Beli Produk Pakai Kreweng, Pedagangnya Berkain Kebaya

Sulap Hutan Kota jadi Pasar Tradisional Minggon Jatinan

1006
TRANSAKSI – Pengunjung saat membeli makanan di Minggon Jatinan Pusat Jajan Tradisional Batang di Hutan Kota Rajawali. Selain berkonsep tradisional juga menggunakan alat beli khusus berupa kreweng. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
TRANSAKSI – Pengunjung saat membeli makanan di Minggon Jatinan Pusat Jajan Tradisional Batang di Hutan Kota Rajawali. Selain berkonsep tradisional juga menggunakan alat beli khusus berupa kreweng. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

Untuk melestarikan makanan tradisonal dan menghidupkan geliat usaha mikro kecil menengah (UMKM), Pemkab Batang menggelar even wisata baru Minggon Jatinan. Wisata ini terletak di Hutan Kota Rajawali Batang.

BATANG, Lutfi Hanafi

RADARSEMARANG.COM – RIBUAN warga sudah sejak pagi memadati lingkungan sekitar Hutan Kota Rajawali di Jalan Dr Sutomo Kabupaten Batang.  Hutan kota yang juga terletak di Jalan Jenderal Sudirman jalur pantura utama ini, juga sempat membuat kemacetan di sekitarnya.

Antusias masyarakat tersebut tak lain karena ada dua kegiatan di lokasi tersebut. Selain ingin berpartisipasi dalam festival kuliner Minggon Jatinan, ratusan ibu-ibu Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Batang akan mengikuti upacara Hari Kartini.

Antrean panjang terlihat dari pintu masuk area Minggon Jatinan. Meski saling berdesak-desakan masyarakat tetap tertib. Lokasi ini sebenarnya tiap akhir pekan sudah ramai orang berwisata, ditambah adanya festival membuat suasana lebih ramai lagi.

Ketika masuk di area hutan jati ini, pengunjung bisa menjelajahi seluruh area, yang mana di beberapa titik  ada lincak (stan kuliner, Red). Menyajikan berbagai macam menu tradisional, makanan, minuman, camilan. Juga, permainan dan hiburan.

Lebih unik, semua pedagang di setiap lincak, juga mengenakan pakaian tradisional. Ada yang berkebaya, pakai jarit, kaum pria berkain batik dan baju khas Jawa dilengkapi udeng atau topi petani. Masuk area ini, seakan kita berada di pasar tradional di zaman kerajaan lampau.

Cara penyajian kuliner juga dikemas dengan sentuhan kuno. Pembayarannya pun menggunakan menggunakan kreweng. Berupa kepingan uang yang dibuat dari tanah liat. Di dalamnya ada tulisan uang kreweng. Nilai tukarnya, 1 keping kreweng senilai Rp 2 ribu.

Direktur Madrasah Bisnis Nurochman As-Sayyidi penggagas even ini, menjelaskan Minggon Jatinan diambil dari kata Minggu dan pohon jati.

“Minggon maksudnya digelar hari Minggu, jatinan artinya di hutan jati karena di sini hutan jati,” jelas ustad ahli bisnis ini kepada Radar Semarang, saat pembukaan even, Minggu (22/4/2018).

Pihaknya memang ingin menampilkan berbagai budaya dan kuliner khas Batang.  Dalam penyajian dengan konsep back to tradisional atau kembali ke tradisi. Itu memiliki konten empat aspek yaitu edukasi, hiburan rakyat, kuliner dan wisata halal.

“Sementara di sini ada 27 jenis kuliner, dari menu pecel-pecelan, godog-godogan, minuman jamu, kopi. Juga ada nasi liwet yang sangit, nasi jagung, srabi Kalibeluk yang dikemas secara tradisional,” ungkapnya.

Setelah resmi dilaunching Bupati Batang Wihaji, Minggon Jatinan akan buka setiap hari Minggu, dari pukul 06.00 hingga pukul 12.00. “Kegiatan Minggon Jatinan ini sebagai upaya pemerintah daerah menggeliatkan usaha makanan tradisional, yang selama ini sudah mulai punah,” ucap Wihaji usai membuka even tersebut bersama Wakil Bupati Batang Suyono.

Wihaji juga berharap ada inovasi dan kreativitas dari setiap penyajian. Karena semua harus benar-benar makanan tradisonal dan khas. Sehingga Minggon Jatinan bisa menjadi daya tarik wisatawan. Diharapkan bisa menjadi destinasi wisata baru, untuk mendukung kunjungan wisata 2022. (*/lis)