Jadi Ajang Sharing, Hingga Urusi Sertifikasi Pemandu Karaoke

Lebih dekat dengan Paguyuban Entertainment Semarang (Pagersemar)

94
KOMPAK: Para punggawa Pagersemar ketika merayakan ulang tahun perdana di Forbes, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)
KOMPAK: Para punggawa Pagersemar ketika merayakan ulang tahun perdana di Forbes, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Pelaku hiburan di Kota Semarang kini punya wadah sharing, saling tukar informasi sekaligus menyebar promosi. Namanya Paguyuban Entertainment Semarang (Pagersemar). Lewat paguyuban ini, para pengusaha bisa lebih leluasa menghidupkan dunia hiburan.

AJIE MAHENDRA

PAGERSEMAR bisa dibilang lahir tidak sengaja. Berawal dari suka nongkrong bareng beberapa manager karaoke dan spa, akhirnya tercetus untuk membuat paguyuban yang mampu menaungi seluruh hiburan di Kota Semarang. Mulai dari karaoke keluarga, karaoke eksekutif, spa, massage, kafe, lounge, dan lainnya.

Ketua Pagersemar, Fic Indarto, bercerita, ide membuat paguyuban ini awalnya sekadar wacana saja. Ternyata malah ditanggapi serius oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang. Justru malah didorong untuk segera merealisasikannya.

Merasa mendapat angin segar, Indarto segera mengumpulkan kenalannya yang bekerja di dunia entertainment. Setelah terkumpul 14 orang, mereka langsung menghadap Disbudpar. “Kami diundang untuk kumpul di kantor Disbudpar. Dimulai dari membuat grup WA. Isinya ya hanya 14 orang itu. Lama-kelamaan, nular. Teman-teman hiburan mulai dimasukkan grup,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari obrolan di grup, mereka sepakat untuk membahas lebih dalam mengenai pergerakan Pagersemar. Mereka pun berkumpul kembali untuk membicarakannya. Termasuk menyusun visi-misi, tujuan, anggaran dasar rumah tangga (ADRT), dan keperluan lain untuk membentuk paguyuban.

“Akhirnya dibentuk tim pembentukan paguyuban. Hanya ada lima orang. Saya, mewakili karaoke keluarga, Anggi Maronta mewakili karaoke eksekutif. Teguh Wicaksono yang mewakili massa, Ujuk Sutardi mewakili spa. Untung  Prawiro mewakili biliar,” terangnya.

Tim tersebut dibantu Kepala Bidang Industri Pariwisata Disbudpar Kota Semarang untuk menyiapkan kelahiran Pagersemar. Akhirnya, pada 23 April 2017, paguyuban itu resmi terbentuk. “Prosesnya memang lama banget. Soalnya teman-teman dari hiburan ini jarang ngobrol serius. Kalau kumpul banyak guyonnya ketimbang seriusnya. Ini yang membuat jadinya lama. Kami juga sempat cari masukan dari Paguyuban Karaoke Bandungan,” bebernya.

Dijelaskan, anggota paguyuban ini bukan atas nama perseorangan, tapi tempat usaha. Diwakili manager, pengelola, admin, marketing, atau apapun yang dianggap pihak perusahaan bisa mengambil keputusan.

Sayang, syarat itu justru menjadi kendala dalam menentukan struktur organisasi. Sebab, di dunia hiburan, SDM-nya jarang ada yang awet. Satu dua tahun, selalu ada punggawa yang pindah. “Misalnya si A dari karaoke Z pindah ke karaoke R. Ada juaga yang dari karaoke pindah ke spa, atau lounge,” katanya.

Syarat lain, lanjutnya, tempat hiburannya harus sudah memiliki izin.“Dan yang paling penting, owner harus tahu dan setuju kalau tempat usahanya diikutkan paguyuban. Jadi, nanti sama-sama enak,” terangnya.

Sekarang paguyuban yang dihuni 70 orang ini selalu menggelar pertemuan saban bulan. Mereka membahas mengenai program-program yang berimbas pada tempat usaha. Membuat katalog diskon, misalnya. Pagersemar juga sudah punya aplikasi terkait dunia entertainment di Semarang. Aplikasi itu bisa diunduh lewat Playstore secara gratis.

Pagersemar juga menggandeng Lembaga Sertifikasi Profesi Gunadharma untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Memberikan sertifikasi kepada food and baverage servis atau mengirim manager karaoke untuk menjadi assessor pemandu karaoke (PK). “Pemandu karaoke itu kan profesi yang diakui Kementerian Pariwisata. Jadi, tidak ada salahnya jika mereka disertifikasi agar lebih profesional dalam melayani tamu,” terangnya.

Selain itu, mereka juga menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) untuk mengecek secara rutin HIV/AIDS. “Katanya, karaoke itu salah satu penyebar virus HIV/ADIS, makanya kami menggandeng KPA untuk mengecek secara rutin,” jelasnya.

Tak melulu menggarap faktor internal saja, Pagersemar juga selalu berkomunikasi dengan pemerintah. Terutama untuk menentukan kebijakan dan arah perkembangan dunia hiburan di Semarang. “Disbudpar jadi mudah untuk mengorganisir teman-teman hiburan. Seperti kebijakan jam operasional saat puasa nanti,” katanya. (*/aro)