Dalam Kondisi Sakit pun Tetap Memikirkan Semarang

Djawahir Muhammad, Tak Lelah Merawat Semarang

230
TETAP SEMANGAT : Djawahir Muhammad telah menyiapkan naskah ketoprak tentang muasal Semarang. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP SEMANGAT : Djawahir Muhammad telah menyiapkan naskah ketoprak tentang muasal Semarang. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Saya ingin dengan metode yang saya miliki, masyarakat Semarang bisa membawa anak mereka meraih cita-citanya.

Cintanya kepada Semarang tak terbatas. Perhatiannya begitu besar pada kota kelahirannya. Sejumlah buku ia tulis untuk mendokumentasikan perjalanan kota ini. Ia adalah Djawahir Muhammad. Sosok spesial karena menyandang tiga predikat sekaligus: seniman, budayawan, dan tokoh masyarakat Semarang.

RADARSEMARANG.COM – STROKE tak membuat Djawahir hanya bisa pasrah menjalani hidup. Saat sembuh nanti, Djawahir ingin menjadi guru ngaji bagi keempat cucunya. Bahkan, pecinta satwa dan tanaman ini, berniat mendirikan pusat pendampingan belajar untuk menerapkan metode belajar ciptaanya: Need of Kids. Djawahir ingin menciptakan pembelajaran dengan menumbuhkan keinginan anak-anak.

Kini, Djawahir menunggu proses penyembuhan. Dalam kondisinya sekarang ini, ia masih sempat memikirkan banyak hal tentang Kota Semarang. Sebenarnya banyak gagasan yang ingin ia tuliskan. Hanya saja, masih terkendala keadaan. Termasuk, satu hal yang ingin ia beritahukan kepada masyarakat Semarang, tentang sejarah Moch Suyudi.

Djawahir ingin, warga Kota Semarang tahu jasa-jasa Moch Suyudi yang berperan membela Ir. Soekarno saat diadili Belanda. ”Jangan sampai nama jalan itu diganti. Saya sebenarnya ingin membuat masyarakat tahu tentang Mr. Suyudi,” kata Djawahir yang terserang stroke sebelum merampungkan disertasi doktornya, mengangkat tentang Gambang Semarang.

Kecintaan Djawahir kepada Kota Atlas begitu besar. Pada HUT ke-471 Kota Semarang, ia sebenarnya telah merancang pertunjukan ketoprak, dengan cerita muasal Kota Semarang. Ia sendiri yang menulis naskahnya. Seribu sayang, naskah Djawahir belum bisa tampilkan, karena wong asli Semarang ini, keburu tergolek sakit.

Kini, kesehatan Djawahir berangsur membaik. Kepada Jawa Pos Radar Semarang, Djawahir menyampaikan keinginan-keinginannya ketika sembuh nanti. Satu di antaranya, melanjutkan pergelaran yang sudah ia siapkan. ”Naskahnya sudah saya tulis,” ucap pria yang berhasil mengantarkan anak-ankanya menjadi orang sukses. Untuk diketahui, dua anak Djawahir berprofesi sebagai dokter.

Yaitu, dr. Bondan Prasetyo, Sp.B, spesialis bedah umum RSUD Dr. Adhiyatma dan dr. Aryu Candra, MKes (Epid), dosen Ilmu Gizi, Jurusan Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Undip. Capaian yang membuat Djawahir bangga, terlihat dari bagaimana ia menceritakan kedua anaknya ini. Ia sempat menangis. ”Saya ingin dengan metode yang saya miliki, masyarakat Semarang bisa membawa anak mereka meraih cita-citanya.” Dalam kondisi sakit sejak Desember 2017, Djawahir masih memikirkan anak-anak di Kota Semarang.

Pada HUT ke-471 Kota Semarang, Djawahir mengingatkan bahwa Semarang memiliki potensi besar. Potensi yang jika digali dan dikembangkan maksimal, dapat membawa kota ini menjadi lebih besar. Salah satunya, Tanjung Emas. Dengan pengelolaan maksimal, ia yakin Tanjung Emas bisa menyaingi pelabuhan besar lainnya.

Potensi lain, Semarang memiliki sejumlah seniman, novelis, penyair, yang semuanya bisa digarap untuk menjadikan Semarang menjadi lebih besar. ”Semarang punya potensi besar yang harus digali, didata, dan diverifikasi serta dikembangkan secara maksimal.”

Djawahir ingin sekali menulis buku lagi. Menulis buku tentang tempat-tempat bersejarah di Kota Semarang. Oleh dokter, ia tidak diperbolehkan untuk berpikir keras. Budayawan Semarang itu, disarankan untuk mengistirahatkan pikirannya. ”Bapak disarankan untuk tidak banyak mengingat-ingat. Tapi kadang, kalau beliau ingat nama tempat bersejarah yang harus ditulis, saya disuruh mencatata,” ujar Hartini, sang istri yang dengan sabar mendampingi suaminya. (sigit.andriyanto/isk)