Prostitusi Online Marak

2940

RADARSEMARANG.COM, TEGAL–Dulu para wanita Pekerja Seks Komersil (PSK) melakukan bisnis lendir dengan cara konvensional, seperti mangkal di emperan jalan atau lokalisasi. Seiring dengan perkembangan teknologi, sekarang cukup bermodal internet dan gadget bisa menarik pelanggan untuk menawarkan jasa prostitusi.

Sarana transaksinya bisa melalui Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, WeChat dan aplikasi BeeTalk. Khusus aplikasi yang disebut terakhir, berdasarkan penulusuran koran ini, paling banyak digunakan untuk bertransaksi esek-esek online. Kelebihan aplikasi BeeTalk, selain biasa digunakan sebagai medsos pencari teman di dunia maya (internet), ketika konsumen melakukan chat dengan si PSK akan segera terhapus. Dalam aplikasi ini, penerima pesan hanya bisa melihat kiriman dalam 10 detik, selanjutnya secara otomatis pesan terhapus.

Apapun yang dibicarakan tak akan meninggalkan bekas. Jika di-capture tak semua percakapan bisa tertangkap layar. Ini menjadi alasan kenapa aplikasi BeeTalk lebih disukai para pelaku prostitusi online. Kemudahan, aplikasi ini juga bisa memberitahukan keberadaan teman terdekat melalui Global Positioning System (GPS).

Berdasarkan penelusuran Koran ini, tarif prostitusi online bervariasi. Mulai Rp 500 ribu sekali kencan, hingga jutaan rupiah. Berbeda dengan tawaran pijat melalui online yang tarifnya mulai Rp 200 hingga Rp 500 ribu. ”Cukup mudah untuk bisa mengakses mereka (PSK, red). Tanpa harus datang ke lokasi, bisa langsung menentukan tempatnya,” terang Romi (nama samaran), 34, salah satu pengguna jasa prostitusi online.

Menurut Romi, dia pernah mencoba layanan pijat online, termasuk layanan BO. ”Hanya saja, jika tidak hati-hati bisa tertipu. Sebab, banyak akun abal-abal,” kata pengusaha muda asal Kota Udang, Cirebon, Jawa Barat, yang tinggal di perumahan elit di wilayah Kecamatan Tegal Barat tersebut.

Maksud akun abal-abal, lanjut Romi, yakni akun tersebut menggunakan foto palsu. Saat terjadi transaksi dan mentransfer uang muka, nomor yang sebelumnya bisa diajak komunikasi langsung hilang. Nomor konsumen diblokir.

Kejadian seperti itu pernah dialami Dulang, 30, (juga nama samaran). Dulang mengaku sempat menjadi korban aksi penipuan prostitusi online. Setelah mentransfer uang, dirinya sudah tidak bisa berkomunikasi lagi dengan pelaku. ”Untung saja uang yang saya transfer baru DP. Tapi tetap saja saya rugi,” katanya.

Riyadi KS, pengamat sosial sekaligus Ketua Relawan Pendidikan Kota Tegal mengatakan prostitusi online bukan cerita baru. Aplikasi chating merupakan satu di antara sarana untuk jual beli syahwat. Menurutnya, prostitusi yang memanfaatkan media daring harus diberantas.

Dia mengatakan, Polri bisa diandalkan karena punya bidang cyber crime. Harus bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) untuk memantau aktivitas prositusi online. Media online harusnya digunakan untuk hal positif, bukan digunakan negatif seperti ini. Sangat bahaya, namanya juga prositusi.

Media ini bisa diakses semua umur, lebih membuka peluang bagi gadis muda ikut terjerumus sebagai korban. Masalah ini bisa merusak generasi bangsa. ”Perlu peran semua pihak untuk meminimalisir pengaruh buruknya. Jangan sampai jatuh banyak korban. Penindakan juga bukan satu-satunya cara meminimalisir prositusi online. Upaya pencegahan masih terbilang lebih efektif. Di mulai dari keluarga, sekolah dan institusi keagamaan,” katanya.

Ketahanan keluarga juga perlu dipertahankan, termasuk menjalankan fungsi keluarga. Kasih sayang, rasa melindungi, sarana keagamaan dan pembinaan itu penting untuk pencegahan.

“Pendidikan di sekolah, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat harus ikut terlibat memberi penguatan. Bisa dikatakan pihak yang terjun ke dunia prositusi sebagai korban. Banyak motif sehingga akhirnya terjebak di dunia hitam ini,” ujarnya.

Motif paling klasik, kata Riyadi, yakni ekonomi, tapi perkembangan saat ini orang terjun ke prositusi tak hanya sekadar untuk mengisi perut. Justru lebih ke pemenuhan gaya hidup.

Urusan perut sebenarnya bisa mencukupi, tapi keinginan gaya hidup belum tentu terpenuhi dengan pendapatan yang terbatas. Motif lainnya bisa saja persoalan keluarga, pelarian dari masalah malah menjerumuskan ke dunia hitam, seperti prositusi. (gus/wan/fat/jpg/ida)