Wali Kota Bebaskan Pedagang Rejomulyo Pindah Sayung

331
Hendrar Prihadi (DOKUMENTASI)
Hendrar Prihadi (DOKUMENTASI)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi tak nggondeli jika pedagang Pasar Rejomulyo atau Pasar Kobong Semarang akan pindah ke Sayung, Demak. Sebab, hal  itu menjadi hak pedagang untuk memilih.

“Kami tidak akan membatasi warga Indonesia untuk mencari pekerjaan. Silakan saja. Demak juga Indonesia. Semarang juga Indonesia. Jadi monggo. Mau di Semarang ya Alhamdulillah. Mau pindah ke Demak juga nggak apa-apa. Itu tetangga kita juga,” kata Hendi -sapaan akrab Hendrar Prihadi, Jumat (27/4).

Hendi juga meminta agar semua pihak menghormati hukum. “Kita ini hidup di negera hukum. Toh, kemarin kami tidak arogan, juga tidak sewenang-wenang. Pemerintah tidak menggusur begitu saja. Setelah semuanya jelas, mari kembali duduk bersama memikirkan Semarang melakukan percepatan pembangunan,” tambahnya.

Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, meminta agar semua polemik atau persoalan di Kota Semarang harus dikomunikasikan dengan baik. “Grosir pelelangan ikan Rejomulyo satu-satunya grosir terbesar kedua setelah Muara Angke Jakarta. Ini merupakan aset Kota Semarang. Tentunya eman-eman, kalau kemudian mereka mengancam pindah,” katanya.

Tentu hal itu juga berpengaruh terhadap roda perekonomian di Kota Semarang. Kalau persoalan seperti itu tidak diselesaikan secara baik-baik pastinya akan berlarut-larut. “Kalau dibiarkan ya mereka akan pindah beneran. Pemkot Semarang harusnya bisa mencari solusi win-win solution. Sebetulnya Pemkot Semarang telah membangun tempat representatif dengan biaya besar. Hanya saja tidak sesuai dengan kemauan dan kebutuhan pedagang. Ini pengalaman berharga, agar ketika membangun sesuatu itu harus dikomunikasikan dengan lingkungan. Termasuk para pengguna,” paparnya.

Contoh kasus yang terjadi di Pasar Rejomulyo ini harus dijadikan pengalaman agar ke depan sistem perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan yang dilakukan Pemkot Semarang. Jangan sampai setelah dibangun, selanjutnya pedagang tidak menempati. “Sebetulnya pemkot kan sudah membangunkan tempat itu. Tapi di sisi lain, ada ketidakpuasan dengan pedagang. Terkait akses, lapak, dan lain-lain. Jadi, mereka merasa ditinggal. Kalau sudah telanjur kan malah terbengkalai,” katanya.

Tentu saja, lanjut Supriyadi, kalau sampai pedagang Rejomulyo pindah ke Sayung Demak, maka Kota Semarang akan kehilangan salah satu aset yang paling berharga. Banyak warga setiap hari mengais rezeki di situ. “Maka dari itu, hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana komunikasi antara Dinas Perdagangan Kota Semarang dengan pedagang untuk mencari solusi yang terbaik. Saya yakin akan ketemu kalau ada komunikasi dua arah,” ujarnya.

Walaupun secara hukum Pemkot Semarang telah menang, tetapi di sisi lain ini menyangkut hajat hidup orang banyak. “Kami berharap ada komunikasi agar tempat yang ada ini bisa disempurnakan. Kalau memang butuh anggaran, untuk membangun, kami siap saja mensupport. Kalau tidak ada komunikasi, maka Pemkot Semarang ini dianggap arogan dalam merelokasi. Kalau ini dibiarkan, Semarang akan kehilangan investor. Alangkah baiknya, sebelum tanggal 3 Mei (jadwal pemutusan jaringan listrik) bisa menemukan solusi terbaik. Pedagang sendiri sudah membuka diri untuk adanya ruang diskusi, tentunya Pemkot Semarang mestinya segera menindaklanjuti,” katanya.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, menegaskan, pihaknya telah memberikan surat pemberitahuan kepada pedagang ikan basah berjumlah 66 orang untuk segera pindah. Fajar memberi batas waktu hingga 2 Mei mendatang. Selanjutnya, petugas dari Bagian Aset Pemkot Semarang akan melakukan pembongkaran bangunan Pasar Rejomulyo lama. “3 Mei kami matikan sambungan listrik. Bagi yang belum pindah, tetap kami bongkar,” tegasnya. (amu/aro)