Desain Interior Praktis dan Efisien

Ubah Mobil Jadi Food Truck

1867
KREATIF : Maruji Suseno, pemilik Dakota Food Truck dan sejumlah karyawannya. Dia menyulap mobil VW Combi Brasil keluaran tahun 1984 menjadi resto berjalan. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)
KREATIF : Maruji Suseno, pemilik Dakota Food Truck dan sejumlah karyawannya. Dia menyulap mobil VW Combi Brasil keluaran tahun 1984 menjadi resto berjalan. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)

RADARSEMARANG.COM – Modifikasi bukan sekedar untuk membuat penampilan mobil berbeda dan lebih kece. Namun mobil ternyata juga bisa digunakan untuk kegiatan niaga atau jual beli makanan ataupun minuman. Salah satunya dengan mengubah mobil menjadi tempat berjualan atau disebut food truck.

Tren food truck ini pun mulai ramai di Indonesia dengan mengubah tampilan mobil dan fungsinya untuk transaksi jual beli. Mobil yang digunakan pun harus mengalami perombakan dan desain khusus agar menarik pelanggan. Mulai dari interior hingga eksterior. Biasanya jenis mobil yang dipakai adalah mobil-mobil dengan bodi bongsor, mulai Grand Max, hingga VW Combi.

Maruji Suseno, pemilik Dakota Food Truck menyulap mobil kesayangannya yakni VW Combi Brasil keluaran tahun 1984 menjadi resto berjalan. Pria asal Tulungagung Jawa Timur ini melakukan perombakan besar-besaran dari interior mobil hingga bagian eksterior. “Biar didalam kabin lebih lega, saya memanjangkan bodi 90 sentimeter. Konsep awalnya memang untuk food truck, jadi interiornya diubah agar lebih praktis dan efiisen,” katanya sata ditemui di Culinary Festival Kota Lama, kemarin.

Ketua Komunitas Food Truck Tulungagung ini membeberkan, dengan menggunakan food truck, mobilitas dalam berpindah akan lebih mudah. Setiap car free day atau event tertentu ia pun ikut untuk berjualan termasuk di Kota Lama kemarin, dari Tulungagung menurunkan 5 anggota Komunitas Food Truck. “Ada yang pakai Grand Max , namun kalau memakai VW saya kira lebih menjual dan lebih unik,” jelasnya.

Keputusan mengubah VW kesayangannya menjadi mobil food truck sebenarnya sangat sepele. Pria yang punya usaha garmen ini, pencinta mobil-mobil VW dan gemar melakukan touring. Kemudian ide bisnisnya muncul bagaimana bisa touring, namun tetap bisa menghasilkan uang.

Kemudian terfikir untuk menekuni bisnis kuliner, dalam melakukan modifikasi ia mengaku harus ada konsep yang kuat agar lebih tepat guna dan menarik. Selain itu, tidak boleh mengkesampingkan sisi kenyamanan dan keamanan dalam berkendara. “Dari bagian bodi luar saya lakukan pemotongan atap dan jendela samping, setelah dipotong dipasang hidrolis agar bisa dibuka dan ditutup. Kemudian pada bagian atap saya tambah braket guna memasang tenda sebagai pelindung panas dan hujan,” ucapnya.

Dari segi interior, Suseno menggunakan material kayu pinus yang ringan sebagai desain kitchen set. Didalamnya diisi pemanggang, kompor dan penggorengan, magiccom, sampai freezer untuk menyimpan es batu dan bahan baku masakan. Didalam mobil, ia juga menempatkan beberapa apar untuk keamanan selama memasak. “Sebenarnya gas hanya dipasang saat memasak saja dan dalam keadaan kondisi mati, selain itu untuk memasak dengan partai besar, saya juga menggunakan kompor diluar mobil, karena untuk memasak dan berkendara tidak boleh asal-asalan serta harus mengedepankan keamanan,” ucapnya.

Suseno sendiri menjual aneka makanan dengan bahan baku ayam. Misalnya ayam penyet, ayam keju dan lainnya. Selain itu juga aneka minuman yang berbahan baku susu segar, sampai es teh. Untuk memodifikasi VW Combi miliknya mejadi food truck, ia pun harus mengeluarkan budget yang cukup besar yakni Rp 70 juta dengan pengerjaan selama 1 tahun. “Kalau masalah perawatan tidak begitu ribet, kemarin jalan dari Tulungagung ke Semarang juga tidak ada kendala, yang penting rutin diservis dan ganti oli,” pungkasnya. (den/ric)