MENJAGA TRADISI: Para anggota Ketoprak Ketawang usai pentas dengan lakon Suminten Edan, baru-baru ini. (DOKUMEN KETAWANG)
MENJAGA TRADISI: Para anggota Ketoprak Ketawang usai pentas dengan lakon Suminten Edan, baru-baru ini. (DOKUMEN KETAWANG)

RADARSEMARANG.COM – Saat ini, kesenian ketoprak nyaris ditinggalkan generasi muda. Hanya tinggal segelintir yang menekuninya. Di kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES), mahasiswa yang melestarikan seni tradisional ini tergabung dalam  Komunitas Ketawang. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

PENTAS ketoprak kini tak lagi banyak ditemui di televisi maupun di acara-acara hiburan lainnya. Saat ini, telah berganti dengan kesenian lain yang tengah digemari masyarakat. Namun bukan berarti seni ini telah sepenuhnya hilang. Masih ada anak-anak muda yang tetap ingin mengenal dan berupaya melestarikannya. Mereka tergabung dalam Komunitas Ketoprak Ketawang. Komunitas penjaga tradisi ini dibentuk sejak 1992.

“Komunitas ini sebetulnya bagian dari salah satu unit kegiatan mahasiswa di Kampus UNNES. Anggotanya kalau dihitung dari awal dengan yang sudah lulus ya banyak. Tapi kalau untuk yang saat ini, yang aktif dan masih berstatus mahasiswa sekitar 21 orang saja,”ujar Koordinator Seksi Pelatihan, Diyah Laras Santi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Setidaknya dua kali dalam seminggu mereka rutin berlatih di Pendopo UKM Kesenian Jawa Fakultas Bahasa dan Seni UNNES. Mulai dari berlatih gerak, vokal, hingga menghidupkan alur dari naskah yang akan dibawakan.

Selain latihan rutin, dalam setahun Komunitas Ketawang juga melakukan setidaknya 4 kali pementasan. Pertama pementasan dalam rangka pelantikan Ketua UKM, dan kedua pementasan untuk menyambut anggota baru. Berikutnya pementasan khusus para anggota baru, dan di akhir tahun pementasan sebagai evaluasi hasil latihan selama setahun ke belakang.

Selain itu, sekali dalam setahun juga diadakan Ketawang Mangun Roso atau silaturahmi dari berbagai angkatan.

“Untuk pentas di luar kampus, biasanya kami diundang dan tampil tidak hanya di depan sesama mahasiswa, tapi masyarakat luas. Seperti saat diundang acara 17-an di Magelang dan Purwodadi tahun lalu. Dalam lomba ketoprak yang diselenggarakan Universitas Gadjah Mada, kami juga ikut berpartisipas,”kata mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Jawa UNNES ini.

Sama halnya dengan komunitas lain, pasang surut jumlah anggota juga dialami oleh komunitas ini. Namun demikian, selama dua tahun belakangan, menurutnya komunitas ini cukup diminati.

“Perekrutan dalam dua tahun belakangan ini termasuk banyak. Tahun 2016 ada sebanyak 50 mahasiswa yang bergabung, tahun 2017 sebanyak 23 mahasiswa. Tapi memang pada akhirnya terseleksi dengan sendirinya, hanya sekitar 20-an yang hingga saat ini masih aktif,”ujarnya.

Karena itu, menurutnya, tantangan terbesar dari sisi internal adalah bagaimana menumbuhkan rasa suka, terlebih di tengah gempuran budaya dari luar. Sehingga mereka yang berada di dalam komunitas tetap bertahan dan terus berlatih, menikmati dan mengenalkan seni tradisional ini.

“Memang karena sebagian besar dialog menggunakan bahasa Jawa, ini juga bisa menjadi tantangan bagi mereka yang berasal dari luar Jawa. Tapi itu juga bukan hal yang tidak mungkin, karena buktinya banyak juga anak-anak dari luar Jawa yang bergabung dan mereka bisa,”kata perempuan asal Temanggung ini.

Sedangkan untuk ke luar, lanjutnya, tantangan terbesar adalah agar seni ini tidak ditinggalkan. Anak-anak muda masih mau menikmati bahkan turut melestarikan. Salah satu upayanya dengan menyisipi kondisi atau hal-hal yang sedang banyak diperbincangkan dalam segmen dagelan.

“Ada beberapa segmen yang memang sudah pakem, jadi tidak bisa diutak-atik. Tapi ada juga segmen yang bisa kami olah lebih luas, salah satunya di segmen dagelan. Disitu bisa kami sisipi oleh hal-hal yang kekinian,”ujarnya.

Ke depan, ia berharap apa yang telah dilakukan oleh komunitas ini dapat menginspirasi anak-anak muda lainnya. “Bukan hanya orangtua, tapi generasi muda juga diharapkan ada rasa memiliki kesenian ini. Mulai dari lingkungan terkecil, ayo kesenian asli kita ini bareng-bareng dijaga dan dikembangkan,”ajaknya. (*/aro)