Pekerja Lembur Tapi kok Lambat

359
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG
NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM – PEMBANGUNAN Kampung Bahari Tambaklorok Semarang mulai kelihatan hasilnya. Setidaknya, jalan masuk menuju Kampung Bahari sudah lebar. Demaga baru pun sudah bisa dioperasionalkan. Hanya saja, beberapa pengerjaan lain seperti pasar, bisa dibilang belum seberapa.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Semarang, pembangunan Kampung Bahari dikerjakan serentak. Para pekerja berpencar mengerjakan pelebaran jalan, pasar, dan pernik lain yang masuk dalam grand design Kampung Bahari. Mungkin karena alasan itu, pengerjaannya tampak lambat.

Ketua RT 5 RW 13 Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Emas, Masrudi, menegaskan, sebenarnya warga ingin Kampung Bahari segera selesai. Bukan karena merasa terganggu dengan pengerjaan pembangunan, tapi karena warga setempat memang mengidamkan ada spot wisata dan UMKM baru. “Kami mendukung pengerjaannya. Tidak terganggu kok. Kami malah ingin segera selesai. Minimal jalannya sudah bagus. Dulu kan kumuh,” terangnya.

Nelayan tambak ikan bandeng ini mengaku heran. Pengerjaan dilakukan saban hari tanpa henti, tapi tak kunjung jadi. Padahal proyek ini sudah berlangsung sejak 2017 silam. “Pekerjanya hampir tak pernah nganggur. Garap terus. Tapi kok lambat ya. Hanya dermaga yang sudah jadi,” katanya.

“Itu pun banyak perahu hancur karena dampak dermaga baru. Sebab, sepertinya dari segi arsiteknya arah membangunnya kurang pas. Seharusnya ke timur laut, bukan langsung menghadap laut. Kalau ada gelombang ombak dari barat sama juga mengarahkan kapal,” jelasnya.

Jika melihat masterplan atau perencanaan Tambaklorok sebagai Kampung Bahari, Marsudi merasa kagum. Sepengetahuannya, selain membenahi dan melebarkan akses jalan, nantinya akan dibangun rumah susun, tempat bermain, hingga tempat pelelangan ikan.

Lurah Tanjung Emas, Margo Haryadi, menambahkan, pembangunan Kampung Bahari nyaris tanpa kendala. Semua pekerja sudah dikerahkan sebagai upaya percepatan. “Kan semua ada tahapannya. Kaitannya dengan pembangunan sarana prasarana untuk mempersiapkan menuju Kampung Bahari,” terangnya.

Terkait pelebaran jalan, dia mengaku memang belum bisa tuntas. Sebab, sebagian bidang masih dalam proses pembebasan lahan. “Pembebasannya sudah hampir 100 persen. Tinggal garap saja. Tidak ada protes dari warga. Malah mereka ingin punya akses jalan yang bagus dan nyaman,” katanya.

Meski tak ada penolakan, Margo tetap memberikan pendampingan dan sosialisasi kepada warga setiap waktu. Sosialisasi itu terkait rencana ke depan Kampung Bahari. Sebab, nantinya akan ada potensi-potensi dari warga setempat yang bisa dikembangkan untuk mendongkrak perekonomian.

Sesekali, sejumlah OPD (organisasi perangkat daerah) seperti Dinas Priwisata, Dinas UMKM, Dinas Perikanan, dan Bappeda juga memberikan pendampingan dan penyuluhan. Kaitannya dengan mengajak warga untuk lebih sadar wisata dan berjualan. Bagaimana memperlakukan wisatawan, menawarkan produk, membuat produk yang eye catching, dan lain sebagainya.

“Saya pribadi berharap, Kampung Bahari nantinya bisa memberikan dukungan kesejahteraan bagi warga setempat. Yang berkunjung ke sana kan banyak. Mereka bisa berbenah diri, menjaga lingkungan,” harapnya. (amh/aro)