Ratusan Orang Hijrah Tanpa Utang dan Riba

1163
MEMOTIVASI : Pegiat Anti Riba, Saptuari Sugiarto saat memberikan motivasi dalam Seminar Nasional Bebas dari Jeratan Hutang dan Riba di Hotel Sae Inn, Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMOTIVASI : Pegiat Anti Riba, Saptuari Sugiarto saat memberikan motivasi dalam Seminar Nasional Bebas dari Jeratan Hutang dan Riba di Hotel Sae Inn, Kendal, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Selama masih terjerat hutang dan memakan uang riba, maka hidup seseorang tidak akan bisa tenang dan berkah. Karena itu, satu-satunya cara hidup tenang berkah dan mendapat ridho Allah, adalah melunasi utang yang menjadi pintu riba.

Demikian dikatakan Pengusaha dan Pegiat Anti Riba, Saptuari Sugiarto dalam Seminar Nasional bertajuk Bebas dari Jeratan Hutang dan Riba, Rezeki Berkah dan Berlimpah di Hotel Sae Inn, Kendal. Sebab menurut Saptuari memakan uang riba dalam Islam hukumnya jelaslah haram.

Dalam seminar yang dihelat oleh Komunitas Kendal Mulia Tanpa Riba (KMTR) itu, Saptuari menceritakan pengalaman pribadinya yang berkali-kali jatuh bangun karena terjerat utang bank dan memakan uang riba. Semua usahanya bangkrut, tempat usahanya terbakar sehingga asetnya ikut ludes.
“Bukannya usaha saya maju, justru saya bangkrut dan meninggalkan utang yang banyak. Sampai akhirnya saya mendapatkan nasihat jika memakan harta riba itu haram dan hidupnya tidak akan tenang,” kata CEO Kedai Digital itu.

Sejak itulah ia memutuskan untuk tidak lagi mengambil utang dan memakan uang riba. Ia memutuskan Kembali ke Titik Nol. Yakni sebuah titik kepasrahan kepada Allah SWT. Bahwa manusia tidak boleh takut, karena rezeki sudah diatur oleh Allah. “Maka bergantung saja kepada Allah,” tuturnya.

Sebab, jika memakan uang riba, tambah Saptuari, sama saja menentang perintah dan ajaran Allah dan Rasul-Nya. “Jika menentang, kita akan terjerumus dalam lembah kehancuran,” tuturnya di hadapan ratusan peserta yang hadir.

Ketua Panitia Pelaksana Seminar Nasional Bebas dari Jeratan Hutang dan Riba, Ahdiyat Rinto Fauzani mengatakan seminar ini merupakan bagian dari Gerakan KMTR untuk menyadarkan dan memberikan solusi umat dari masalah riba. Yakni dengan membangunn kesadaran umat akan bahaya dari praktik riba. Selain itu, memberikan solusi yang dibutuhkan umat agar terbebas dari jeratan utang dan riba. Caranya dengan bertaubat kepada Allah SWT, bertekad tidak akan berhubungan dengan praktik riba. “Selain itu, memperbaiki ibadah, memperbanyak sedekah, maka rezeki kita akan dijamin oleh Allah,” kata Ahdiyat.

Dikatakannya, jika Komunitas KMTR sendiri telah berdiri Februari 2017 lalu. Dari awalnya hanya beranggotakan 10 orang, saat ini anggotanya sudah 120 orang lebih. “Komunitas KMTR ini terjun ke masyarakat dengan pemahaman Fikih Muamalah, sehingga orang sadar mana yang halal dan haram,” katanya.

Selain KMTR juga membuat gerakan Resik-Resik Masjid. Gerakan ini dilakukan sepekan sekali setiap Jumat. Dan berkeliling dari satu masjid ke masjid lainnya. “Alhamdulillah berjalan setiap pekan dan sudah keluar kota Kendal, seperti Batang, Surakarta sampai ke Magelang,” tambahnya. (bud/sct/ida)