Menapaki Eksotisme Hutan Tapak Tugu

1080
EKSOTIS: Hutan mangrove di wilayah Tapak Tugu, selain melindungi pesisir dari bahaya abrasi juga tengah dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
EKSOTIS: Hutan mangrove di wilayah Tapak Tugu, selain melindungi pesisir dari bahaya abrasi juga tengah dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – KOTA Semarang punya potensi wisata baru. Sebuah kawasan konservasi yang terletak di pelosok Barat Kota Semarang, tepatnya di Desa Tapak, Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu memberikan alterinatif tempat berlibur yang tidak jauh dari Kota Semarang.

Lokasi yang dikenal dengan Kawasan Konservasi Eco Eduwisata Tapak Tugu ini berada sekitar dua kilometer dari jalan utama Semarang-Kendal. Setelah melewati Gapura bertuliskan Jalan Tapak Raya, kita masih harus menempuh perjalanan berkelok-kelok sejauh kurang lebih dua kilometer. Jawa Pos Radar Semarang menempuh waktu sekitar 10 hingga 15 menit dari jalan raya Semarang-Kendal menuju kawasan konservasi.

Sesampainya di lokasi, koran ini langsung disambut oleh Eko Nugroho. Dia, adalah satu kawan yang tergabung dalam Komunitas Perkumpulan Pemuda Peduli Lingkungan Tapak (Prenjak). Komunitas ini yang membantu warga sekitar desa Tapak untuk merawat Kawasan Konservasi tersebut.

Eko juga ditemani oleh pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Sutopo. “Mau jalan kaki atau naik perahu? Tapi saran saya sih pakai perahu saja, lebih seru,” tutur Eko menawarkan.

Kami akhirnya memutuskan untuk merasakan sensasi menunggang perahu menyusuri tambak dan hutan mangrove menuju muara. Untuk kelompok satu perahu diisi 10 orang kita harus merogoh kocek Rpr 250 ribu. Harga tersebut, untuk mengganti ongkos operasional perahu nelayan selama kurang lebih 3 hingga 4 jam.

Kawasan konservasi ini memiliki luasan sekitar 664 hektare. Beragam jenis fauna terdapat di kawasan tersebut. Eko mengatakan, usia tanaman mangrove disitu beragam. Bahkan yang paling tua usianya bisa sampai puluhan tahun.

“Karena kami bukan yang mengawali, penanaman mangrove sudah dilakukan nenek moyang sejak tahun 1960-an. Hanya saja mereka tidak tahu sebesar apa manfaatnya. Nah kami ini meneruskan dan merawat yang sudah ada,” ujar Eko.

Menyusuri area pertambakan menggunakan perahu ini memang memiliki sensasi berbeda. Salah satunya adalah ketika perahu membawa kami memasuki terowongan mangrove. Disebut terowongan lantaran bagian ranting dari mangrove yang tumbuh besar di kedua sisi, telah menyatu sehingga membentuk terowongan.

Rindangnya hutan mangrove disini pun mengundang hadirnya sejumlah fauna yang jarang ditemui di daerah perkotaan. Sedikitnya ada 52 jenis burung yang bernaung diteduhnya hutan bakau ini. “Disini ada satu jenis burung yang cukup aneh. Burung kuntul besi, besar sekali bentuknya, bahkan kuat mengangkut orang alias pesawat,” ucap Eko tertawa.

Kawasan konservasi ini memang berdekatan dengan runaway bandara internasional Ahmad Yani Semarang. Pemandangan pesawat lepas landas dan take off menjadi daya tarik tambah untuk wisata ini.“Rencananya, nanti kami akan menambahkan dua gardu pandang. Satu di tengah-tengah hutan mangrove, satu lagi di dekat muara,” imbuhnya.

Setelah puas berkeliling, Eko dan Topo mengajak koran ini untuk bersantai menikmati kuliner andalan disana. Kuliner tersebut adalah Kepiting Saus Tapak dan Udang Masak Tepung.

Kawasan Konservasi Eco Eduwisata Tapak Tugu ini, cocok dijadikan sebagai short gataway atau pelarian singkat dari hiruk-pikuk Kota Semarang. Saat ini, kawasan konservasi ini masih dibuka untuk umum. Belum ada loket untuk penarikan tiket masuk bagi pengunjung. Bagi anda yang tak sempat berlibur padahal sudah suntuk, destinasi ini sangat cocok dijadikan pelarian liburan hemat di akhir pekan anda. (tsa/bas)