mengatakan, untuk membuat hasil video dan foto agar bisa stabil dan jernih, maka drone perlu dilakukan penambahan kamera dengan resolusi tinggi serta penggunaan stabiliser. Karena menurutnya, kurang lengkap jika sebuah video maupun foto tanpa menggunakan kamera dari drone. Dari pengalamannya sendiri, kebanyakan orang ingin memiliki drone berawal dari kegunaannya, yang kebanyakan untuk mengabadikan foto don video dari ketinggian.

Selain itu, lanjut Widhi, orang membeli drone karena harga sesuai dengan kantong. Ia menilai, untuk orang yang memiliki dana tak terbatas biasanya akan memilih drone dengan fitur tercanggih dan kamera beresolusi tertinggi. Hanya saja, dari pengamatannya, sekarang drone dengan bentuk kecil dan bisa dilipat merupakan pilihan yang paling banyak diminati, terutama yang suka travelling.

“Kalau drone yang dijual di pasaran ada beberapa tipe, mulai micro drone, toys drone, racing drone serta profesional drone,” jelasnya.

Menurutnya, drone bagi anak-anak yang lebih cocok dengan tipe micro drone, karena bentuknya kecil dan harga murah. Kemudian, bagi yang memiliki dana terbatas namun ingin memiliki drone dengan harga terjangkau dan sudah berkamera, meskipun masih dengan kamera resolusi rendah kisaran 1 hingga 3 mega pixel bisa membeli drone dengan tipe toys drone.

KOLEKSI : Ketua Semarang Drone Community, Widhi Cahyadi menunjukkan koleksi dronenya. (ISTIMEWA)
KOLEKSI : Ketua Semarang Drone Community, Widhi Cahyadi menunjukkan koleksi dronenya. (ISTIMEWA)

“Untuk penggunaan lebih terbatas di area yang kosong seperti di lapangan dengan jarak terbang yang pendek,” ujarnya,

Sedangkan yang mempunyai dana cukup banyak, kebanyakan lebih memilih drone dengan tipe profesional. Hanya saja semua tetap  menyesuaikan dana dan kegunaanya.

Pria yang bekerja sebagai Arsitek ini, mengatakan sekarang sudah tersedia drone yang menyematkan teknologi untuk pertanian. Mulai untuk penyeprotan hama dan pemantauan pengairan sawah.

“Atas perkembangan itu, kami sebagai penghobi drone sangat bangga dengan inovasi tersebut. Member komunitas kami juga terus melakukan inovasi penggunaan drone agar pemanfaatannya bisa berdampak untuk kepentingan positif di masyarakat,” jelasnya.

Diantaranya, lanjut anak ke 2 dari 5 saudara ini, mulai melakukan modifikasi maupun inovasi drone dengan tujuan untuk membawa banner serta melakukan atraksi di udara. Diakuinya, praktik tersebut memang tidak mudah karena ada risiko drone tidak stabil saat terbang dan kemungkinan crash lebih tinggi.

Ia mencontohkan, jika drone dimodif untuk membawa banner, prinsip kerjanya drone ditambahi servo sebagai pengait tali untuk melepaskan gulungan banner. Kemudian jika drone sudah pada posisi tepat dan aman, maka pilot drone akan mengaktifkan servo yang ada, dengan cara memencet tombol yang ado diremote.

“Namun kuatnya angin dari propeller atau baling-baling drone yang sangat kuat kadang membuat drone menjadi kurang stabil, sehingga mengharuskan pilot drone lebih waspada,” ungkapnya.

Suami dari Nasya ini, tidak memungkiri teknologi dan bentuk drone makin canggih dan beragam, sehingga komunitasnya, mau tidak mau harus mengikuti perkembangan tersebut. Namun pihaknya berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam menyikapi perkembangan drone, terutama kembali ke fungsi penggunaan dan kesiapan dana.

“Karena semakin canggih, harga drone pasti makin mahal, namun penggunaan lebih mudah serta mampu meminimalisir accident meskipun semua kembali kepada pilot atau operator drone tersebut,” ujar ayah dari Irina Elsa Maharani dan Novarina Safira Pramesti, ini.

Sementara itu, Semarang Drone Community sendiri mulai terbentuk pada 22 April 2015. Para penghobi drone bisa langsung menjadi member, dengan mengunjungi websitenya:www.semarangdronecommunity.com. Ia sendiri saat ini memiliki 8 jenis drone, dengan tipe berbeda, mulai dari micro drone, toys drone dan profesional drone.

“Saya juga punya drone yang rakitan sendiri, tipe fixwing, maupun  yang menggunakan 4 baling-baling. Yang jelas fungsi  dari beberapa drone tersebut  berbeda-beda, kalau yang rakitan untuk eksperimen saja,” katanya.

Harga drone mulai Rp 200 ribu hingga Rp 125 juta lebih. Drone yang dimilikinya sendiri, selain untuk penghobi juga pernah untuk lomba fotografi drone, yang saat itu menghantarkan dirinya pada juara harapan. Ia sendiri sengaja mengikuti ajang tersebut untuk memperkenalkan ke masyarakat bahwa drone bisa sebagai salah satu alat fotografi, terutama untuk mendapatkan angle yang sulit didapatkan, apabila menggunakan kamera darat.

“Perlu juga dipahami bahwa menerbangkan drone juga ada aturan mainnya, yakni mengacu ke Permenhub nomor180 tahun 2015, diantaranya  batas ketinggian maksimal 150 meter diluar jalur take off dan landing pesawat,” jelasnya. (jks/zal)