MENJAGA TRADISI: Tari Kuda Lumping dari Kabupaten Semarang dipentaskan dalam peringatan Hari Tari Dunia yang digelar Universitas Negeri Semarang di Kampung Budaya, Gunungpati, Semarang, Minggu (29/4). (Bawah) Direktur Leprid Paulus Pangka menyerahkan piagam dan tropi rekor kepada Rektor UNNES Prof Dr Fathur Rokhman MHum. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA TRADISI: Tari Kuda Lumping dari Kabupaten Semarang dipentaskan dalam peringatan Hari Tari Dunia yang digelar Universitas Negeri Semarang di Kampung Budaya, Gunungpati, Semarang, Minggu (29/4). (Bawah) Direktur Leprid Paulus Pangka menyerahkan piagam dan tropi rekor kepada Rektor UNNES Prof Dr Fathur Rokhman MHum. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG  Universitas Negeri Semarang (UNNES) kembali menyabet penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid). Kali ini, penghargaan diraih tepat pada peringatan Hari Tari Dunia (HTD), Minggu (29/4) kemarin. Penghargaan ini diberikan karena UNNES berhasil menampilkan 60 tari tradisional dari berbagai daerah.

Tarian dari Sabang yakni Aceh menjadi tarian pembuka, disusul tarian dari daerah lainnya. Pada peringatan HTD tahun-tahun sebelumnya, UNNES menyelenggarakan pergelaran tari selama 12 jam tanpa berhenti, 18 jam nonstop, dan terakhir 24 jam tanpa berhenti, maka pada perayaan kelima ini berbeda, yakni menjadikan kuantitas sebagai tolok ukurnya, yakni 60 tarian.

“Seni tari berbasis kebudayaan nusantara kami jadikan untuk mempererat kebhinekaan. Tari tidak hanya menjadi sarana hiburan, namun menjadi sarana ekspresi keberagaman yang mesti terus dikembangkan,” kata Ketua Panitia HTD UNNES, Udi Utomo, saat membuka peringatan Hari Tari Dunia yang digelar Jurusan Seni Drama Tari dan Musik Universitas Negeri Semarang (Unnes) di Kampung Budaya, Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, Minggu (29/4).

Ia menjelaskan, pada tahun ini tema yang diusung adalah ‘Persembahan Tari Nusantara sebagai Wujud Persatuan Bangsa dalam Memperkuat dan Merekat NKRI’. Dalam acara tersebut, UNNES menampilkan 60 tarian tradisi dan kreasi. Seni tari sendiri, lanjut dia, menjadi bagian dari kebudayaan nusantara yang terus berkembang di tengah masyarakat.

“Dengan demikian, ada nilai-nilai dalam kesenian ini yang dihayati oleh masyarakat, di sini kami coba mendorong agar seni tari terus dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya, baik sebagai sarana edukasi, penyebaran nilai luhur, maupun hiburan,” ucapnya.

Hadir dalam pembukaan HTD Unnes, antara lain Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof Rustono MHum, Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Prof YL Sukestiyarno PhD, Dekan FBS Prof Agus Nuryatin MHum, Wakil Bupati dan Wakil Ketua DPRD Aceh Tamiang, dan Direktur Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) Paulus Pangka. Dalam kesempatan itu, Leprid memberikan anugerah kepada Jurusan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni UNNES yang telah menyelenggarakan HTD untuk kategori Pergelaran Tari Nusantara Terbanyak.

“Peringatan HTD di UNNES patut diapresiasi, karena coba mengangkat keanekaragaman budaya Indonesia dalam bentuk tarian nusantara baik itu tari kreasi dan tradisi,”ujar Paulus Pangka.

Dari catatannya, kegiatan kemarin menampilkan total 432 penari, 129 pengrawit, 60 sajian tari dari 21 provinsi dan 15 kabupaten selama 510 menit. Penyaji berasal dari mahasiswa, siswa sanggar, hingga seniman.

“Leprid telah mencatatkan sejumlah prestasi UNNES dalam kegiatan berkebudayaan, antara lain pergelaran wayang kulit dengan dalang gagrak Surakarta dan Jogjakarta, pergelaran tari dengan varian terbanyak (171 sajian oleh 2.000 penari selama 25 jam), dan tari goyang konservasi diiringi gamelan oleh 10.573 orang,” tambahnya.

Wakil Bupati Aceh Tamiang, Suryani, mengatakan, seni tari menjadi sarana untuk menekan kemerosotan moral di tengah generasi muda saat ini. Misalnya, dari narkoba dan paham radikalisme. “Salah satu cara agar generasi muda terhindar dari narkoba adalah menyalurkan bakat seni mereka. Orangtua bertanggung jawab untuk hal tersebut,”ucapnya. (den/bis/aro)