RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Jumlah ketersediaan lapangan kerja di Kota Semarang masih belum berimbang dengan banyaknya pencari kerja. Kendati Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang sudah berusaha menekan angka pengangguran dengan menggelar job fair atau bursa kerja secara berkelanjutan.

“Hingga saat ini masih ada ketimpangan besar antara jumlah pencari kerja dengan ketersediaan lowongan kerja. Kami sudah menggelar job fair, namun kompetensi pelamar kerja tidak sesuai dengan skill yang dibutuhkan perusahaan,” tandas Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Semarang, Iwan Budi Setiawan, kemarin.

Kondisi tersebut, kata Iwan, menyebabkan pencari kerja kesulitan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Untuk membantu mengatasi kesulitan tersebut, pihaknya berupaya mencarikan solusi dengan memfasilitasi para pencari kerja dengan cara menggelar job fair berkelanjutan bekerjasama dengan beberapa pihak. “Kami bekerjasama dengan Disnakertrans Pmprov Jateng menyelenggarakan job fair pada 8-9 Mei. Selain itu, akan digelar di Universitas Katolik (Unika) Soegijapranoto pada 12-13 Mei,” katanya.

Sebelumnya, job fair digelar dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-471 Kota Semarang di halaman Kantor Disnaker Kota Semarang Rabu hingga Kamis (25-26/4). “Seperti job fair kemarin, kami menyediakan sebanyak 4.352 lowongan pekerjaan. Tentunya untuk mengurangi angka penggangguran di Kota Semarang,” katanya.

Prinsipnya, kata Iwan, Pemkot berupaya memertemukan pelamar kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. “Kami berharap ada interaksi yang baik agar pelamar bisa menemukan pekerjaan yang sesuai,” katanya.

Setidaknya, lanjut Iwan, angka pengangguran di Kota Semarang bisa ditekan secara berkelanjutan. “Disnaker Kota Semarang telah bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi dan beberapa instansi lain agar memfasilitasi para pencari kerja,” katanya.

Kepala UPTD BLK Disnaker Kota Semarang, Augus Tineke, mencatat jumlah orang yang mencari pekerjaan di Kota Semarang setiap tahun sedikitnya 30 ribu orang. Jumlah tersebut merupakan warga yang telah mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Disnakertran Kota Semarang.

Hanya saja, sebagian yang bisa tertampung untuk mendapatkan tempat kerja. Sebab, setiap tahun tercatat hanya tersedia lowongan kerja kurang lebih 17 ribu. Artinya, ketersediaan lapangan kerja dengan pencari kerja hingga saat ini belum seimbang. “Banyaknya jumlah lulusan yang tidak sesuai dengan lowongan kerja menjadi salah satu faktor timbulnya kesenjangan. Nah, Balai Latihan Kerja berupaya menanggulangi kesenjangan itu,” katanya.

Menurut dia, pelatihan kerja melalui BLK menjadi alternatif agar pencari kerja memiliki kemampuan atau keahlian khusus. Sebab, keterserapan tenaga kerja tidak maksimal karena skill lulusan tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Setiap pelatihan di BLK, sedikitnya 70 persen yang diterima kerja. “Tidak hanya membantu menyalurkan tenaga kerja, bahkan 30 persen peserta yang mengikuti pelatihan kerja mampu membuka lapangan kerja sendiri dengan wirausaha mandiri. Misalnya pelatihan otomotif, desain grafis, salon, menjahit, dan lain-lain. Jenis pelatihan ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Semua pelatihan gratis, bahkan peserta pelatihan mendapatkan uang saku,” katanya. (amu/ida)