Mokong Sekolah, Digembleng Buat Lunpia

Tan Yok Tjay, Menjaga Brand Kuliner Legendaris Semarangan

Must Read

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di...

Jadi makin banyak yang meniru, makin banyak orang mencari mana yang asli sebenarnya.

Bagi Tan Yok Tjay, tidak mudah menjaga bisnis kulinernya: Lunpia Mataram, untuk terus eksis hingga saat ini. Persaingan merajelala. Toh, ia sanggup menjaga sang legenda lunpia dari hiruk-pikuknya kompetisi bisnis kuliner sejenis.

RADARSEMARANG.COM – SIAPA Tan Yok Tjay? Dia adalah putra dari Siem Hwa Nio, pendiri Lunpia Mataram. Lunpia ini sudah dikenal sejak 1960-an. Bagi yang belum tahu persis sejarah Lunpia Semarang, mungkin masih bingung; mana penjual asli Lunpia Mataram.

Sebab, nyaris semua toko atau gerai lunpia di sepanjang Jalan MT Haryono (dulu Jalan Mataram), menggunakan brand yang sama. Bahkan di pusat oleh-oleh Semarang, Jalan Pandanaran.

Bukan hanya nama. Warna geber­-nya pun persis. Yakni dominasi kuning dan hijau. Meski begitu, rasanya tetap berbeda. Setiap penjual lunpia, punya dapur sendiri-sendiri. Itulah salah satu alasan kuat mengapa Lunpia Mataram asli, tidak bisa digeser para kompetitornya.

Lunpia Mataram yang legendaris, berlokasi di Jalan MT Haryono. Kira-kira 200 meter dari perempatan traffic light Bangkong. Tepatnya, di seberang Toko Ban Ariva Jaya. Bukanya, pukul 08.00-21.00. Lunpia Mataram ini malah tidak menggunakan kata ‘asli’.

Tan Yok Tjay mengaku, awalnya memang terusik dengan munculnya penjual lunpia yang menggunakan brand Mataram. Kali pertama, ada satu penjual lunpia yang menggelar dagangan, tidak jauh dari tempatnya berjualan. “Pakai nama Lunpia Mataram. Jaraknya hanya 50 meteran. Tapi tidak laku. Ya, ada beberapa pembeli yang beli di situ. Mungkin karena di tempat saya antrenya panjang, jadi pada coba beli di situ,” terangnya.

Karena masih sabar, Tan Yok Tjay tidak mempersoalkan. Tapi, tidak lama kemudian, muncul penjual lunpia lagi yang menggunakan nama Lunpia Mataram. “Saya juga heran. Mengapa tidak pakai nama lain. Saya mulai merasa, kok pada kurang ajar,” ucapnya.

Habis kesabarannya, dia menghubungi aparat penegak hukum untuk menegur mereka. Meski belum didaftarkan ke hak paten, tapi Tan Yok Tjay tidak terima jika makin banyak penjual lunpia yang menggunakan nama Lunpia Mataram, meski jualannya sama-sama di daerah Mataram.

“Setelah ditegur, langsung ganti nama semua. Tapi baru satu-dua hari, balik lagi jadi Lunpia Mataram. Saya bukan takut persaingan bisnis. Kalau pakai nama lain, jualan di sebelah tempat saya saja, tidak apa-apa,” jelasnya.

Merasa upayanya tidak mempan, Tan Yok Tjay pasrah. Ia yakin, pelanggan bisa membedakan mana Lunpia Mataram yang asli dan tiruan. Benar saja, pelanggannya nyaris tidak berkurang. Malah muncul pelanggan-pelanggan baru.

“Lama-lama orang tahu, kalau mencicipi di tempat lain, rasanya beda. Tidak seperti Lunpia Mataram yang pernah dimakan dulu. Dan, itu akan mereka ceritakan ke saudara dan teman-temannya. ‘Saya beli di sana kok rasanya lain. Ternyata beda’. Jadi makin banyak yang meniru, makin banyak orang mencari mana yang asli sebenarnya,” paparnya.

Untuk menjaga rasa lunpianya agar tidak geser dari yang asli, Tan Yok Tjay mengaku tidak begitu sulit. Sebab, sejak duduk di bangku kelas 5 SD, dia sudah dilibatkan dalam proses produksi Lunpia Mataram oleh ibu kandungnya.

Tan Yok Tjay disuruh belanja bahan baku di Pasar Gang Pinggir, sebelum berangkat ke sekolah. Rutinitas itu berjalan bertahun-tahun hingga SMP. “Jadi pas saya pulang belanja, ketemu sama teman-teman yang mau berangkat sekolah. Sebenarnya malu. Apalagi bawa sepeda, di belakang ada keranjang besar yang isinya belanjaan semua.”

Saat di bangku SMA, Tan Yok Tjay mokong sekolah. Padahal, prestasinya cukup menonjol. “Orang tua awalnya melarang saya berhenti sekolah. Guru dan kepala sekolah juga. Tapi, saya memang tidak mau sekolah. Pas jam pelajaran, saya keluar kelas. Tidak mau ikut,” kenangnya.

Karena tidak mau sekolah, Tan Yok Tjay digembleng orang tuanya. Dia diminta memegang semua urusan lunpia. Dari belanja, memasak rebung, meracik isi lunpia, menggulung, hingga menggoreng. Termasuk, melayani pembeli di toko.

Awalnya, Tan Yok Tjay merasa keki dengan gemblengan tersebut. Sebab, dua karyawannya jadi menganggur. Yang paling tidak disukai Tan Yok Tjay justru saat proses memasak isi lunpia. Sebab, bahan-bahan yang seabrek, harus dimasak bareng dan diaduk tanpa henti. Badannya yang kecil, langsung terasa pegal. “Baru berhenti sebentar biar otot tangan tidak kaku, sudah dibentak. ‘Nanti gosong!’. Saya suruh karyawan bantu, tidak mau. Takut dimarahi katanya.”

Termasuk, ketika menggoreng lunpia di toko. Dia bercerita, pernah ada pembeli yang tidak tega melihat Tan Yok Tjay muda, tergopoh-gopoh melayani pembeli, tanpa dibantu karyawan. “Pembeli itu sampai memarahi orang tua saya yang kebetulan sedang duduk-duduk di toko. Katanya, anak kecil kok disuruh kerja berat seperti itu. Saya cuma mbatin saja,” katanya.

Berkat gemblengan bertahun-tahun itu, Tan Yok Tjay jadi paham betul bagaimana lunpia yang enak. Tentu juga meneruskan resep keluarga Lunpia Mataram. Tahun 1980, Tan Yok Tjay resmi memegang Lunpia Mataram. (ajie.mahendra/isk)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest News

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...

Random News

Kabupaten Kampar Ingin Tiru KIK

KENDAL–Bupati Kabupaten Kampar Provinsi Riau, Aziz Zaenal ingin mendirikan kawasan industri di wilayahnya sebagaimana Kawasan Industri Kendal (KIK). Mengingat, Kampar memiliki kebun kelapa sawit...

44 Pelukis Salatiga Pamerkan Karya 

SALATIGA – Ratusan karya lukis belasan perupa dipamerkan di halaman Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (Persipda) Kota Salatiga. Pameran bertajuk Pesona Seni Rupa Salatiga...

Marhaban Ya Ramadan

Ramadan telah tiba, Ramadan telah tiba. Begitu salah satu kalimat yang sering muncul di saat bulan yang digadang-gadang sebagai bulan suci penuh berkah datang...

Tangkap Pelaku Trek-Trekan

DEMAK-Polisi menindak tegas pengendara sepeda motor yang trek-trekan di malam hari. Pasalnya, selain suara knalpot yang membisingkan telinga juga sangat membahayakan pengendaranya sendiri maupun...

More Articles Like This

- Advertisement -