Oleh: Drs Fajar Haryono
Oleh: Drs Fajar Haryono

RADARSEMARANG.COM – SUDAH menjadi pemandangan umum dinding-dinding kelas, pagar, toilet, maupun dinding lainnya pada fasilitas umum termasuk tidak jarang di lingkungan sekolah  penuh dengan corat-coret sebagian anak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga hal ini sangat mengganggu pemandangan. Terkesan kotor bahkan mengarah ke kumuh, bahkan kadang ditemui kalimat-kalimat yang kurang etis. Ini jelas perbuatan siswa jahil, meskipun dengan alasan sebagai ungkapan ekspresi diri. Jika dibiarkan terus – menerus bisa mengarah karakter yang buruk yakni vandalisme. Semangat berekspresi siswa ini tidaklah buruk jika diolah dan diarahkan, sehingga tersalurkan menjadi energi positif untuk menghasilkan karya yang bernilai estetis.

Vandalisme memiliki arti perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya). Di dalamnya termasuk perilaku yang tidak baik, buang sampah sembarangan, corat-coret di ruang publik. Dampaknya  di antaranya berupa perusakan lingkungan, menggangu ketertiban, mengganggu keindahan dan kenyamanan orang lain, ini tidak bisa dibiarkan.

Grafitti sebagai salah satu media seni menawarkan sebuah alternatif dari kebuntuan akspresi diri siswa sekaligus pemanfaatan  dinding sekolah yang selama ini kurang mendapatkan sentuhan nilai seni. Grafitti berasal dari bahasa Yunani “graphein” yang memiliki arti menuliskan.

Menurut Wikipedia.Org mengartikan bahwa grafitti adalah  coretan pada dinding atau permukaan di tempat-tempat umum atau tempat pribadi. Coretan tersebut bisa berupa seni gambar atau hanya berupa kata-kata. Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa itu grafiiti digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu.

Grafitti juga memiliki arti coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi unsur garis, warna, bentuk dan volume untuk menuliskan kata, simbol atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini berupa cat semprot.

Perkembangan seni grafitti di Indonesia pada awalnya lebih banyak di jalanan. Pada masa perang kemerdekaan grafitti menjadi alat propaganda yang efektif dalam menggelorakan semangat melawan penjajah. Keberanian menuliskan pesan dalam bentuk grafiti bisa jadi mempertaruhkan nyawa si pelakunya. Pelukis Affandi misalnya pernah membuat slogan yang bertuliskan “Boeng Ayo Boeng” ia menuliskannya di tembok-tembok jalanan.

Karya seni grafiti identik dengan tembok di jalan raya, di rumah-rumah tua tak berpenghuni atau lahan kosong. Di dalamnya tidak hanya menawarkan gambar yang indah secara estetik, tetapi juga kadang pesan yang menggelitik, karena memuat kritik. Kini mulai masuk ke ruang privat seperti galeri, museum, hotel dan lembaga pendidikan.

Bimbingan serta arahan guru yang berkaitan dengan pemilihan bahan dan alat untuk membuat grafiti serta konsep desain sangat diperlukan, sehingga diharapkan mampu mewujudkan proses kreatif yang positif pada diri siswa. Pertimbangan dan saran dari seluruh warga sekolah juga penting untuk masukan dalam menentukan lokasi dinding-dinding yang akan dijadikan sebagai media grafiti oleh para siswa.

Usia sekolah pada masa pendidikan dasar merupakan usia emas yang harus dioptimalkan sedemikian rupa. Seiring bertambahnya usia, anak harus diberikan sebanyak mungkin informasi. Baik melalui pembelajaran di kelas, maupun informasi tak langsung seperti gambar dan lain sebagainya.

Di sinilah pentingnya dinding-dinding sekolah diberikan sentuhan yang lebih baik. Agar siswa bisa mengekspresikan dirinya dengan cara yang etis sekaligus penuh estetika dan tanggung tanpa harus sembunyi-sembunyi.

Dalam karya grafitti dapat dibuat mengambil kalimat-kalimat yang mengandung pesan maupun kritik positif yang mengarah pada kemajuan dan prestasi sekolah. Pewarnaan sangat penting dalam pembuatan grafitti, tentu saja karakter huruf juga diperhatikan, warna-warna cerah, kontras tetapi keharmonisan tetap terjaga akan membuat karya grafitti  tampak lebih menarik  dan nyaman untuk dinikmati. Pada gilirannya kepolosan dinding sekolah yang tiada arti dapat dimanfaatkan menjadi karya seni yang unik. Maka dari kerja sama guru seni budaya dan siswa yang baik karya senipun tercipta.

Kegiatan ini juga menjadi pembelajaran akan pentingnya kerja sama yang baik untuk bisa menghasilkan karya seni. Dengan modal yang  tidak harus mahal, serta melalui arahan guru siswa bisa menemukan media dan ide. Hasilnya adalah karya seni yang bernilai estetis, tanpa merusak ekosistem yang ada. Jika guru seni bisa mau berkreasi maka pembelajaran seni budaya di jenjang SMP bisa lebih baik lagi, menyenangkan dan siswa bangga dibuatnya. (tj3/2/aro)

Guru SMP Negeri 2 Mojotengah, Wonosobo