Bahasa Jawa Tingkatkan Budi Pekerti Luhur

1052
Oleh: Karni  SPd
Oleh: Karni  SPd

RADARSEMARANG.COM – DI zaman now banyak siswa yang masih kurang dalam menerapkan unggah–ungguh dalam kehidupan sehari–hari. Malah akhir – akhir ini ada anak  yang tega  membunuh orangtuanya sendiri. Yang menyebabkan kurangnya unggah-ungguh itu karena kemajuan zaman. Kurangnya pembiasaan – pembiasaan yang positif. Hal tersebut di atas disebabkan seringnya anak di rumah sendiri atau orangtua terlalu sibuk, sehingga tidak sempat memberi nasihat anak. Dengan kurangnya unggah –ungguh yang menyebabkan anak kurang berbudi pekerti.

Melihat kenyataan yang ada salah satu untuk meningkatkan budi pekerti di atas yaitu kita sebagai orang Jawa perlu belajar berbahasa Jawa yang benar. Dengan berbahasa Jawa yang benar kita akan tahu “tata krama “atau “unggah –ungguh basa“. Unggah – ungguh bahasa itu di antaranya ada ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, krama alus.

Ngoko lugu dipakai berbicara antara anak sebaya atau seusia tetapi sudah akrab. Wujud bahasanya ngoko semua tidak ada kramanya  Contoh kalimat berbahasa ngoko lugu: “Aku mau wis mangan, kowe apa ya wis mangan? “Yang diajak bicara menjawab: “Aku ya wis mangan . Artinya: “Saya tadi sudah makan, kamu apa juga sudah makan? Yang diajak bicara menjawab: “Saya juga sudah makan .”

Bahasa ngoko alus dipakai antara orang tua dengan orang yang  lebih muda tetapi orang yang lebih tua tersebut menghargai orang yang diajak bicara. Contohnya: “Mbak panjenengan arep tindak ngendi yah mene kok wis siram?” Maksudnya “Mbak kamu akan pergi ke mana jam segini kok sudah mandi?”  Wujud bahasa ngoko alus, yaitu bahasanya ngoko bercampur dengan bahasa krama inggil. Bahasa krama inggil diterapkan untuk lawan bicaranya dan orang ketiga  yang dihormati. Bahasa krama lugu wujudnya: Bahasanya krama madya semua. Contoh bahasa krama madya: kata “aku “krama madyanya “kula “ yang berarti saya .”Lunga “ krama madyanya “ kesah “ yang berarti pergi, “ bali” krama madyanya “ wangsul ” artinya pulang.  Contoh kalimat berbahasa krama lugu: “Dinten punika kula boten kesah wonten griya kemawon.”

Bahasa krama alus wujudnya bahasanya krama madya bercampur krama inggil. Bahasa krama alus, dipakai berbicara antara orang muda dengan orang tua  atau orang tua sesama orang tua yang saling menghargai. Contoh: “ Pak kula mangke badhe wangsul ngrumiyini amargi anak kula sakit. ”Wangsulanipun : “O, inggih Pak mangga menawi badhe kondur rumiyin.”

Jadi penerapan bahasa krama madya untuk diri sendiri bahasa krama inggil untuk yang diajak bicara atau orang ketiga yang dihargai.  Orang yang sering berbahasa krama alus atau krama inggil  akan mempunyai karakter yang halus, dengan orang lain akan menghargai. Dengan berbahasa krama alus, orang terebut bisa menahan emosi. Jika anak tersebut berkomunikasi dengan orangtua memakai bahasa krama alus tidak mungkin anak tersebut akan menghardik orangtuanya. Tidak akan membentak orangtuanya. Dengan orangtua akan menghargai. Dengan demikian, Bahasa Jawa bisa membentuk budi pekerti yang luhur

Di dalam pelajaran Bahasa Jawa juga nguri –uri budaya Jawa yang mengedepankan  adat timur. Di adat timur mengajarkan beberapa hal  tata cara. Misalnya tata cara makan yang sopan. Yakni, makan tidak boleh berdiri,  sambil berbicara, jika terpaksa berbicara makanannya ditelan dahulu, dan jangan  mengunyah dibarengi berbicara, padahal mulutnya penuh makanan .  Cara memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kanan, tidak boleh dengan tangan kiri. Jika diajak berbicara dengan orang lain  harus bertatap muka tidak boleh memalingkan muka. Bersalaman dengan orang lain harus melihat wajah orang yang diajak bersalaman.  Berbicara dengan orang yang lebih tua dengan nada datar jangan bernada tinggi . Berjalan di depan orangtua yang baru duduk  – duduk di bawah harus permisi sambil membungkuk atau menganggukkan kepala, tidak boleh nyelonong begitu saja. (tj3/2/aro)

Guru SMP Negeri 18 Semarang