MERIAH : Prosesi karnaval Paskah di Kota Lama Semarang, Sabtu (28/4) kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERIAH : Prosesi karnaval Paskah di Kota Lama Semarang, Sabtu (28/4) kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Akulturasi dan kekayaan budaya yang ada di Kota Semarang, bisa dijadikan potensi wisata. Termasuk hari besar keagamaan yang dimeriahkan dengan kirab, dapat menjadi daya tarik wisatawan untuk datang.

Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP, Juliari P Batubara mengatakan jika pluralitas dan toleransi antar umat bergama di Semarang patut menjadi contoh kota lainnya, sekaligus menjadi potensi Semarang di sektor wisata. Dimana semua umat beragama dan kebudayaan bisa menyatu dan berdampingan dengan damai.

“Mulai dari Dugderan, Karnaval Paskah, Pawai Ogoh-Ogoh, Kirab Ceng Ho dari Kota Lama. Semua itu, kalau dikemas dengan baik, bisa menjadi daya tarik wisata bagi Kota Semarang,” katanya usai menghadiri perayaaan Karnaval Paskah di Semarang, kemarin.

Ia menegaskan, Karnaval Paskah bukan hanya perayaan agama, justru bisa dikembangkan sebagai potensi wisata yang cukup efektif untuk menarik tingkat kunjungan wisatawan. “Saya kira bagus dalam rangka memperkenalkan kawasan Kota Lama sebagai ikon wisata Kota Semarang. Demikian juga perayaan agama lain yang juga bertempat di Kota Lama,” ucapnya.

Terpisah, Budayawan Semarang, Jongkie Tio menerangkan jika akulturasi budaya di Semarang bisa terbentuk karena adanya asimilasi alamiah dari warga Tionghoa, Jawa dan Arab yang telah terjadi berabad-abad lalu. Zaman dahulu, Semarang menjadi kota melting pot beberapa suku yang ada. Bahkan Semarang dahulu menjadi pintu masuk ke Jawa dan menjadi kota pelabuhan.

“Sampai saat ini menjadi kota yang sangat penting bagi Indonesia. Zaman dahulu di Semarang ada Kerajaan Mataram yang sampai saat ini masih ada. Karena menjadi pintu masuk ke Jawa. Tak heran warga Semarang memiliki akulturasi budaya yang kental dan terjaga sampai sekarang,” jelasnya. (den/ida)