Oleh: Ida Herawati  MPd
Oleh: Ida Herawati  MPd

RADARSEMARANG.COM – TATA krama atau unggah-ungguh tidak lepas dari kehidupan dalam masyarakat Jawa. Tata krama sendiri suatu aturan yang diwariskan secara turun-temurun untuk mengatur hubungan antara individu satu dengan individu lainnya. Tata krama mempunyai tujuan agar saling pengertian, hormat-menghormati antar sesama dalam masyarakat Jawa pada umumnya. Selain itu, unggah-ungguh menjadi ciri khas masyarakat Jawa yang terkenal dengan kesantunan dan kesopanannya di saat berbicara dengan orang lain, baik kepada yang lebih tua atau yang lebih muda. Maka dari itu, betapa pentingnya berkomunikasi dengan mengutamakan unggah-ungguh dalam bermasyarakat tersebut. Ada banyak cara berunggah-ungguh, contohnya cara berperilaku pada guru, orangtua, serta teman sebaya.

Namun sayangnya, tata krama atau unggah-ungguh tersebut mulai luntur dalam masyarakat Jawa, dan jarang diajarkan lagi pada generasi muda. Bahkan ironinya,  generasi zaman now mengajarkan pada anak cucu mereka menggunakan Bahasa Indonesia. Mereka seakan tidak mengakui bahwa mereka dilahirkan pada komunitas Jawa, sehingga tidak mengerti tentang etika unggah-ungguh.

Guru adalah salah satu orang yang harus dihormati dalam masyarakat. Dalam hal ini karena guru telah memberi mereka pengetahuan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak bisa menjadi bisa. Guru memunculkan generasi-generasi penerus yang hebat, namun guru bukanlah orang hebat. Tidaklah heran jika masyarakat dulu sangat menghormati para guru, terlebih dalam bersikap unggah-ungguh kepada gurunya. Sayangnya, sikap unggah-ungguh dalam beretika kepada guru mulai pudar (hilang). Dalam hal ini sangat-sangat memprihatinkan. Entah siapa yang salah pada keadaan ini, mungkin karena terpengaruh dengan budaya luar ataukah kita sendiri yang tidak bisa melestarikan dan menjaga tradisi tersebut.

Banyak contoh unggah-ungguh siswa yang menyimpang dari tata krama. Dulu siswa jarang sekali berani lewat di depan guru, mereka pasti akan memilih menyimpang ke jalan lain. Jika terpaksa untuk melewati gurunya, siswa akan menunduk dan membungkuk sebagai tanda rasa hormat pada gurunya. Siswa sekarang lewat di depan guru dengan santainya tanpa rasa ‘ewuh pakewuh’ bahkan sambil berlari begitu saja tanpa permisi. Di saat berbicara pada guru, ternyata sudah banyak siswa tidak dapat menggunakan bahasa krama. Guru berbicara menggunakan bahasa ngoko, siswa menjawabnya dengan bahasa ngoko pula.

Meski sudah berkali-kali ditekankan pada anak-anak untuk berbicara menggunakan bahasa Indonesia di kala tidak bisa menggunakan bahasa krama. Para siswa seakan tidak mempedulikan apa yang dinasehatkan guru. Ini menandakan pudarnya rasa hormat, sopan santun, etika, tata krama atau unggah-ungguh generasi sekarang, bahkan bisa dikatakan lama-kelamaan akan hilang dalam lingkungan masyarakat sekarang ini.

Sikap seorang murid pada gurunya di saat ini cenderung tidak mempunyai rasa hormat. Maka dari itu banyak terjadi siswa bersikap kurang ajar terhadap gurunya. Tidak hanya siswa, orang tua siswa pun telah hilang unggah-ungguhnya terhadap seorang pendidik.

Dengan kondisi di atas mari kita pertahankan ciri khas masyarakat Jawa ini. Dengan berusaha mengajarkan tata cara berunggah-ungguh pada generasi kita, maka kesopanan akan tetap terjaga. Sekali lagi, guru bukan orang hebat, namun dapat melahirkan generasi yang hebat! Dengan unggah-ungguh, kita dapat menghormati orangtua, guru, teman sebaya sesuai dengan norma kesantunan. Untuk itu, sangatlah penting untuk menjaga tradisi unggah-ungguh, apalagi di era globalisasi ini dan untuk menyongsong Indonesia Emas ke depan. (tj3/2/aro)

Guru SMP Negeri 2 Garung Wonosobo