Debat Pilbup Magelang Seperti Kontes Pidato

640
DEKLARASI DAMAI : Kedua paslon Bupati-Wakil Bupati Magelang 2018 membacakan deklarasi Pilkada Damai usai debat publik di GOR Gemilang komplek kantor Pemkab Magelang, Sabtu (28/4) malam. (Ahsan fauzi/radar kedu)
DEKLARASI DAMAI : Kedua paslon Bupati-Wakil Bupati Magelang 2018 membacakan deklarasi Pilkada Damai usai debat publik di GOR Gemilang komplek kantor Pemkab Magelang, Sabtu (28/4) malam. (Ahsan fauzi/radar kedu)

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Magelang menggelar debat publik bagi dua pasangan calon (paslon) Bupati-Wakil Bupati Magelang 2018 di GOR Gemilang Sabtu (28/4) malam.

Debat  perdana dengan tema ekonomi dan kesejahteraan masyarakat tersebut dipandu oleh moderator Rory Asyari dan menghadirkan tiga panelis. Yakni Arie Sujito doktor sosiologi Fisipol Universitas Gajah Mada Yogyakarta; Dr Abdul Gaffar Karim dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM dan Wasingatu Zakiah dari Institute of Development Economic and Analisys (IDEA). Selama 1,5 jam kedua paslon sama-sama menyampaikan program dan visi misinya jika terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Magelang 2018-2024.

Dalam debat  tersebut mestinya bisa memberikan gambaran program, beradu gagasan, saling mengkritisi dan memberikan masukan. Namun, ternyata tak ubahnya seperti lomba sambutan atau kontes pidato.

“Debat perdana ini menurut saya kurang tajam, terlalu normatif dan kurang menggigit. Pada dasarnya, esensi dari debat publik adalah agar publik tahu apa sebenarnya pendapat atau argumen mereka para kandidat cabup dan cawabup bukan seperti kontes pidato,” ucap Arie Sujito usai debat.

Pria yang juga Ketua Departemen Sosiologi UGM Yogyakarta itu menuturkan, debat yang kurang tajam dan terlalu normatif ini, juga tak lepas dari mekanisme peraturan KPU yang tidak menggali pemikiran dan pendapat mereka dari sisi panelis, pertanyaan hanya diserahkan kepada moderator. “Desain debat seperti ini kurang menantang. Kalau tidak digali argumen di balik pendapat dan terkesan normatif. Saya berharap pada debat yang kedua dan ketiga nanti, mereka mampu bertarung dari sisi data, menyampaikan secara empiris, tidak cuma awang-awang,” tukasnya.

Paslon nomor urut 1, Zaenal Arifin (petahana bupati) dengan Edy Cahyana (Padi) diusung oleh koalisi PDI Perjuangan, PKB, PAN, Partai Demokrat dan PPP dalam paparanya mengusung slogan “Sedaya Amanah”. Kepanjangan dari masyarakat sejahtera, berdaya saing dan amanah.

Tiga poin tersebut yang akan menjadi acuan paslon dalam menjalankan roda pemerintahan jika terpilih nanti. “Di dalam visi besar kami, ada tiga hal utama. Yakni bicara kesejahteraan, daya saing dan berbicara tentang amanah. Ketiga hal tersebut akan kami breakdown misi yang nanti akan diteruskan dalam dasa cita,” ujar Zaenal.

Paslon nomor urut 2, HM Zaenal Arifin-Rohadi Pratoto(Zaroh) yang diusung koalisi Partai Gerindra, Partai Golkar, dan PKS menyampaikan, Kabupaten Magelang mempunyai potensi alam yang sangat besar. Didukung jumlah penduduk yang besar pula, maka jika dikelola dengan baik akan dapat menyejahterakan masyarakat.

“Visi kami yang utama pada lima tahun ke depan adalah terwujudnya Magelang yang bersahabat dan sejahtera. Artinya bersih yakni pemerintah bersih dari KKN, santun artinya menghargai silang pendapat, pelaku kepentingan, dan hebat artinya terwujudnya pemerintah yang mampu menyejahterakan masyarakat,” urai  HM Zaenal Arifin.

Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Magelang, Afifuddin, menjelaskan debat publik ini merupakan fasilitas kampanye dari KPU untuk dua paslon untuk menyampaikan program, visi dan misi supaya diketahui masyarakat.

Afif melanjutkan, debat putaran kedua akan digelar pada 26 Mei 2018 dengan tema tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih. Adapun debat putaran terakhir direncanakan 22 Juni 2018 dengan tema isu-isu strategis dalam pengelolaan pemerintahan. (san/lis)