Tidak Umbar Janji dan Program saat Kampanye

326
DENGARKAN KELUHAN: Ganjar Pranowo ketika mendengarkan keluhan Sukiyem tentang anaknya yang mengalami kecelakaan tunggal dan tidak punya BPJS atau jaminan kesehatan pemerintah lain. (ISTIMEWA)
DENGARKAN KELUHAN: Ganjar Pranowo ketika mendengarkan keluhan Sukiyem tentang anaknya yang mengalami kecelakaan tunggal dan tidak punya BPJS atau jaminan kesehatan pemerintah lain. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM, SRAGEN – Kampanye yang dilakukan calon Gubernur Jateng nomor urut 1, Ganjar Pranowo dilakukan dengan menyelesaikan persoalan warga secara langsung. Bukan mengumbar janji-janji dan memberondong program-program kerja. Seperti yang dilakukannya saat Ngopi Bareng di Posko Pendukung Ganjar Yasin Perumahan Tegalsari Asri, Sragen Kulon, Sragen, kemarin.

Di tengah dialog dengan pelaku ekonomi kreatif, Ganjar dikejutkan oleh kedatangan seorang ibu yang mendekat dengan takut-takut. Ibu bernama Sukiyem, 52, itu duduk di bibir panggung. “Anak saya kecelakaan, Pak. Di rumah sakit,” katanya dengan lirih.

Ganjar  yang kurang paham kemudian duduk di samping Sukiyem. Dari dialog singkat diketahui anak Sukiyem bernama Pri Hartanto, 25. Pemuda itu mengalami kecelakaan tunggal sepeda motor beberapa hari lalu sehingga dirawat di RS Mardi Lestari Sragen.

Sukiyem yang bekerja serabutan tidak mampu membayar biaya rumah sakit yang bernilai jutaan. Ia pun tak punya BPJS atau jaminan kesehatan pemerintah lainnya.

“Sekarang anak saya sudah sembuh tapi tidak boleh pulang karena belum bayar,” kata warga Desa Nglorog, Kecamatan Sragen itu.

Sebagai bukti, Sukiyem menyerahkan dokumen tagihan rumah sakit dan fotokopi KTP anaknya kepada Ganjar. Tanpa banyak kata, politisi PDIP itu memanggil ajudannya. “Nggih nanti biar diurus masnya ini, Ibu tenang mawon,” jawab Ganjar.

Ada lagi Sarwoko, 45, seorang penarik becak yang mengadu karena tak pernah mendapat bantuan pemerintah. “Anak saya dua sekolah semua tapi tidak dapat Kartu Indonesia Pintar. Terus apa itu pak, KIS, raskin juga nggak dapat, bukan saya saja teman-teman itu semua juga tidak dapat,” katanya sambil menunjuk keluar.

Memang tak hanya Sarwoko dari kalangan penarik becak yang datang. Ngopi Bareng di mulut gang perumahan itu juga diikuti lebih dari 30 penarik becak. Ada juga tukang ojek, petani, pedagang kaki lima, dan komunitas pegiat wisata. Satu persatu mengadukan persoalannya sendiri-sendiri. “Saya sudah pernah tanya kepada lurah kok tidak dapat bantuan, dijawabnya katanya sudah nasib,” lanjut Sarwoko, warga Kelurahan Sragen Kulon itu.

Ganjar meminta Sarwoko mengumpulkan teman-temannya yang miskin namun belum dapat bantuan. Ia diminta mendata dengan menuliskan nama dan alamat. “Datanya kasihkan saya, nanti saya urus,” tuturnya.  (amh/zal)