Kampung Bengkel Vespa, Kini Tinggal Nama    

Hartono pilih Buka Bengkel di Rumah

567
TETAP DICARI : Banyak pelanggan mempercayakan vespanya ke Hartono yang beralamat di Jalan Anjasmoro 6 nomor 46 Kota Semarang. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP DICARI : Banyak pelanggan mempercayakan vespanya ke Hartono yang beralamat di Jalan Anjasmoro 6 nomor 46 Kota Semarang. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – SALAH satu kampung bengkel terkenal lain yang ada di Kota Semarang adalah Kampung Bengkel Vespa, di Jalan Sahidan, Kawasan Jalan Pemuda, Pandansari, Semarang. Ketika Jawa Pos Radar Semarang menyambangi kampung tersebut, tidak tampak satupun kios atau lapak bengkel vespa.

“Ada biasanya Pak Saiful, mbak. Tapi nggak buka. Coba saja ke tempat Pak Hartono, di Anjasmoro,” ungkap seorang Pedagang Kaki Lima yang enggan disebut namanya.

Sesampai di alamat yang diberikan, Jalan Anjasmoro 6 nomor 46 tampak seorang wanita paruh baya duduk di atas sebuah vespa sespan modifikasi. Kerap disebut Bu Har, dialah sosok istri Hartono. Salah satu pemilik bengkel di Kampung Bengkel Vespa. “Tunggu sebentar ya, bapak baru shalat. Ini tadi kebetulan baru nggarap juga,” ujarnya ramah.

Ketika ditemui, Hartono tampak mengenakan kaos berwarna putih dan celana pendek. Senyumnya tersungging menyapa kehadiran Jawa Pos Radar Semarang. Tak perlu lama, Hartono mulai menceritakan sepak terjangnya di perbengkelan Vespa.

Kampung Bengkel Vespa di Sahidan saat ini bisa dikatakan sudah bubar. Bangunan kios tempat para PKL dan bengkel tersebut telah berubah menjadi sebuah bangunan restoran mewah. Meski begitu, para pengusaha bengkel dan PKL tidak masalah, karena administrasi diselesaikan dengan baik. “Sudah tinggal saya dan Pak Saiful. Bukanya itu pakai tenda. Saya sendiri setahun terakhir sudah milih kerja santai di rumah,” tutur pria berkumis ini.

Hartono menyebutkan, lapak bongkar pasang tersebut merupakan kebijakan dan kesepakatan antara pebengkel dengan pihak pengelola gereja. Sebab, lahan yang digunakan merupakan area parkir dari Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI). Sesuai perjanjian, para pelapak dapat menggelar bengkel maupun angkringannya mulai pukul 08.00 hingga 05.00.

Keadaan tersebut, awalnya tidak dipermasalahkan. Namun, seiring waktu Hartono mulai merasa lelah. Akhirnya sejak akhir 2017, ia memutuskan untuk membuka bengkel di teras depan rumahnya. Pria kelahiran 54 tahun yang lalu ini mengaku tak ngoyo untuk mengerjakan motor.

“Sekarang sudah santai, Alhamdulillah dari bengkel vespa ini, anak saya tiga sudah sarjana semua. Jadi sekarang tidak ngoyo, kalau ada yang datang ya dikerjakan, kalau tidak ada ya tidak apa-apa,” jelasnya.

Hartono mengaku, menjadi montir bukanlah cita-citanya. Pekerjaan ini semata-mata karena dirinya tidak dapat meneruskan pendidikan sarjana lantaran kondisi ekonomi keluarga. Namun, di balik itu semua ia tetap bersyukur. Sebab, ia sudah menjadi montir vespa di era keemasan motor antik tersebut yakni antara tahun 80-90-an.

“Dulu itu, setelah saya lulus SMA Masehi 1, saya langsung ikut Pak Gendut alias Pak Istihadi. Dia juga salah satu yang babat alas Kampung Bengkel Vespa. Tidak lama, ada rejeki, saya punya kios sendiri,” kenangnya.

Pasang surut dunia bengkel tentu saja terjadi. Apalagi vespa yang mulai ditinggalkan di era tahun 2000-an. Hartono menyebutkan, habisnya vespa di Semarang terjadi lantaran adanya pembeli dari luar Kota Lunpia yang tidak pulang tanpa membawa sedikitnya 10 unit vespa. “Dulu kan murah, Rp 150 ribu saja sudah dapat. Sekarang? Harganya fantastis semua dan langka,” kata dia.

Lebih dari 30 tahun menjadi montir spesialis vespa, membuatnya memiliki banyak pelanggan. Bahkan, salah satu dari pelanggan selalu mempercayakan vespa-vespa koleksinya untuk di-rumat oleh Hartono. Pelanggan itu pula, yang memberikan satu vespanya untuk bapak tiga anak ini. “Senang banget, saya bersyukur luar biasa. Itu vespa tahun 1981. Masih bagus. Sekarang saya pakai kemana-mana,” akunya.

Menurut Hartono, pemilik bengkel yang ada di Kampung Bengkel Vespa hanya ada empat bengkel. Antara lain milik Istihadi alias Pak Gendut, Parmanto, Hartono sendiri memiliki dua kios yang ia kelola bersama kelima anak buahnya saat itu. Kini, Hartono nyaris tak memiliki montir. Hanya adik kandungnya yang masih senang membantu.

“Montir-montir yang dulu malah beberapa sudah mendirikan bengkel sendiri. Saya tidak masalah, justru bangga. Artinya, ilmu yang didapat sama saya, bisa manfaat buat dirinya sendiri,” katanya.

Tak banyak kenangan Kampung Bengkel Vespa yang diingatnya. Kecuali, Kampung Bengkel Vespa Sahidan menjadi salah satu yang terkenal bahkan hingga keluar daerah. Meski Hartono menyebut Kampung Bengkel Vespa tinggal nama, namun para pelanggannya masih terus berdatangan. “Rejeki kan memang tidak salah alamat. Sudah tidak buka di Sahidan, masih ada yang cari saya, bela-belain ke rumah, ya saya layani,” tandasnya. (tsa/ida)