GELAR PERKARA : Kapolsek Ngaliyan Kompol Donny Eko Listianto menunjukkan barang bukti saat gelar perkara, kemarin. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
GELAR PERKARA : Kapolsek Ngaliyan Kompol Donny Eko Listianto menunjukkan barang bukti saat gelar perkara, kemarin. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Hamsir Gailea, 26, pembunuh Sadikin Uma Sangaji, 35, mengaku emosi karena tersinggung oleh ucapan korban yang membawa nama marga keluarganya.

Pemuda yang akrab disapa Hamsir ini membeberkan, sebelum peristiwa terjadi, korban bersama rekanya menenggak minuman keras (miras) di Argorejo Sunan Kuning (SK) Semarang Barat, Sabtu (14/4) malam. Kemudian, Minggu (15/4) sekitar pukul 02.30, korban pulang ke kos di Jalan Untung Suropati, RT 1 RW 3, Kelurahan Kalipancur, Ngaliyan, sambil membawa botolan miras. “Setelah itu kita semua teler dan tidur,” ungkap Hamsir saat gelar perkara di Mapolsek Ngaliyan, Selasa (24/4) kemarin.

Sekitar pukul 05.30, pelaku bangun dan ke dapur memasak mi instan. Rupanya, korban juga ikut bangun kemudian menghampiri pelaku lalu menyodorkan sebilah pisau untuk menyuruh menusukkan di tubuhnya.

“Dia ngacau, saya dikasih pisau dapur disuruh nusuk tubuhnya. Bilangnya dia punya ilmu kebal, nggak mempan ditusuk dan saya disuruh mencoba,” ceritanya.

Hamsir mengaku awalnya tidak menuruti permintaan korban. Namun, ia akhirnya meladeni permintaan itu karena terpancing emosi dengan ucapan tantangan dan menyinggung nama marga keluarganya.

“Dia ngomong begini, ‘Marga kau Gailea kan, masa menusuk saja, kau punya marga Gailea tak berani’. Di situ, dia malah bawa-bawa marga saya,” terangnya.

Menurut Hamsir, membawa-bawa nama marga atau keturunan adalah sesuatu yang sangat pribadi. Sehingga hal itu sama saja seperti melecehkan harga diri dan keturunanya. Seketika itu, pisau yang disodorkan oleh korban langsung diambil kemudian ditusukan pelaku mengenai dadanya.

“Ya karena dia bawa-bawa nama marga saya. Akhirnya saya turuti, pisau saya tusukkan kena dada kirinya,” katanya.

Ternyata ucapan Sadikin yang punya ilmu kebal hanyalah bualan. Darah segar keluar mengucur deras dari dada kiri setelah pisau yang ditancapkan Hamsir dicabut. Merasa panik, Hamsir lantas berupaya menahan dada rekanya itu supaya tidak keluar darah.

“Saya bingung, saya tahan lukanya darah terus keluar. Akhirnya saya lap, dia (korban) saya bawa ke kamarnya, tubuhnya saya selimuti,” ujarnya.

Setelah itu, pemuda kelahiran 2 November 1992 ini membawa baju dan pisau tersebut keluar rumah. Merasa bersalah, Hamsir langsung minta diantar temanya ke kantor polisi.

“Saya panik karena dia tidak bernafas. Kemudian baju sama pisau saya buang ke sungai. Setelah itu saya menyerahkan diri ke kantor polisi,” katanya.

Menurutnya, perbuatan tersebut dilakukan karena khilaf. “Sebenarnya tidak ada niatan membunuh, ya karena jengkel sakit hati saja nama marga saya dibawa-bawa,” imbuhnya.

Sementara, Kapolsek Ngaliyan Kompol Donny Eko Listianto mengatkaan, Hamsir dikenakan pasal 338 atau 354 ayat dua KUHP tentang pembunuhan atau penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

“Mereka kan sama-sama mabuk, jadi wajar omongannya ngelantur itu yang memberatkan, kalau tidak mabuk mungkin kejadian ini tidak terjadi,” katanya. (mha/zal)