TERUS BERKARYA : Choliq Zain terus menjaga regenerasi grup Kasidah Nasida Ria. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERUS BERKARYA : Choliq Zain terus menjaga regenerasi grup Kasidah Nasida Ria. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Saya hanya meneruskan apa yang sudah diajarkan Bapak. Saya tidak mengubah apapun, kecuali menyesuaikan dengan perkembangan zaman, ungkapnya.

RADARSEMARANG.COM – Nasida Ria, grup kasidah modern pertama dari Kota Semarang ini, begitu melegenda. Lagu-lagunya sangat membekas di telinga para fans setianya. Di antaranya, tembang berjudul Kota Santri, Perdamaian, Wartawan Ratu Dunia, hingga Wajah Ayu untuk Siapa. Eksistensi Nasida Ria, tak lepas dari tangan dingin Choliq Zain, putra HM. Zain, sang pendiri Nasida Ria, yang mampu merawat sang legend.

“SAAT ini kami sedang menyiapkan launching album volume 35,” kata Gus Choliq, sapaan intimnya, ketika menyambangi kantor redaksi Jawa Pos Radar Semarang di Jalan Veteran 55. Kata Choliq, ada lima lagu baru yang liriknya jangka panjang. “Nasida Ria sejak dulu selalu menggunakan bahasa yang ringan, tidak puitis, namun tetap ada pesan di dalamnya,” kata Choliq.

Choliq merupakan putra kedua dari pasangan HM Zain dan Hj Mudrikah Zain. Pasangan suami istri inilah yang mengawali berdirinya Nasida Ria pada 1975. Meski telah ditinggal pendirinya menghadap Sang Khalik, grup ini masih terus berkarya dan berinovasi di tangan dingin Gus Choliq.

Toh, Choliq enggan disebut sebagai aktor di balik bertahannya Nasida Ria hingga kini. Dengan rendah hati, Choliq menyampaikan, apa yang dilakukannya, tidak jauh berbeda, dengan yang dilakukan oleh sang ayah. Yakni, pola regenerasi terus dijaga, seperti yang dilakukan HM Zain.

“Saya hanya meneruskan apa yang sudah diajarkan Bapak. Saya tidak mengubah apapun, kecuali menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.

Gus Choliq membeber, sejak dulu, almarhum HM Zain selalu menggunakan pola ketika mendidik calon generasi. Artinya, Nasida Ria tidak pernah asal comot anggota yang punya kemampuan. Nasida Ria justru merekrut anggota baru yang bahkan tidak punya bakat bermusik.

Siapa yang memilihnya untuk meneruskan perjuangan sang ayah? Choliq mengaku tidak ada pemilihan. Semata karena saat itu ia tidak punya grup musik, dibandingkan dengan sang kakak, Hadziq Zain, dan si bungsu, adiknya.

“Sejak dulu, saya ikut Bapak. Kakak saya, tahun 1985, membuat grup Nida Ria. Sedangkan adik saya, membuat El Hawa. Bukan untuk tandingan. Personelnya kadang juga saling isi. Jadi ya saya pegang Nasida Ria, karena nggak punya grup sendiri,” ujarnya, terkekeh.

Hampir setengah abad berkarya, Nasida Ria cukup sukses merambah panggung hiburan nasional. Tak jarang, grup kasidah modern yang semua personelnya perempuan berhijab ini tampil di layar kaca televisi swasta nasional.

Nasida Ria bahkan pernah diundang untuk menjadi pengisi acara jazz ternama di Semarang. Dari situlah, Choliq meyakini, remaja di Semarang mulai tergelitik untuk mencari tahu lebih banyak tentang Nasida Ria.

Saat ini, ia dibantu putrinya, Nazla, untuk mengurus Nasida Ria. Nazla sendiri merupakan personel termuda di Nasida Ria. Ia baru saja lulus dari perguruan tinggi.

“Sekarang ini, Nasida Ria sudah generasi ketiga. Generasi ketiga ini, saya ambil yang usia-usia dini melalui audisi. Kemudian, mereka saya minta memilih sendiri alat musiknya, lantas saya latih,” ucap pria kelahiran 22 Juni 1967 ini.

Petualang panggung sejati mungkin pantas disandang oleh Nasida Ria. Mulai panggung hajatan nikah, khitanan, peresmian masjd, festifal jazz, acara musik indie, hingga festival musik Islam internasional di Berlin, Jerman.

“Generasi selanjutnya, terus kami godok. Saya buatkan grup sendiri, namanya Ezzura dan Kasidah Tanpa Nama. Jadi sejak dulu, sistemnya berjenjang, naik kelas. Kalau sudah matang, masuk ke Nasida Ria,” jelas anggota DPD Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia Jawa Tengah ini.

Sampai kapan akan merawat sang legend Nasida Ria? Choliq hanya tersenyum. Usianya kini telah setengah abad. Mendampingi Nasida Ria, hampir dilakoni seumur hidupnya. Toh, ia tak bisa memutuskan kapan untuk pensiun. “Masih lama, karena ruhnya saya di musik, di Nasida Ria. Meski saya sendiri nggak bisa main musik. Ya, sedikit-sedikitlah.”

Selain mengurus Nasida Ria, Ezzura, dan Kasidah Tanpa Nama, Gus Choliq juga mengelola warung makan soto. Namnaya: Soto Ayam Nasida Ria, di Jalan Raya Tugu, Semarang. Sekaligus, menjadi basecamp dan tempat berlatih Nasida Ria. (afiati.tsalisati/isk)