Dituntut untuk Selalu Ngeyel

Sumarbagyo, “Nggareng” Selamanya

275
SENIMAN SEJATI : Sumarbagyo yang mendapat peran Gareng di Ngesti Pandowo dari warisan sang ayah. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SENIMAN SEJATI : Sumarbagyo yang mendapat peran Gareng di Ngesti Pandowo dari warisan sang ayah. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kalau bisa, sampai mati pun, saya siap menjadi Gareng. Saya pingin seperti teman, turun dari panggung, meninggal. Itu kebanggaan dari seorang seniman seperti saya. Kita bekerja untuk keluarga, menyenangkan orang lain, kemudian meninggal.

Bagi pecinta wayang wong Ngesti Pandawa, sosok Sumarbagyo seolah jadi legenda sosok Gareng. Pria kelahiran 28 Juni 1965 ini, sudah puluhan tahun memerankan sosok punakawan, Gareng. Bahkan di luar Ngesti Pandawa pun, Sumarbagyo identik sebagai Gareng.

RADARSEMARANG.COM – SUMARBAGYO ingat betul, kali pertama memerankan sosok Gareng, wajahnya dipermak abis. Bedak putih merata di sekujur wajahnya. “Tahun 1981, saya pertama manggung,” kata Sumarbagyo alias Gareng kepada koran ini, saat ditemui di rumahnya, akhir pekan lalu.

Kala itu, ia tampil sebagai Gareng junior. Maklum, status Gareng di Ngesti Pandawa, masih disandang sang bapak, Ki Marno Sabdo. Baru setelah pelakon Gareng sepuh meninggal, Sumarbagyo dinobatkan sebagai Gareng Ngesti Pandawa. ”Jadi, bisa dikatakan Gareng ini sebagai warisan. Warisan yang nggak akan pernah habis. Harta pangkat bisa hilang. Kalau ini nggak akan habis, selama kita masih mau bekerja,” wejangnya.

Kepergian sang bapak, tidak hanya mewariskan status Gareng kepadanya. Tapi juga kemampuan melawak, gaya di panggung, semuanya diturunkan kepada Sumarbagyo. Bakat temurun dari sang ayah ini pula yang dirasa membuat Sumarbagyo, mendapat respons baik dari masyarkaat saat kali pertama Nggareng.

”Kemungkinan karena saya anaknya Gareng. Padahal, saat itu kalau dikatakan lucu ya standar. Mungkin karena kok koyok bapake, makanya sampai sekarang pun, saya nggak pernah meninggalkan gerakan dan riasan bapak,” kata pria yang intim disapa Bagyo Gareng ini.

Bisa dikatakan, penobatannya sebagai Gareng Ngesti Pandawa lantaran ”kepepet”, karena tidak ada yang lain. Berkat dukungan teman-teman dan para pini sepuh, Bagyo memberanikan diri tampil sebagai Gareng. ”Dasar-dasarnya dari Bapak. Bahan-bahan lawakan pakai punya Bapak. Tapi semakin ke sini, saya mulai belajar cari sendiri dan mengikuti zaman. Kan nggak bisa lawakan tahun 1970 dipakai sekarang,” ucap pria yang kini gencar memasukkan pesan-pesan moral ke dalam lawakannya.

Bagyo Nggareng (memerankan sosok Gareng) berangkat dengan semangat berkesenian. Semangat yang membuat ia tidak pernah memikirkan berapa besar gaji pertama saat menjadi Gareng. Ia Nggareng untuk memburu senang, karena tampil sebagai seniman. Ia senang bisa menunjukkan kebolehannya melalui Ngesti Pandawa. Dan, seperti pepatah, siapa menanam, pasti akan menuai, Kesetiaannya pada tokoh Gareng membuahkan hasil. Kini, bapak dua anak itu, berhasil mengantarkan dua putrinya menjadi dokter.

Bagi Bagyo, tidak mudah menjadi sosok Gareng. Suami dari Sri Rahayu ini, harus bisa menguasai semuanya. Tata rias, tari, musik, dan suara. Semuanya wajib ia kuasai. Bersama punakawan lainnya, Gareng harus bisa menuntun jalannya cerita.

Dalam menyajikan lawakan pun, Gareng tidak sembarangan. Ia harus melakukan riset penonton di manapun pentas. Ia harus bisa menempatkan lawakannya, sesuai dengan penonton yang ia hadapi. ”Tidak bisa gebyah uyah penonton. Harus disesuaikan,” ucapnya.

Bagyo mengaku sangat menghayati perannya sebagai Gareng. Yakni, super ngeyel. Tapi, bukan ngeyel serampangan. Tapi ngeyel dalam koridor yang wajar dan terarah untuk menghidupkan suasana. Tak jarang, ia merasa kesulitan, karena selalu dituntut ngeyel. Seolah menyerang, tapi tidak untuk mematikan karakter lawan main.

”Ini yang susah. Kalau zaman sekarang, mungkin istilahnya membully. Tapi, kalau saya mem-bully yang real. Sembari memasukkan nasihat di dalamnya. Bukan menggurui, tapi membungkus pesan moral dalam cerita,” beber pria yang mengaku selalu menjaga atribut tradisional, namun tetap dengan lawakan internasional.

Penghayatan sebagai Gareng, bahkan terbawa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Salah satunya, sifat Gareng yang temuwo (berpikir dewasa). Meski anak ragil (terakhir), Bagyo memiliki sifat yang lebih temuwo, dibandinglkan saudara-saudaraya.

Satu cerita yang tidak pernah akan ia lupakan hingga saat ini adalah totalitasnya Nggareng. Ia sempat Nggareng dalam kondisi sang ibu tengah menjalani operasi. Ia juga pernah harus tampil saat salah satu anaknya dirawat di rumah sakit. Dan, yang masih membekas, ketika ia memutuskan tampil, meski tengah sakit berat.

”Saat itu saya terkapar di hotel. Pokoknya, waktu Gareng harus keluar, saya harus dipanggil. Saya sudah seperti layangan gitu di atas panggung. Tapi, dalangnya tahu dan bupati setempat membawakan dokter. Padahal, saat itu, mati di panggung pun saya lakoni,” kenangnya. Beruntung, Bagyo punya sahabat-sahabat yang perhatian. Dukungan para sahabat selalu diberikan, ketika ia harus tampil saat tengah dirundung masalah. ”Pokoknya, dalam kondisi apappun, jangan sampai penonton tahu kalau kita sedang ada masalah. Jangan membawa persoalan apapun ke dalam pementasan.”

Hingga kini, Bagyo sangat jatuh cinta dengan perannya sebagai Gareng. Sampai-sampai, dengan tegas, ia mengatakan akan tetap Nggareng sampai ajal menjemput. Sama seperti sang bapak yang meninggal dengan masih menyandang status sebagai Gareng Ngesti Pandawa. ”Sampai saya tidak dikersake penonton. Sampai tidak ada yang menonton saya. Sampai kalau saya keluar, pada teriak turun,” jelas pria yang mewarisi darah kesenian dari kedua orangtuanya.

”Kalau bisa, sampai mati pun, saya siap menjadi Gareng. Saya pingin seperti teman, turun dari panggung, meninggal. Itu kebanggaan dari seorang seniman seperti saya. Kita bekerja untuk keluarga, menyenangkan orang lain, kemudian meninggal,” ucapnya. Bukan tanpa alasan, menjadi Gareng merupakan kebanggaan tersendiri bagi Bagyo. Ia merasa hidupnya berguna ketika penonton menunggu kemunculannya.

Saking cintanya dengan Ngesti Pandawa dan Kota Semarang, Gareng sempat menolak ajakan rekannya untuk merantau ke ibu kota. ”Saya lahir tumbuh besar dan dikenal di Ngesti Pandawa. Ngesti Pandawa adalah segalanya. Sampai kapan pun akan tetap di hati. Termasuk Semarang, sebagai kota yang memberi saya pelajaran, membuat saya senang, dan membuat saya besar,” jelasnya. ”Ngesti Pandawa dan Semarang, sama-sama segalanya bagi saya.” (sigit.andriyanto/isk)