Oleh: Daniel Agung
Oleh: Daniel Agung

RADARSEMARANG.COM – DI era sekarang ini, menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Meskipun yang kita hadapi adalah para siswa, tetapi fakta di lapangan menunjukkan beberapa hal yang mengejutkan. Sebagai contoh peristiwa Bapak Budi di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Guru SMA yang dipukul oleh siswanya. Atau Ibu Lastini di Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, Guru SD yang dianiaya oleh orangtua siswa. Berangkat dari kejadian tersebut di atas, maka penulis ingin berbagi beberapa tips yang bisa kita lakukan untuk meminimalisasi hal tersebut terjadi kepada bapak/ibu guru.

Tips yang pertama ini lebih dikhususkan bagi bapak/ibu yang baru menjadi guru. Cobalah untuk memilih model “gaya” mengajar yang sesuai dengan karakter bapakiIbu dan atau karakter mata pelajaran yang diampu. Tidak selalu suatu “gaya” mengajar dapat kita terapkan pada setiap guru. Tidak selalu juga suatu gaya mengajar dapat diterapkan pada semua mata pelajaran. Semua kembali pada pilihan bapak/ibu, lebih merasa nyaman dengan “gaya” mengajar yang mana.

Tips yang kedua, jadikan penampilan bapak/ibu menarik bagi para siswa  yang dihadapi. Tampil menarik tidak hanya menjadi milik bapak/ibu guru yang dianugerahi wajah ganteng atau cantik saja. Tampil menarik bisa juga diciptakan dari pembawaan yang bersih, ramah, mudah tersenyum, berkata santun, dan lain-lain. Karena tidak jarang terjadi, ketertarikan para siswa  terhadap suatu mata pelajaran itu dimulai dari ketertarikan terhadap bapak/ibu guru pengajarnya. Semakin para siswa  tertarik dan mengidolakan bapak/ibu gurunya, maka akan semakin mudah bapak/ibu guru dalam menyampaikan materi pelajarannya. Bahkan sesulit apapun materi pelajaran tersebut.

Tips yang ketiga, kenali karakter para siswa  satu persatu. Seringkali akan kita jumpai beberapa siswa  yang memiliki “kelebihan”. Baik “kelebihan” dalam hal prestasi, keberanian, kedewasaan bahkan aktivitas. Setelah kita kenali karakter para siswa  tersebut, maka langkah berikutnya adalah melibatkan mereka dalam kegiatan proses belajar-mengajar kita. Yang lebih dalam hal akademis, dapat kita berikan tugas untuk membantu teman-temannya yang kurang. Sedangkan yang lebih berani dan aktif misalnya, dapat dilibatkan sebagai koordinator kelompok atau sejenisnya. Demikian seterusnya.

Tips yang keempat, jika dalam kegiatan pembelajaran bapak/ibu terdapat siswa  yang melakukan pelanggaran, maka hal pertama yang bisa dilakukan adalah menegur secara baik-baik. Jika kemudian siswa  membantah atau melawan, maka langkah berikutnya adalah minta siswa  tersebut untuk keluar kelas dan menunggu bapak/ibu guru di luar (dapat dilakukan juga setelah pelajaran berakhir, sangat bergantung pada kondisi di lapangan). Berikan tugas kepada siswa  yang berada di dalam kelas, dan kemudian bapak/ibu dapat menemui secara pribadi siswa  yang berada di luar kelas.

Carilah lokasi yang dirasakan nyaman bagi bapak/ibu dalam melakukan pembicaraan dengan siswa  tersebut. Upayakan pembicaraan tersebut tidak bisa didengarkan oleh orang lain agar siswa  tersebut juga merasa privasinya tetap terjaga. Lakukan pembicaraan dari hati ke hati kepada siswa  itu. Apabila bapak/ibu guru mengetahui latar belakang dari siswa  tersebut, maka itu akan sangat membantu dalam melakukan pendekatan.

Pada banyak kejadian, pendekatan ini sangat efektif dilakukan. Bahkan di akhir penanganan, siswa  seringkali mengakhiri pembicaraan dengan meminta maaf kepada bapak/ibu guru. Sesuatu yang mungkin lebih sulit dilakukan siswa  tersebut ketika masih di dalam kelas dan berada di depan teman-temannya. (tj3/2/aro)

 Guru SMK Negeri  7 Semarang