CITARASA : Tan Yok Tjay saat memasak lunpia yang menjadi salah satu kuliner khas Kota Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CITARASA : Tan Yok Tjay saat memasak lunpia yang menjadi salah satu kuliner khas Kota Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Jadi makin banyak yang meniru, makin banyak orang mencari mana yang asli sebenarnya.

Bagi Tan Yok Tjay, tidak mudah menjaga bisnis kulinernya: Lunpia Mataram, untuk terus eksis hingga saat ini. Persaingan merajelala. Toh, ia sanggup menjaga sang legenda lunpia dari hiruk-pikuknya kompetisi bisnis kuliner sejenis.

RADARSEMARANG.COM – SIAPA Tan Yok Tjay? Dia adalah putra dari Siem Hwa Nio, pendiri Lunpia Mataram. Lunpia ini sudah dikenal sejak 1960-an. Bagi yang belum tahu persis sejarah Lunpia Semarang, mungkin masih bingung; mana penjual asli Lunpia Mataram.

Sebab, nyaris semua toko atau gerai lunpia di sepanjang Jalan MT Haryono (dulu Jalan Mataram), menggunakan brand yang sama. Bahkan di pusat oleh-oleh Semarang, Jalan Pandanaran.

Bukan hanya nama. Warna geber­-nya pun persis. Yakni dominasi kuning dan hijau. Meski begitu, rasanya tetap berbeda. Setiap penjual lunpia, punya dapur sendiri-sendiri. Itulah salah satu alasan kuat mengapa Lunpia Mataram asli, tidak bisa digeser para kompetitornya.

Lunpia Mataram yang legendaris, berlokasi di Jalan MT Haryono. Kira-kira 200 meter dari perempatan traffic light Bangkong. Tepatnya, di seberang Toko Ban Ariva Jaya. Bukanya, pukul 08.00-21.00. Lunpia Mataram ini malah tidak menggunakan kata ‘asli’.

Tan Yok Tjay mengaku, awalnya memang terusik dengan munculnya penjual lunpia yang menggunakan brand Mataram. Kali pertama, ada satu penjual lunpia yang menggelar dagangan, tidak jauh dari tempatnya berjualan. “Pakai nama Lunpia Mataram. Jaraknya hanya 50 meteran. Tapi tidak laku. Ya, ada beberapa pembeli yang beli di situ. Mungkin karena di tempat saya antrenya panjang, jadi pada coba beli di situ,” terangnya.

Karena masih sabar, Tan Yok Tjay tidak mempersoalkan. Tapi, tidak lama kemudian, muncul penjual lunpia lagi yang menggunakan nama Lunpia Mataram. “Saya juga heran. Mengapa tidak pakai nama lain. Saya mulai merasa, kok pada kurang ajar,” ucapnya.

Habis kesabarannya, dia menghubungi aparat penegak hukum untuk menegur mereka. Meski belum didaftarkan ke hak paten, tapi Tan Yok Tjay tidak terima jika makin banyak penjual lunpia yang menggunakan nama Lunpia Mataram, meski jualannya sama-sama di daerah Mataram.

“Setelah ditegur, langsung ganti nama semua. Tapi baru satu-dua hari, balik lagi jadi Lunpia Mataram. Saya bukan takut persaingan bisnis. Kalau pakai nama lain, jualan di sebelah tempat saya saja, tidak apa-apa,” jelasnya.

Merasa upayanya tidak mempan, Tan Yok Tjay pasrah. Ia yakin, pelanggan bisa membedakan mana Lunpia Mataram yang asli dan tiruan. Benar saja, pelanggannya nyaris tidak berkurang. Malah muncul pelanggan-pelanggan baru.

“Lama-lama orang tahu, kalau mencicipi di tempat lain, rasanya beda. Tidak seperti Lunpia Mataram yang pernah dimakan dulu. Dan, itu akan mereka ceritakan ke saudara dan teman-temannya. ‘Saya beli di sana kok rasanya lain. Ternyata beda’. Jadi makin banyak yang meniru, makin banyak orang mencari mana yang asli sebenarnya,” paparnya.

Untuk menjaga rasa lunpianya agar tidak geser dari yang asli, Tan Yok Tjay mengaku tidak begitu sulit. Sebab, sejak duduk di bangku kelas 5 SD, dia sudah dilibatkan dalam proses produksi Lunpia Mataram oleh ibu kandungnya.

Tan Yok Tjay disuruh belanja bahan baku di Pasar Gang Pinggir, sebelum berangkat ke sekolah. Rutinitas itu berjalan bertahun-tahun hingga SMP. “Jadi pas saya pulang belanja, ketemu sama teman-teman yang mau berangkat sekolah. Sebenarnya malu. Apalagi bawa sepeda, di belakang ada keranjang besar yang isinya belanjaan semua.”

Saat di bangku SMA, Tan Yok Tjay mokong sekolah. Padahal, prestasinya cukup menonjol. “Orang tua awalnya melarang saya berhenti sekolah. Guru dan kepala sekolah juga. Tapi, saya memang tidak mau sekolah. Pas jam pelajaran, saya keluar kelas. Tidak mau ikut,” kenangnya.

Karena tidak mau sekolah, Tan Yok Tjay digembleng orang tuanya. Dia diminta memegang semua urusan lunpia. Dari belanja, memasak rebung, meracik isi lunpia, menggulung, hingga menggoreng. Termasuk, melayani pembeli di toko.

Awalnya, Tan Yok Tjay merasa keki dengan gemblengan tersebut. Sebab, dua karyawannya jadi menganggur. Yang paling tidak disukai Tan Yok Tjay justru saat proses memasak isi lunpia. Sebab, bahan-bahan yang seabrek, harus dimasak bareng dan diaduk tanpa henti. Badannya yang kecil, langsung terasa pegal. “Baru berhenti sebentar biar otot tangan tidak kaku, sudah dibentak. ‘Nanti gosong!’. Saya suruh karyawan bantu, tidak mau. Takut dimarahi katanya.”

Termasuk, ketika menggoreng lunpia di toko. Dia bercerita, pernah ada pembeli yang tidak tega melihat Tan Yok Tjay muda, tergopoh-gopoh melayani pembeli, tanpa dibantu karyawan. “Pembeli itu sampai memarahi orang tua saya yang kebetulan sedang duduk-duduk di toko. Katanya, anak kecil kok disuruh kerja berat seperti itu. Saya cuma mbatin saja,” katanya.

Berkat gemblengan bertahun-tahun itu, Tan Yok Tjay jadi paham betul bagaimana lunpia yang enak. Tentu juga meneruskan resep keluarga Lunpia Mataram. Tahun 1980, Tan Yok Tjay resmi memegang Lunpia Mataram. (ajie.mahendra/isk)