Gol Tunggalnya Selalu Dikenang

Tugiyo, “Legenda Jawara” PSIS

339
CINTA SEPAKBOLA : Tugiyo mengawasi latihan pemain Lampung Sakti. (IST)CINTA SEPAKBOLA : Tugiyo mengawasi latihan pemain Lampung Sakti. (IST)
CINTA SEPAKBOLA : Tugiyo mengawasi latihan pemain Lampung Sakti. (IST)

Tentu sangat bangga jika bisa kembali membantu PSIS. Kali ini sebagai pelatih tentunya.

Sejarah sepakbola Semarang, tak bisa dipisahkan dari nama Tugiyo. Berkat tendangannya, PSIS mampu meraih juara pada gelaran Liga Indonesia V 1998/1999. Kala itu, 9 April 1999.

RADARSEMARANG.COM – KOTA Semarang menjadi lautan suporter. Jalan-jalan protokol di Kota Lunpia, didominasi warna biru, warna kebanggaan PSIS. Tim berjuluk Mahesa Jenar, berhasil menyematkan satu bintang di atas logo jersey mereka, setelah sukses menang 1-0 pada final di Stadion Klabat Manado. Tak tanggung-tanggung, PSIS berhasil menang atas musuh bebuyutan mereka: Persebaya Surabaya.

Tak hanya berhasil menciptakan sejarah. Gelar juara tersebut, juga cukup untuk menyematkan pencetak gol semata-wayang PSIS ke gawang Persebaya— yaitu Tugiyo—sebagai pemain legenda PSIS sepanjang masa.

“Waktu itu, saya tidak berpikir macam-macam. Saya dan teman-teman hanya fokus menghadapi pertandingan final melawan Persebaya. Dan Alhamdulillah, saya bisa menyumbang satu gol kemenangan. Itu menjadi momen terbaik saya selama berkarier di sepakbola,” kata Tugiyo ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Pemain kelahiran Purwodadi, 13 April 1977 itu, mengaku, momen istimewa itu, mampu mengubah hidupnya. ”Setelah juara, tentunya banyak hal yang saya dapat. Termasuk, penghargaan-penghargaan. Saya dapat tanah kaveling dari Pak Gubernur. Juga dapat motor dari pengusaha, uang dan lain-lain. Namun, yang paling utama, saya sangat bangga bisa membawa PSIS juara,” bebernya.

Berkarier di PSIS, bisa dibilang menjadi puncak karier pemain berjuluk Maradona dari Purwodadi itu. Tugiyo menghabiskan masa mudanya berlatih di Diklat Persipur, Diklat Salatiga, Diklat Ragunan, dan bermain di PSB Bogor.

“Susah senang, kami lewati di PSIS. Senangnya ya ketika juara. Susahnya, mungkin saat gaji telat dan lain-lain. Tapi, sebagai pemain, hal-hal seperti itu saya nikmati sebagai proses. Orang tua saya menjadi sosok yang paling berharga. Karena saya tumbuh dari keluarga yang sangat sederhana. Karena itu, saya cukup bangga, bisa membanggakan orang tua dengan bermain bola,” lanjut ayah dari Scudeto Rafa Majalintama itu.

Selama lima musim, Tugiyo berkostum PSIS. Ia juga pernah berkostum Persik Kendal, Persela Lamongan, Persik Kuningan, hingga sederet catatan cedera membuatnya memutuskan untuk gantung sepatu.

“Karier profesional saya yang pertama memang di PSIS musim 1999, dan langsung juara. Sebelumnya saya ikut Diklat Ragunan,” kenang pemain yang pernah masuk dalam program Timnas Bareti.

Setelah gantung sepatu, Tugiyo mengaku tidak bisa jauh dari sepakbola. Ia merintis karier sebagai pelatih. Pada 2013 silam, Tugiyo menangani tim amatir PS Merpati, Banyu Putih. Tugiyo telah mengantongi lisensi C AFC bersama eks bek timnas asal Semarang, Nova Arianto. Ia kini tengah melatih salah satu kontestan Liga 3 asal Lampung, Lampung Sakti.

Disinggung masa depannya sebagai pelatih, Tugiyo masih memiliki impian untuk kembali berada di tim Mahesa Jenar. ”Tentu sangat bangga jika bisa kembali membantu PSIS. Kali ini sebagai pelatih tentunya.” (baskoro.septiadi/isk)