TAK NEKO-NEKO : Anastasia Fitri S, sudah 12 tahun menjadi lady bikers. Saat ini mengendarai Aerox 155 tergabung dan dalam ARCI Semarang ini sudah 12 tahun. (ISTIMEWA)
TAK NEKO-NEKO : Anastasia Fitri S, sudah 12 tahun menjadi lady bikers. Saat ini mengendarai Aerox 155 tergabung dan dalam ARCI Semarang ini sudah 12 tahun. (ISTIMEWA)

Sekarang ini bikers perempuan kian memesona di jalanan. Kepiawaian berkendara saat touring, tak kalah dengan kaum pria. Tentu saja, ini fenomena yang berbeda dengan beberapa tahun silam.

RADARSEMARANG.COM – BANYAK manfaat yang didapat Anastasia Fitri S, 32, setelah menggeluti dunia otomotif dan bergabung dengan komunitas. Selain menambah banyak teman, dia kini memiliki banyak pengetahuan tentang dunia otomotif.

Fitri nama sapaannya adalah salah satu dari dua wanita punggawa Aerox 155 Riders Club Indonesia (ARCI) Semarang. Ia sudah ikut-ikutan menjadi anggota club motor sejak tahun 2006 silam. “Dulu saya memakai motor matic Mio dan bergabung dengan Komunitas Mio. Tapi setelah punya Aerox dengan kapasitas mesin lebih besar, saya mulai gabung ke club baru ini,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di sela kopi darat di Jalan Pahlawan Semarang.

Diakui Fitri, motor barunya cukup menantang baginya yang bertubuh mungil. Apalagi bobot, dimensi dan kapasitas mesin motor barunya, hampir dua kali lebih besar dari Mio. Meski begitu, bagi Fitri menunggangi Yamaha Aerox bertubuh bongsor, membuat dirinya lebih percaya diri dan lebih bisa menikmati perjalanan.

“Ya kayak lebih mantap saja dan lebih kencang juga. Buat perjalanan jauh juga enak, karena motornya besar. Tapi ya harus memiliki skill khusus untuk mengendarainya,” ucapnya.

Ia mengenang, kali pertama coba-coba masuk komunitas motor, sempat mendapatkan tentangan dari kedua orang tuanya. Apalagi kala itu, umurnya masih terbilang belia,yakni masih 20 tahun. Namun tekad dan niatnya untuk menambah pengetahuan, teman dan persaudaraan, tak menyurutkan langkah. Akhirnya ia mendapatkan lampu hijau untuk bergabung ke komunitas motor.  “Alasannya dulu karena cewek, nggak boleh keluar malam. Tapi kala itu, saya cuma menekankan bahwa saya bisa jaga diri dan nggak akan bergaul dengan yang aneh-aneh pula,” bebernya.

Baginya menjadi salah satu anggota club motor atau menjadi lady bikers, punya manfaat banyak ketimbang hanya berdiam diri di rumah. Selain tahu cara perawatan kendaraan yang benar, ia juga mendapatkan teknik dan tata cara berkendara yang benar pula. “Manfaatnya lebih banyak, asalkan kita lurus-lurus saja. Bahkan, nggak akan ada masalah. Apalagi dengan punya banyak teman dan relasi, ketika ada masalah di jalan, pasti ada yang menolong,” jelasnya.

Untuk menghilangkan citra dan stigma negatif masyarakat terhadap lady bikers, lanjut Fitri, semua tergantung kepada pribadi masing-masing. Paling penting adalah melakukan kegiatan positif, menghormati sesama pengguna jalan dan menaati peraturan lalu lintas yang ada. “Club motor kan nggak semuanya jelek dan ugal-ugalan. Kami juga punya program sosial membantu sesama,” bebernya.

Untuk masalah touring, bisa dibilang jam terbang Fitri sangat tinggi. Mulai Bali, Anyer, Suramadu, Jakarta dan beberapa kota besar lainnya pernah ia sambangi dengan motor kesayangannya. Bahkan ia enggan jika dibonceng, jauh lebih suka menikmati perjalanan dengan mengendarai motor sendiri. “Kalau bisa jadi bikers, kenapa harus jadi boncengers. Kalau touring merasa capek, tetap bisa istirahat, jadi nggak ngoyo,” paparnya.

Hampir 12 tahun menjadi lady bikers, Fitri punya berbagai pengalaman unik. Ia mengenang, ketika ada touring ke Bogor, cuaca tidak mendukung. Perjalanan dari Semarang sampai Cirebon diterjang hujan deras dan banjir menghadang. “Lucunya saya nggak pakai sepatu, karena sepatunya cuma satu. Dalam perjalanan jadi pusat perhatian karena bertelanjang kaki,” kenangnya.

Fitri berharap, ke depan citra negatif komunitas motor ataupun lady bikers bisa hilang. Ia mengimbau kepada seluruh pencinta otomotif untuk tetap menghormati pengendara jalan lainnya, agar tidak ada yang merasa dirugikan. (den/ida)