Punya Ekskul Panjat Tebing dan Rintis Jurnalistik

207
PANJAT TEBING : Kegiatan ekstra kurikuler panjat tebing yang pertama di Kendal. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PANJAT TEBING : Kegiatan ekstra kurikuler panjat tebing yang pertama di Kendal. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM KEGIATAN ekstra kurikuler (Ekskul) SMAN 1 Boja Kendal, patut diapresiasi. Meski sekolah pinggiran, memiliki segudang prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Bahkan, sekolah ini yang pertama di Kendal yang memiliki ekstrakurikuler panjat tebing.

“Ada 37 ekskul, di antaranya bridge dan hoki. Terbaru memang ekskul panjat tebing. Kemarin kami sudah berlatih dengan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), anak-anak sangat antusias. Bahkan sudah ada 15 peserta,” kata Wakil Kepala SMAN I Boja Urusan Kesiswaan, Ibnu Setiawan.

Ibnu menyebutkan, ekskul di SMAN1 Boja sering memborong prestasi, di antaranya bidang olahraga bridge dan hoki. Begitu juga ekskul sepakbola, termasuk Pramuka meraih juara tiga tingkat Jawa Tengah.

Baca Juga :

“Lomba Bridge pernah meraih prestasi tingkat internasional di Bogor, tapi juara 1 China. Sebelumnya kami pernah meraih prestasi internasional di Taiwan. Kemudian Hoki, pernah juara dua kali tingkat Jateng dengan penyelenggara Unnes. SMAN I Boja satu-satunya yang punya ekskul hoki di Kendal,” katanya.

Kini, pihaknya sedang merintis ekskul jurnalistik. Selain merekrut siswa-siswi bahasa, ditindaklanjuti dengan kegiatan jurnalistik mengundang narasumber yang kompeten dan wartawan. Anak-anak juga diajak berdialog dengan Bupati Kendal. “Tahun depan kami buka ekskul jurnalistik untuk memfasilitasi siswa-siswi yang punya bakat menulis dan wawancara,” bebernya.

Terkait tata tertib sekolah, pihaknya sudah memiliki aturan kuat yang ditandatangani orangtua siswa-siswi. Pihak sekolah mengutus beberapa guru memperkuat Satuan Tim Pengamanan Keamanan Sekolah (STP2K). Salah satu tugasnya melakukan penertiban siswa. “Apabila ada kasus, kami selesaikan di STP2K terus ke BK. Kami juga rutin melakukan razia atribut dan handphone di kelas untuk mengurangi tingkat kerawanan siswa-siswi,” katanya.

Sementara itu, didalam lampiran tata tertib terdapat sistem kredit point. “Ada sistem point 100. Kalau anak sudah mencapai 100, kami kembalikan kepada orangtua. Dan dalam mencapai proses 100, harus ada proses pembinaan dari sekolah. Sejak point 50, kami sudah memanggil orangtua dan kami berikan pembinaan. Kalau masih melanggar, kami studi kasus dengan orangtuanya lagi, kalau masih melanggar ya kami kembalikan,” tegasnya. (mha/ida)