Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas di Era Disrupsi

572
Oleh : Veronica Kusdiartini
Oleh : Veronica Kusdiartini

RADARSEMARANG.COM – Era disrupsi merupakan era terjadinya perubahan dari cara manual menjadi serba digital. Dalam era disrupsi terjadi perubahan drastis, mengubah tatanan kehidupan manusia dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang jasa.

Pada era disrupsi ini konsumen dimanjakan oleh berbagai fasilitas yang lebih maju. Konsumen bebas memilih berbagai tawaran pelayanan yang memberi kemudahan serta kecepatan dalam segala pelayanan yang dibutuhkan (seperti kebutuhan transportasi, kebutuhan makanan siap santap, kebutuhan jasa laundry, kebutuhan jasa kebersihan, kebutuhan jasa perbankan, kebutuhan jasa pendidikan, dsb).

Hal ini tidak dapat dipungkiri dan tidak terelakkan lagi. Bagi produsen yang tidak dapat mengikuti perkembangan di era disrupsi ini, tentunya akan segera ditinggalkan oleh konsumen yang menghendaki segala kebutuhannya terpenuhi secara instan. Pada situasi terancam, produsen seharusnya mulai melakukan tindakan mengubah segala usaha yang masih bersifat manual/tradisional menjadi digital. Produsen harus berpikir ke depan, jangan puas dengan kesuksesan masa lalu.

Situasi ini menjadi dilema bagi produsen yang bergelut pada bidang jasa pendidikan. Di satu sisi, sekolah diharapkan oleh orang tua dapat menjamin pendidikan anaknya dalam berperilaku. Tetapi di sisi lain sekolah dalam era disrupsi, juga dituntut untuk berubah total dengan pola pembelajaran secara digital. Bagaimanakah kualitas siswa lulusannya, bila dilihat dari sisi etika dan perilaku? Siswa dihadapkan pada teknologi yang serba maju dalam proses pendidikan. Bagaimana interaksi sosial antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan orang tua dan siswa dengan masyarakat sekitar?

Pada era disrupsi ini, peran guru berubah drastis. Guru harus mengembangkan diri untuk mampu menerapkan teknologi digital. Pada era disrupsi, guru perlu memiliki mindset baru, kaya inovasi, fleksibel, kreatif dan adaptif terhadap perubahan zaman. Fungsi guru bukan lagi mentransfer materi yang notabene sudah dapat diselesaikan dengan komputer/secara digital, namun justru pada saat ini guru dapatmengambil alih peran yang tidak dapat dilakukan oleh mesin komputer. Yaitu dengan lebih fokus pada pengajaran nilai-nilai etika, budi pekerti, budaya, karakter, kebijaksanaan, dan sikap sosial. Sebagai contoh, guru dapat berperan dalam penanaman budi pekerti di sekolah dengan memadukan budi pekerti yang dikaitkan ke dalam masing-masing mata pelajaran yang relevan seperti mata pelajaran agama, kewarganegaraan maupun pada mata pelajaran bahasa.

Selain keterpaduan budi pekerti dengan mata pelajaran, budi pekerti juga dapat dipadukan dengan kegiatan sehari-hari di sekolah, serta dipadukan dengan kegiatan membangun komunikasi dan kerjasama antara sekolah dengan orang tua serta peserta didik. Kegiatan tersebut dapat diwujudkan secara teknis melalui keteladanan (pendidik harus dapat memberikan contoh kesabaran, kedisiplinan, nilai-nilai moral), kegiatan spontan (ketika menghadapi tingkah laku murid yang kurang baik, guru dapat secara spontan mengingatkan dengan menanamkan nilai moral dan budi pekerti yang baik), teguran (guru juga perlu menegur siswa yang berperilaku kurang sopan, sehingga siswa dapat memperbaiki), pengondisian lingkungan (sekolah dibuat menjadi sesuatu yang menyenangkan, membahagiakan, dan menyehatkan, dengan sistem pendidikan terbuka serta memanusiakan manusia), dan kegiatan rutin adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan oleh guru untuk mengingatkan kepada murid agar berbudi pekerti. (belajarpsikologi.com).

Dengan demikian pada era disrupsi ini, dunia pendidikan tidak hanya berfokus pada sisi kemajuan teknologi saja, tetapi juga perlu menanamkan nilai-nilai budi pekerti bagi anak didiknya. Selain pentingnya menanamkan budi pekerti pada siswa, agar mampu bersaing secara positif dalam menghadapi era disrupsi tentunya siswa perlu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja, sikap terbuka, mampu bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat (Rizal, 2017).

Komunikasi antara guru, siswa dan orang tua juga perlu dilakukan secara intensif sewaktu-waktu. Dalam hai ini orang tua menjadi sumber informasi untuk menyampaikan kondisi siswa, sehingga guru memberikan bimbingan budi pekerti secara tepat kepada siswa. Demikian pula sebaliknya, guru dapat menjadi sumber informasi bagi orang tua siswa sehingga orang tua dapat memberikan bimbingan yang tepat kepada anaknya.

Bukan hanya bagi guru, siswa ataupun orang tua saja, pemegang kebijakan dunia pendidikan dalam memperbaiki sistem dan regulasi juga harus mempertimbangkan perubahan zaman yang terjadi pada era disrupsi ini. Pembuatan kurikulum tentunya harus disesuaikan, agar mampu menyerap manfaat perkembangan inovasi teknologi serta mengikuti arus perubahan zaman tanpa tercerabut dari akar hakikat pendidikan itu sendiri.

Tanpa kita sadari, isi dari kurikulum saat ini muaranya adalah pada pencapaian nilai peserta didik. Memang muatan karakter sudah mulai disisipkan di dalam setiap mata pelajaran terkait, tetapi kenyataannya terkadang muatan karakter tersebut belum tersentuh. Hal ini perlu dikaji ulang agar tidak hanya terbatas pada pencapaian nilai peserta didik saja, tetapi juga mempertimbangkan muatan pengajaran nilai-nilai etika, budi pekerti, budaya, karakter, kebijaksanaan, dan sikap sosial, dengan demikian akan menghasilkan sumberdaya manusia yang berkualitas.

Era disrupsi janganlah kita anggap sebagai ancaman melainkan justru menjadi peluang bagi kita untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, baik dari sisi fisik, jasmani maupun rohani. Pendidikan harus beradaptasi dengan kemajuan teknologi, sehingga tentunya juga dibutuhkan keberanian, dukungan dan kesiapan dari pihak produsen/pengelola untuk berinvestasi dalam penyediaan teknologi yang tepat. (*/ton)