Peningkatan Aktivitas Belajar Melalui Tutor Sebaya

260
Oleh: Rita Ernawati S.Pd, M.Pd
Oleh: Rita Ernawati S.Pd, M.Pd

RADARSEMARANG.COM – PEMBELAJARAN adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada lingkungan belajar. Interaksi peserta didik dengan lingkungan belajar, dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran. Yakni, berupa sejumlah kemampuan bermakna dalam aspek pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor) yang dimiliki peserta didik.

Keaktifan belajar peserta didik merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan proses pembelajaran. Tidak lain, untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Mereka aktif membangun pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses pembelajaran.

Keaktifan peserta didik dapat dirangsang, ditingkatkan, dan diperbaiki. Caranya, melibatkan mereka dalam proses pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran yang tepat dan menarik perhatian peserta didik, menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan aktivitas peserta didik. Harapannya, akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Nah, salah satu model pembelajaran yang bisa diterapkan untuk meningkatkan aktivitas belajar adalah tutor sebaya. Pembelajaran model ini terpusat pada peserta didik. Artinya, peserta didik belajar dari peserta didik lain yang memiliki status umur dan kematangan yang tidak jauh berbeda dari dirinya sendiri. Sehingga anak tidak merasa begitu terpaksa untuk menerima ide-ide dan sikap dari “gurunya”, yang tidak lain adalah teman sebayanya.

Dalam tutor sebaya, teman sebaya yang lebih pandai memberikan bantuan belajar kepada teman-teman sekelasnya di sekolah. Bantuan belajar oleh teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan. Bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami. Selain itu, dengan teman sebaya, tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya. Harapannya, peserta didik yang kurang paham, tidak segan-segan untuk mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.

Inti model pembelajaran tutor sebaya, pelaksanaannya dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil. Sumber belajarnya tentu bukan hanya guru. Melainkan teman sebaya yang pandai dan cepat dalam menguasai materi tertentu. Melalui model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil, peserta didik menjadi lebih aktif. Juga menjadi terampil dan berani mengemukakan pendapatnya. Selain itu, dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa karena semua peserta didik aktif. Semua perwakilan kelompok pun berani mengerjakan tugas di depan kelas dan banyak manfaat lainnya.

Lantas, apa langkah-langkah model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok kecil ini? Pertama, pilihlah materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari peserta didik secara mandiri. Kedua, bagilah peserta didik menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen, sebanyak sub-sub materi yang akan disampaikan guru. Peserta didik yang pandai, disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya. Ketiga, masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari sub-bab materi. Per kelompok dipandu oleh peserta didik yang pandai sebagai tutor sebaya. Keempat, memberikan waktu yang cukup, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

Kelima, setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi sesuai tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai narasumber utama. Nah, terakhir, setelah kelompok menyampaikan tugasnya secara berurutan sesuai urutan sub-materi, maka berikan kesimpulan dan klarifikasi seandainya ada pemahaman yang perlu diluruskan.

Tentu penerapan model pembelajaran ini memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari model ini adalah mampu meningkatkan aktivitas kegiatan belajar dengan lebih giat dan demokratis. Bagi guru, jelas lebih efisien dalam mengawasi kegiatan belajar secara kelompok. Kelemahannya, terutama dalam segi penyusunan kelompok dan segi kegiatan belajarnya yang terkadang menyimpang dari yang direncanakan. (*/isk)

Guru SMA 3 Magelang