Drs H Kastolani, M.Ag., Ph.D
Drs H Kastolani, M.Ag., Ph.D

RADARSEMARANG.COM – Pak Olan, nama sapaan dari Kastolani ini cukup populer di kalangan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Mulai dari office boy, satpam hingga mahasiswa tahu betul dengan pejabat IAIN yang satu ini. Sosok yang low profile dan tidak pandang profesi, serta pandai berkomunikasi dengan semua lapisan warga kampus, membuatnya dikenal.

Kastolani kini menjabat Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan  IAIN Salatiga. Bagi dirinya menjadi bagian dari jabatan pimpinan itu bukan berarti hanya menunggu laporan melainkan harus turun ke lapangan.

Baginya, yang terpenting tahu seluruh seluk beluk kebutuhan kampus dari rektor, para pejabat, dosen, karyawan, satpam, OB hingga mahasiswa, termasuk kebutuhan tamu. Jika semua diketahui, maka menjadi tahu langkah yang akan diambil. “Menjadi wakil pemimpin itu tidak perlu berlama-lama duduk di kursi kantor, yang terpenting adalah turun dan cari permasalahan dengan dialog warga kampus,” ujarnya.

Menurutnya, yang dibutuhkan adalah tanyakan jika ada masalah, apa solusinya berikan mereka ruang untuk berkreasi memecahkan. “Jika belum teratasi maka jadikan persoalan yang ada menjadi bahan rapat dengan pimpinan,” papar Kastolani saat ditemui di ruang kerjanya lantai II kampus 3 IAIN.

Menurutnya, perencanaan menjadi kunci dalam membangun suatu lembaga. Dia kini diberi amanah untuk menduduki Wakil Rektor II oleh Rektor. Jabatan tersebut adalah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. “Sekecil apapun amanah yang diberikan, kerjakan dengan cara yang luar biasa dan sungguh-sungguh. Kenapa sungguh-sungguh, karena dalam kesungguhan itu sudah pasti ada keikhlasan,” katanya.

Apalagi, posisi tersebut menurut Kastolani merupakan kesempatan untuk mengubah sekian persoalan kampus yang ada. Kekuasaan adalah faktor utama untuk mengubah kekurangan. Dulu ketika belum memiliki wewenang, dia cuma bisa tahu permasalahannya saja. Usul dalam rapat belum tentu diterima, namun sekarang ada kesempatan untuk mengubah hal-hal yang kurang untuk menjadi lebih baik.

Kastolani mencontohkan seorang Rektor di India, setiap hari berkantor di bawah pohon. Hal tersebut dilakukannya untuk mengetahui bagaimana dan apa yang dilakukan warga kampus. Selanjutnya Rektor tersebut mengerti apa kebutuhan kampus dan strategi programnya. Ia mengaku kagum dengan Rektor tersebut. Maka dia juga mempersilahkan bagi semua karyawan dan mahasiswa yang ingin minta tanda tangan atau konsultasi bisa dimana saja, tidak harus di ruang kerja.

“Saya ingin kerja cepat, mereka juga ingin pekerjaannya segera selesai, maka saya bisa ditemui di lobi, di pos satpam, di halaman parkir atau di mana saja saya berada,” terang pria yang akrab dengan awak media ini.

Dengan mahasiswa, Kastolani tidak ada jarak dan dianggap sebagai ayah. Tidak jarang, ia selalu bertanya bagaimana kabar, bagaimana kuliahnya, punya kegiatan apa, dan sudah mulai usaha apa.

“Bagi saya menjadi mahasiswa itu tidak boleh diam di kampus dengan tugas perkuliahan saja. Ada pelajaran lain yang lebih berharga dari sekedar kuliah yaitu mencari jatidiri dan mengembangkan potensi diri. Saya sangat menghargai mahasiswa yang bagus akademiknya, disamping itu memiliki usaha, dan membiayai dirinya sendiri,” ungkapnya.

Tidak hanya bertanya hal-hal pribadi tersebut, Kastolani juga tidak jarang bertanya kepada mahasiswa, apa yang dikeluhkan saat di kampus. Pernah ada mahasiswi yang mengeluh meja sering kotor usai perkuliahan. Selanjutnya dia memberikan tantangan kepada mahasiswi yang menyampaikan keluhan tadi bersama beberapa rekannya untuk membuat gerakan ruang kuliah bersih. Memang kebersihan kelas adalah tugas utama tenaga kebersihan, tapi tenaga kebersihan yang ada tentu tidak akan bisa bertugas seketika itu juga usai jam kuliah. Akhirnya mereka berdiskusi mencaci pemecahan masalah yaitu dengan melakukan kampanye bersih kelas. Eksekusinya dengan sosialisasi tidak meninggalkan sampah di kelas, dengan tulisan dan pengumuman. “Tantangan tersebut meski kecil tapi dampaknya dangat besar, bagi mahasiswa dan kampus,” ujarnya membeberkan.

Hal yang dianggap sepele tersebutlah yang dinilai Kastolani sebagai sesuatu yang detail. Jika ingin sesuatu yang lebih maka menurutnya harus  berpikir out of the box. (dhinar sasongko/ric)