Pernah Lulus Calon Hakim, Rasakan 10 Hari Ditahan

Lebih Dekat dengan Ketua DPD Ikadin Jateng, HM Rangkey Margana

379
BERKARIER DARI NOL: HM Rangkey Margana (dua dari kiri) bersama Direktur Lembaga Bantuan Hukum Ikadin Jateng, Heri Darman, saat mendampingi kliennya artis film nasional Atalarik Syah. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERKARIER DARI NOL: HM Rangkey Margana (dua dari kiri) bersama Direktur Lembaga Bantuan Hukum Ikadin Jateng, Heri Darman, saat mendampingi kliennya artis film nasional Atalarik Syah. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

HM Rangkey Margana pernah diterima sebagai calon hakim dan diterima mengikuti wajib militer. Namun ia justru memilih menjadi seorang advokat. Kini, ia menjadi Ketua DPD Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) Jateng.

 JOKO SUSANTO

KARIER HM Rangkey Margana sebagai advokat dimulai pada 1989. Saat itu, ia mengabdikan diri sebagai pengacara praktik di kantor hukum Samekto  SH. Berikutnya pada 1990, ia bergabung ke YLBHI-Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang.

Cita-citanya menjadi advokat tidak lepas dari kedekatannya dengan almarhum Suwignyo, yang dulu bertugas sebagai Poprol (advokat zaman dulu, Red), dan sudah dianggapnya sebagai ayah angkatnya. Saat itu, apabila Rangkey bermain ke rumah Suwignyo selalu disuguhi buku-buku tebal. Ayah Rangkey sendiri juga seorang Oitmil atau jaksa militer.  Praktis, baik ayahnya maupun Suwignyo banyak memiliki buku-buku tebal tentang ilmu hukum.

“Dari situ saya sering baca-baca, dan ingin menjadi seperti mereka. Bahkan, saat masih kecil, saya pernah tidak bisa tidur kalau belum beralaskan buku tebal tersebut,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Begitu duduk di bangku SMA, jiwa pembela Rangkey mulai muncul. Dia selalu membela teman atau siapapun yang dizalimi. Hal itu menyebabkan dirinya berulangkali pindah sekolah. Sebab, kebanyakan orang menganggap dirinya anak nakal. Padahal ia justru membela hak rekan-rekannya, sehingga kerap bermasalah dengan guru Bimbingan Penyuluhan (sekarang Bimbingan Konseling, Red).

“Begitu lulus SMA, langsung kuliah ambil Fakultas Hukum Untag Semarang. Disitulah saya semakin getol mempelajari ilmu hukum sampai lulus dan jadi advokat,”ujar suami dari Erna Artati ini.

Diakuinya, sebelum menjadi advokat, peraih sertifikasi legal auditor hukum dari Asahi ini, sempat lulus mengikuti pendidikan calon hakim (Cakim) dan menjalani wajib militer (wamil). Namun hal itu tidak diteruskan. Bahkan kedua orangtuanya sempat marah dengan keputusannya itu. Kedua ortunya juga  tidak merestui, saat Rangkey memilih menjadi advokat.

“Orangtua sempat nolak pilihan saya jadi advokat. Tapi saya enjoy sebagai advokat, karena independen. Saya baru mulai nyaman setelah era reformasi usai, karena hukum sudah tidak ada lagi intimidasi,  dan penegakan hukum bisa lebih baik,”kata putra almarhum RH Purnama BC HK dan almarhumah RA Soemini ini.

Hingga sekarang, sejumlah jabatan organisasi advokat pernah diemban pria kelahiran Semarang, 18 Februari 1965 ini. Seperti Ketua Bidang Bantuan Hukum Peradi semarang; Korwil Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jateng dan DIJ, dan Ketua Bidang Hukum Forum Kesatuan Advokat Indonesia Semarang.  Namun kini semua jabatan itu  sudah tak diembannya lagi.

Selama menjadi advokat, Rangkey pernah beberapa kali mendapat teror, seperti ancaman lewat telepon, mobil dibaret-baret,  ban digembosi, hingga rumah dilempari batu tanpa tahu siapa pelakunya.

Selain itu, ayah 3 anak dan 4 cucu ini pernah merasakan jeruji besi tahanan selama 10 hari. Kejadian itu dialami sekitar 1997. Saat itu dirinya dianggap menghalangi penyidikan Polres Salatiga.

“Saat ditahan di polres, saya satu sel dengan 20 tahanan lainnya. Padahal ruangannya hanya berukuran 2×3 meter persegi, bahkan untuk duduk saja susah. Baru setelah protes, paginya saya dipindah ke Rutan Salatiga,”kenang alumni SD Kartika Padang, SMP Muhamadiyah 3 Semarang, dan SMA Negeri 5 Solo ini. (*/aro)