RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Nasib malang menimpa Sri Cahyani, 31. Maksud hati hendak memberikan sabu kepada rekannya, Enrico Kiko Maylano, yang sedang menjalani persidangan, justru dirinya ditangkap petugas dan harus menjalani proses hukum. Sri menyelundupkan sabu itu lewat lauk ikan mujahir goreng saat membezuk rekannya di tahanan Pengadilan Negeri (PN) Semarang, beberapa waktu lalu.

Pada persidangan yang digelar di PN Semarang, jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Kota Semarang, Adiana Windawati, menuntut Sri dengan pidana selama 7 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 2 bulan kurungan.  Sri dianggap bersalah menjadi perantara dalam jual beli atau menyerahkan narkotika golongan I sebagaimana diatur dalam pasal 114 ayat 1 Undang-Undang (UU) RI Nomor 35 Tahun  2009 tentang narkotika.

‘Dia (terdakwa Sri, Red) dituntut 7 tahun dan denda Rp 1 miliar, serta membebankan biaya perkara Rp 2 ribu,” kata JPU, Adiana Windawati, Selasa (1/5).

Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim PN Semarang, Andi Risa Jaya tersebut, Adiana  membeberkan, tindak pidana tersebut dilakukan terdakwa pada Selasa, 21 November 2017 sekitar pukul 11.30 di depan ruang tahanan PN Semarang. Saat itu,  terdakwa ditangkap oleh saksi Handoyo dan timnya dari Polrestabes Semarang yang berpakaian preman setelah mendapatkan informasi masyarakat. Informasi itu menyebutkan, Sri terlibat dalam penyalahgunaan narkotika.

Saat digeledah petugas, ditemukan satu handphone Samsung tab 4, satu handphone Samsung Galaxy Grand 2 putih, satu handphone Polytron hitam, satu kantong plastik klip kecil berisi sabu dalam bungkusan permen Antangin, serta satu bungkus sabu di dalam plastik mika tempat membungkus ikan mujahir goreng.

Barang bukti sabu itu belakangan diketahui pesanan saksi Enrico Kiko Maylano, terdakwa lain dalam berkas terpisah. Sri bersama saksi Enrico itu sudah saling kenal. Bahkan saat Enrico menjalani proses hukum di PN Semarang, terdakwa itu sering datang ke sel tahanan untuk membezuknya.

Kuasa hukum terdakwa Sri, Dwi Apriyanto, akan mengajukan pleidoi atau pembelaan terhadap kliennya. ”Kami akan mengajukan pembelaan Yang Mulia,” kata Dwi singkat. (jks/aro)